⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.1 di 19 km WNW of Tomohon, Indonesia pada 2/11/2026, 15.13.14. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.
Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Effenberg Menilai Sikap Ronaldo terhadap Jesus Salah, Ingatkan Saatnya Pensiun

OlahragaDimas PratamaDimas PratamaSumber: CNN Olahraga
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Effenberg Menilai Sikap Ronaldo terhadap Jesus Salah, Ingatkan Saatnya Pensiun
BAGIKAN:

Stefan Effenberg, legenda Bayern Munchen, menyatakan bahwa keputusan Cristiano Ronaldo untuk bertahan di level kompetitif pada usia 41 tahun adalah sebuah kesalahan besar. Kritik tajam ini dilontarkan menyusul pernyataan kontroversial Ronaldo yang mengungkapkan kekecewaan mendalam setelah tidak dimasukkan dalam starting XI timnas Portugal saat melawan Norwegia di UEFA Nations League. Bagi Effenberg, sikap tersebut mencerminkan kegagalan Ronaldo dalam memahami batasan fisik dan masa depan kariernya.

Sebelumnya, Ronaldo merilis pernyataan resmi yang membeberkan isi hati setelah meninggalkan skuat Portugal. Bintang klub Liga Super Qatari itu merasa dibohongi oleh pelatih Jorge Jesus, terutama terkait absennya ia di laga kedua babak grup kontra Norwegia. Perincian tersebut memicu perdebatan hangat di media sosial, yang kemudian langsung disambut dengan bantahan keras dari mantan gelandang timnas Jerman tersebut.

"Dia bukan lagi sosok Ronaldo yang kita kenang dengan begitu manis," kata Effenberg, dikutip dari T-online. Pria yang pernah meraih empat gelar Liga Jerman dan satu Liga Champions bersama Bayern Munchen itu menilai bahwa pada usia 41 tahun, Ronaldo semestinya sudah mundur dari kancah kompetitif tertinggi. "Seorang pemain perlu memahami bahwa sudah tiba waktunya untuk mundur. Namun, dia tidak memahami itu," tegas Effenberg.

Untuk memperkuat argumennya, Effenberg melakukan komparasi langsung dengan Lionel Messi. Pemain asal Argentina tersebut telah memutuskan untuk pensiun setelah laga internasional terakhir melawan Benin pada Rabu (7/10). Effenberg menilai keputusan Messi yang berujung pada pengucapan selamat tinggal di tengah kegagalan Argentina mempertahankan gelar juara beruntun pasca Piala Dunia 2026 adalah langkah yang arif dan tepat.

"Dan itulah sebabnya Messi akan berada di atas dia," ujar Effenberg yang kini berkarier sebagai pengamat di stasiun televisi. Perbandingan ini bukan sekadar soal statistik gol, melainkan tentang integritas terhadap transisi karier. Effenberg melihat bahwa Ronaldo terjebak dalam ego dan enggan menerima kenyataan bahwa tubuh manusia memiliki batas alamiah yang tidak bisa didorong dengan motivasi semata.

Analisis Redaksi

Kritik Effenberg menyentuh inti permasalahan yang sedang memusingkan banyak pengamat sepak bola: ego dan keberlanjutan karier di dekade keempat usia pemain top. Dengan menyatakan bahwa Ronaldo "tidak memahami" saatnya untuk mundur, Effenberg secara implisit menuduh sang megastar mengabaikan sinyal-sinyal fisik maupun performa tim. Dalam konteks Portugal yang berjuang di Nations League, keputusan Jesus untuk melewatkan Ronaldo adalah hak prerogatif taktis, dan reaksi Ronaldo yang memilih "buka suara" justru memperkeruh suasana internal tim. Bagi seorang legenda, menjaga harga diri sering kali berarti menerima kenyataan dengan senyap, bukan memperdebatkan keputusan pelatih secara publik.

Perbandingan dengan Messi menjadi poin kunci dalam analisis ini. Messi memilih pensiun setelah kegagalan mempertahankan gelar dua kali beruntun pasca Piala Dunia 2026, sebuah momen yang secara retrospektif terlihat lebih berkelas dan strategis. Dengan mengorbankan gelar juara ganda untuk mengakhiri karier, Messi melindungi warisan dan prestisnya. Di sisi lain, Ronaldo yang memilih tetap di kompetisi hingga usia 41 tahun berisiko menghadapi kritikan serupa jika performa timnya terus stagnan atau terpuruk. Efenberg mengingatkan bahwa ada batas antara menjadi ikon dan menjadi beban taktis bagi timnas.

Secara logis, langkah selanjutnya bagi Ronaldo adalah merespons kritik ini dengan pembuktian di lapangan, bukan lagi dengan pernyataan media. Jika ia bertahan di Liga Super Qatari atau klub lain, fokus harus kembali ke kontribusi nyata dalam sistem permainan tim, sebanding dengan usianya yang telah memasuki fase senja karier profesional. Ketidakmampuan menerima peran yang berkurang adalah tanda bahwa transisi ke pensiun telah sangat dekat, sebuah transisi yang semestinya direncanakan lebih matang oleh sang pemain sendiri agar tidak mengesankan kesan "ngotot" seperti yang dituduhkan Efenberg.

Meow! Tanya Nesi!
😸