Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

WHO Kritik Keterlambatan Data Pes Rusia, Kremlin Bantah Wabah

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

WHO Kritik Keterlambatan Data Pes Rusia, Kremlin Bantah Wabah
BAGIKAN:

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan belum memiliki gambaran utuh mengenai dugaan kasus penyakit pes di Rusia, bahkan setelah seorang pekerja laboratorium di Siberia meninggal dunia pada 2 Oktober lalu. Kepala WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa badan internasional itu tidak bisa melakukan penilaian risiko secara menyeluruh karena informasi yang diterima masih bertentangan dan tidak lengkap. "Kami masih membutuhkan informasi lebih lengkap dari pemerintah Rusia," ujar Tedros, dikutip The Guardian pada 7 Oktober.

Insiden ini berpusat pada kematian Darya Shipilova, 28, seorang peneliti di institut anti wabah di Irkutsk. Ia meninggal hanya dua hari setelah mengeluh gejala mirip flu. Riak awal muncul ketika sejumlah laporan lokal menyebut Shipilova terinfeksi akibat kecelakaan di laboratorium, sebuah klaim yang langsung dibantah otoritas Rusia. Pemerintah Rusia menetapkan penyebab kematiannya sebagai pneumonia berpenyebab belum diketahui dan membantah adanya ancaman wabah pes.

Teguran keras terhadap Moskow datang langsung dari Gedung Putih yang meminta data transparan. Presiden Donald Trump sebelumnya menilai risiko wabah melintasi ke wilayah Amerika Serikat sangat rendah, namun ia menyatakan akan segera mendiskusikan isu ini dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Kremlin merespons dengan meredam wacana, dan bahkan menolak tawaran bantuan langsung dari Trump. Saat ini, Moskow menyebut belum ada jadwal pasti untuk pembicaraan telepon tersebut, meski komunikasi intens tetap mungkin dilakukan.

Sementara di tingkat lapangan, protokol keamanannya tak tertandingi. Otoritas Rusia menerapkan karantina ketat pada laboratorium dan rumah sakit terdekat. Para peneliti bahkan dilarang meninggalkan institut selama tiga hari penuh untuk menjalani pemeriksaan kesehatan. Di Irkutsk, petugas memakai peralatan pelindung lengkap saat menyemprotkan disinfektan ke bangunan tempat tinggal Shipilova, dan ada yang menyebut prosedur itu untuk membasmi hama kecoa, bukan pes.

Di balik dinding laboratorium, konflik naratif itu semakin panas dari dekat. Svetlana, ibu Shipilova, membantah keras cerita soal tabung pecah karena kecelakaan, karena menurutnya tidak mungkin pecah meski dilempar. Ia menyebut putrinya seorang pekerja yang sangat tulus dan bertanggung jawab, yang dituduh tanpa investigasi. Beberapa mantan teman sekelasnya juga ikut memprotes tuduhan itu yang dinilainya tidak logis dan tanpa dasar.

Analisis Redaksi

Pilihan Rusia untuk membantah sekaligus menutup mulut secara total justru memicu kecurigaan dari komunitas global. Dalam standar kesehatan internasional, transparansi data primer dan akses ke fasilitas penelitian adalah prasyarat mutlak, dan bukan soal politik semata. Dengan menutup akses data laboratorium secara penuh dan menolak bantuan AS, Moskow secara tidak langsung mengirim sinyal bahwa mereka enggan dicitrakan lemah atau terancam wabah, meskipun secara statistik risiko wabah lintas negara masih sangat kecil.

Ini adalah permainan risiko komunikasi yang sama dengan apa yang dihadapi Indonesia saat pandemi, hanya skala insidennya jauh lebih rendah. Jika memang tidak ada wabah, tindakan karantina ketat dan penyemprotan massal bisa dianggap sebagai bentuk kehati-hatian. Namun jika memang ada paparan yang lolos ke pekerja lain, maka keterlambatan data ini akan memperburuk respons mitigasi global di masa depan dan membuat standar transparansi epidemiologi runtuh.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ
WHO Kritik Keterlambatan Data Pes Rusia, Kremlin Bantah Wabah - Berita Hari Ini