Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Komdigi Tolak Rem AI, Dorong Safety by Design Hadapi Risiko Eksistensial

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: CNN Teknologi
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Komdigi Tolak Rem AI, Dorong Safety by Design Hadapi Risiko Eksistensial
BAGIKAN:

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) resmi menolak gagasan perlambatan riset

Meutya mengutip pendapat sejumlah pakar yang menyoroti bagaimana teknologi AI saat ini tidak membawa "safety by design" yang mencukupi. "Mungkin bukan perlambatan, tapi Indonesia termasuk negara yang mendorong agar AI, inovasi di dalam AI, dilakukan dengan lebih hati-hati dan safety by design," jelas. Kita perlu memberi waktu yang sepantasnya terhadap teknologi yang canggih, tetapi tidak boleh dilakukan tanpa proses mitigasi yang benar.

Berita ini muncul di tengah riuhnya seruan dari CEO Anthropic Dario Amodei yang meminta perusahaan AI memperlambat peningkatan kemampuan model. Seruan tersebut muncul setelah sejumlah peneliti memperingatkan adanya risiko eksistensial dari perkembangan AI. CEO OpenAI Sam Altman dan pemilik xAI Elon Musk kemudian secara terbuka mendukung seruan Amodei.

Di sisi lain, CEO Meta Mark Zuckerberg berpendapat bahwa persaingan dan potensi tanggung jawab hukum sudah memberi cukup insentif bagi perusahaan AI untuk menjaga keamanan sistem mereka. Presiden AS Donald Trump juga mengecilkan kekhawatiran terhadap potensi bahaya AI, bahkan menyebutnya sebagai hoaks. Trump memperingatkan bahwa keraguan terhadap pengembangan AI justru bisa menguntungkan China, sejalan dengan pandangan CEO Nvidia Jensen Huang yang menganggap regulasi berlebihan dapat menghambat daya saing perusahaan AS.

Analisis Redaksi

Pendekatan "safety by design" yang didorong Komdigi merupakan respons strategis yang lebih produktif daripada sekadar rem darurat. Seruan perlambatan dari para CEO raksasa AI sebenarnya bukan murni kekhawatiran altruistik, melainkan sering kali berkedok persaingan bisnis untuk mengunci pasar. Dengan menekankan mitigasi risiko dalam desain, Indonesia memposisikan diri sebagai negara yang adaptif namun waspada, menolak narasi bahwa keamanan dan inovasi adalah dua hal yang bertentangan.

Yang perlu diwaspadai adalah fragmentasi regulasi global. Jika AS cenderung mengabaikan kekhawatiran dengan alasan daya saing, sementara Indonesia mengesah standar keamanan ketat, ada risiko terciptanya dua jalur teknologi yang berbeda. Perusahaan mungkin akan menyesuaikan diri dengan regulasi paling longgar (regulatory arbitrage) untuk menekan biaya. Langkah logis selanjutnya bagi Komdigi adalah membangun interoperabilitas teknis agar standar "hati-hati" Indonesia tetap relevan di pasar global, bukan terisolasi dari ekosistem AI internasional.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ