Ace Hasan: Kesadaran Geopolitik Generasi Muda Kunci Ketahanan Nasional
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Lembaga Ketahanan Nasional Indonesia mendesak redefinisi pendidikan strategis bagi 66 juta generasi muda, berargumen bahwa pemahaman dinamika global bukan lagi eksklusif diplomat, melainkan kompetensi dasar untuk menghadapi guncangan geopolitik.
Gubernur Lemhannas RI Ace Hasan Syadzily menyampaikan hal itu saat menggelar kuliah umum di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 7 Oktober 2024. Ia menekankan bahwa kesadaran geopolitik kini harus menjadi modal ketahanan nasional di tengah ketidakpastian yang menyentuh sektor logistik dan energi secara langsung.
Dua contoh konkret menggambarkan betapa dekatnya dinamika global dengan kehidupan domestik. Ace mengutip eskalasi konflik Iran-Israel yang membahayakan Selat Hormuz, memicu lonjakan biaya logistik hingga 150-200 persen. Dampak serupa juga datang dari bencana longsor tambang Grasberg di Papua pada 2025, yang secara langsung mengurangi pasokan tembaga dunia dan mengancam stabilitas rantai pasok industri dalam negeri.
Dalam paparannya, Ace menuntut transformasi cara generasi muda memproses informasi. Dengan mengajukan lima pertanyaan kritis—mulai dari identifikasi aktor berkepentingan hingga dampak nasional—masyarakat didorong beralih dari penerima pasif ke aktor strategis. Ia juga menyoroti urgensi lima kompetensi menuju tahun 2045: kesadaran strategis, berpikir kritis, kesadaran kepentingan nasional, kompetensi global, dan literasi digital.
Pesan penutup Ace tegas: Indonesia harus mencipta, menguasai, dan mengamankan teknologi untuk mencegah ketergantungan. Jika tidak dipersiapkan, kecerdasan buatan dan alur informasi asing akan memperlebar kesenjangan keterampilan dan kerentanan bangsa terhadap propaganda.
Analisis Redaksi
Sinyal dari puncak lembaga pertahanan non-militer ini menandakan kesiapan menghadapi ancaman asimetris non-tradisional. Jika infrastruktur logistik dan tambang sudah terdampak langsung oleh konflik di Timur Tengah, maka kerentanan ekonomi domestik bukan lagi isu abstrak, melainkan tantangan sehari-hari yang menuntut respons adaptif dari semua lapisan masyarakat.
Keberhasilan agenda ini bergantung pada sinergi lintas sektor yang Ace sebutkan, yakni antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri. Tekanan untuk menjadikan generasi muda 'aktor' bukan hanya retoris, tetapi merupakan upaya antisipatif agar Indonesia tidak terjebak dalam jebakan nilai tambah rendah di rantai pasok global yang terus terdistorsi oleh friksi geopolitik.
Langkah logis berikutnya adalah mengintegrasikan modul literasi geopolitik ke dalam kurikulum sains dan teknik di perguruan tinggi, sebagaimana yang diharapkan dari ITB. Tanpa penguatan ekosistem teknologi dan kedaulatan data nasional, potensi 66 juta tenaga kerja muda berisiko sekadar menjadi penonton dalam pertarungan kekuatan global yang justru akan membentuk wajah Indonesia pada 2045.