Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Puluhan Ribu Demo di Paris, 15 Pelajar Kehilangan Tangan akibat Granat Bola

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Puluhan Ribu Demo di Paris, 15 Pelajar Kehilangan Tangan akibat Granat Bola
BAGIKAN:

Puluhan ribu demonstran diperkirakan turun ke jalanan Paris pada Selasa (6/10) untuk memboikot sistem pendidikan yang mereka anggap gagal. Aksi ini memperpanjang gelombang protes pelajar yang telah memblokir masuk ke ratusan sekolah menengah atas sejak akhir September. Para pengunjuk rasa menuntut perbaikan kondisi sekolah, mulai dari kekurangan guru, jadwal padat, hingga fasilitas fisik yang rusak dan tidak siap menghadapi kenaikan suhu.

Estimasi resmi mencatat 20.000 hingga 40.000 peserta akan hadir di ibu kota, dengan aksi serupa juga meluas ke berbagai wilayah lain di Prancis. Gabungan serikat pekerja resmi bergabung dalam barisan protes, menegaskan solidaritas mereka terhadap siswa. Namun, atmosfer di lapangan tidak sepenuhnya kondusif. Bentrokan sporadis telah mengakibatkan 215 siswa dan 715 petugas kepolisian mengalami luka-luka sejak gerakan ini bermula. Angka tersebut mencakup luka-luka pada 85 tenaga pengajar yang terjebak dalam kebingauan di sekolah-sekolah yang terdampak.

Insiden paling mengerikan terjadi pada Senin (5/10). Seorang pelajar berusia 15 tahun kehilangan satu tangannya setelah mengambil granat bola berduri yang ditembakkan oleh polisi anti huru-hara. Kementerian Pendidikan melaporkan bahwa 24 sekolah telah dibakar atau dijarah selama periode protes. Dampak akademik pun terukur nyata; gangguan belajar-mengajar melanda 589 dari total 3.700 sekolah menengah atas serta 32 universitas di Prancis. Sebagian besar aksi berlangsung damai, tetapi diwarnai perusakan halte bus, pembakaran tempat sampah, dan konfrontasi fisik yang memicu respons keras aparat keamanan.

Kesadaran politik dalam kasus ini terlihat jelas dari dua sisi. Perdana Menteri Sebastien Lecornu menyerukan agar demonstrasi tetap dalam kerangka damai dan legal, sementara pemerintah menuduh partai sayap kiri France Unbowed (LFI) berada di balik gerakan tersebut. Meskipun tokoh senior Jean-Luc Melenchon mendukung aksi, ia tetap mengedepankan metode non-kekerasan. Di sisi lain, organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International justru menuduh polisi menggunakan kekuatan secara tidak proporsional. "Gambar-gambar dan kesaksian yang beredar luas selama seminggu terakhir menimbulkan kekhawatiran yang mengkhawatirkan mengenai penggunaan gas air mata, tongkat, dan teknik kepolisian yang berbahaya," ujar Anne Savinel-Barras dari Amnesty International.

Menanggapi tuduhan tersebut, Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengakui pembukaan 10 penyelidikan internal terkait dugaan kekerasan. Data penegakan hukum menunjukkan lebih dari 5.000 orang telah ditangkap, dengan komposisi yang mencengangkan: sekitar 87 persennya adalah anak di bawah umur. Pemerintah kini berupaya merespons tuntutan dengan memperbaiki gedung sekolah dan mengatasi kekurangan guru. Namun, kontroversi muncul dari rencana undang-undang yang mengharuskan pelaku perusakan fasilitas publik membayar biaya perbaikan. Perdana Menteri Lecornu menyatakan kompensasi bisa dipotong dari tunjangan keluarga dan perumahan, sebuah langkah yang ditolak keras oleh Ketua CGT, Sophie Binet, karena dianggap membebani keluarga paling rentan.

Gejolak sosial ini terjadi di tengah ketegangan menjelang pemilihan presiden Prancis 2027, yang akan menentukan pengganti Presiden Emmanuel Macron setelah mencapai batas dua periode jabatan. Dengan dinamika publik yang sudah terbelah antara solidaritas kelas pekerja dan kekhawatiran akan keamanan, situasi di Paris kini menjadi ujian serius bagi kredibilitas institusi negara dan aparat keamanan di tingkat lokal maupun nasional.

Analisis Redaksi

Peristiwa ini menandai eskalasi serius dalam hubungan antara negara dan generasi muda, di mana batas proporsionalitas penggunaan kekuatan oleh aparat telah ditembus. Fakta bahwa 87 persen dari 5.000 penangkapan adalah anak di bawah umur mengindikasikan bahwa kebijakan 'sweeping' yang dilakukan kepolisian justru memperdalam sentimen anti-pemerintah di kalangan remaja. Kehilangan tangan seorang pelajar bukan sekadar insiden medis, melainkan simbol kegagalan dalam menjamin keselamatan demonstran muda. Hal ini berpotensi mengubah narasi publik dari kritik kebijakan pendidikan menjadi kemarahan terhadap negara yang represif.

Pendekatan hukum yang diusulkan pemerintah, yaitu memotong tunjangan keluarga untuk membayar perusakan fasilitas, berisiko kontraproduktif secara sosial. Langkah ini mengabaikan akarnya masalah, yaitu ketidakpuasan struktural terhadap kualitas pendidikan, dan justru menyalahkan kelompok ekonomi lemah. Dengan adanya intervensi politik dari LFI dan kegelisahan jelang pemilu 2027, pemerintah Lecornu terjepit di antara kebutuhan menjaga ketertiban umum dan legitimasi demokratis. Kegagalan menengahi kedua tekanan ini bisa menjadi preseden berbahaya bagi stabilitas sosial Prancis dalam beberapa tahun ke depan.

Meow! Tanya Nesi!
😸