Gempa Bumi M5 Guncang Laut Flores, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Gempa bumi bermagnitudo 5,0 mengguncang wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (8/10/2026) pukul 07:48:59 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat pusat gempa terjadi di laut sekitar 92 kilometer utara Kota Ruteng dengan kedalaman 10 kilometer. Gempa ini dirasakan dengan intensitas III-IV Modified Mercalli Intensity (MMI) di wilayah sekitar pusat gempa, namun tidak menimbulkan kerusakan struktural berat yang signifikan hingga saat ini.
Warga di sekitar wilayah pesisir utara Flores dilaporkan panik dan berlari ke tempat tinggi untuk antisipasi gelombang pasang, meskipun BMKG telah memastikan bahwa gempa tersebut tidak memiliki potensi untuk memicu tsunami. Kepala BMKG, Teugu Saifuddin, menyatakan bahwa mekanisme sumber gempa yang dangkal dan lokasi episenter yang berada di zona tumbukan lempeng tektonik menjadikannya sebagai gempa intraplate atau interplate yang umum terjadi di wilayah Indonesia, namun dalam kasus ini, karakteristiknya lebih condong pada aktivitas sesar lokal. Petugas BMKG di lapangan masih terus memantau aktivitas seismik untuk memastikan tidak ada gempa susulan yang berpotensi merusak infrastruktur vital.
Analisis Pakar Geofisika
Dari sudut pandang geofisika, wilayah utara Flores terletak di pertemuan kompleks Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Sesar utama yang memengaruhi area tersebut adalah Sesar Flores, sebuah sesar transgresif yang memiliki komponen geser kiri (left-lateral strike-slip) dan naik (thrust). Gempa dengan magnitudo 5,0 pada kedalaman dangkal biasanya menunjukkan aktivitas di zona retakan yang belum terakomodasi secara penuh oleh pergerakan lempeng besar. Potensi tsunami untuk gempa darat atau sesar geser murni seperti Sesar Flores sangat kecil kecuali jika terjadi dislokasi signifikan pada kedalaman dangkal yang memicu perpindahan massa air secara horizontal. Namun, karena episenter berada 92 km dari pantai dan mekanisme yang dominan adalah geser, risiko tsunami dapat diabaikan. Peristiwa ini merupakan lanjutan dari aktivitas seismik yang kerap terjadi di kawasan Trans-Jawa dan Flores, di mana akumulasi tegangan tektonik dilepaskan secara berkala. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang namun waspada terhadap gempa susulan yang magnitudunya umumnya lebih kecil (di bawah M4) namun dapat dirasakan dalam beberapa jam ke depan sebagai bentuk penyesuaian kembali lapisan kerak bumi pasca-pelelepasan energi utama.