Saleh Mustafa Resmi Pensiun Dini, Fokus ke Kedaulatan Pangan sebagai Wamentan
Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menegaskan bahwa Letnan Jenderal Muhammad Saleh Mustafa akan menjalani pensiun dini dari dinas aktif TNI seiring peralihan jabatannya ke Kementerian Pertanian. Keputusan ini diambil untuk menjaga integritas institusi sekaligus mematuhi aturan main yang berlaku bagi prajurit karier yang masuk ke ranah sipil, sebagaimana dikonfirmasi langsung di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta, pada Senin (5/10). “Kalau ke kementerian kan pensiun dini ya, sesuai aturan begitu,” ujar Agus, memastikan tidak ada celah pelanggaran status keprajuritan.
Letjen Saleh sendiri telah mengkonfirmasi bahwa proses pengunduran dirinya dari jabatan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) sedang berjalan. Ia menyampaikan bahwa pengajuan resmi telah dikirimkan kepada KSAD dan kini menunggu finalisasi administratif. “Ya, lagi proses, lagi proses (pengunduran diri dari wakasad),” kata Saleh saat ditemui di Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, hari yang sama. Usai proses ini rampung, statusnya akan berubah dari prajurit aktif menjadi purnawirawan, menandai akhir dari lebih dua dekade perjalanan karier militernya di bawah naungan Kementerian Pertahanan.
Pengangkatan Saleh ke kursi Wakil Menteri Pertanian bukan tanpa alasan kuat. Ia mengisi posisi yang sempat kosong setelah pendahulunya, Sudaryono, dilantik sebagai Kepala Badan Gizi Nasional beberapa bulan lalu. Saleh, yang telah resmi dilantik menjadi Wamentan pada Kamis (1/10), membawa bekal pengalaman panjang di bidang infanteri. Riwayat kariernya cukup tebal, termasuk pernah menjabat sebagai Inspektur Jenderal TNI dan Kepala Staf Komando Operasi Gabungan Wilayah II. Latar belakang tersebut kini dialihkan sepenuhnya ke urusan ketahanan pangan nasional.
Salah satu tantangan besar yang dihadapi Saleh adalah penguatan kedaulatan pangan melalui pembukaan lahan baru. Selain itu, ia juga menargetkan peningkatan kesejahteraan petani sebagai prioritas utama di kementerian tersebut. “Mungkin (bertugas di lumbung pangan), kedaulatan pangannya kita akan hadapi ke depan, mungkin buka lahan, tentunya ya. Buka lahan, dan kesejahteraan petani juga mungkin menjadi target,” jelas Saleh. Fokus ini menunjukkan pergeseran paradigma dari keamanan militer murni ke keamanan hulu sumber daya strategis negara, yaitu pangan.
Keterlibatan Saleh dalam operasi militer di masa lalu juga memberikan perspektif unik bagi pendekatan keamanan pangan. Ia pernah terlibat dalam Operasi Tinambola, atau yang kini dikenal sebagai Operasi Madago Raya di Poso, Sulawesi Tengah. Operasi gabungan TNI-Polri sejak 2016 tersebut bertujuan menumpas jaringan Mujahidin Indonesia Timur. Pengalaman menangani konflik dan stabilitas di wilayah rawan ini diharapkan menjadi aset dalam menjaga rantai pasok pangan dari ancaman keamanan, baik itu konflik agraria maupun ancaman radikalisme yang bisa mengganggu stabilitas sosial di daerah penghasil pangan.
Analisis Redaksi
Perpindahan Letjen Saleh ke Kementerian Pertanian menandai langkah strategis pemerintah dalam mengintegrasikan aspek keamanan dengan kedaulatan pangan. Pemilihannya bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan refleksi dari kebutuhan mendesak untuk memperlambat laju alih fungsi lahan pertanian akibat laju urbanisasi dan pembangunan infrastruktur. Dengan pengalaman strategis di lapangan, Saleh diharapkan mampu mempercepat pembukaan lahan baru tanpa mengorbankan aspek ekologi, sebuah tantangan yang kompleks di tengah keterbatasan lahan di Jawa.
Aspek pensiun dini yang ditegaskan Panglima TNI menjadi indikator tegas bahwa kompartemenisasi antara militer dan sipil tetap terjaga. Ini penting untuk mencegah intervensi berlebihan struktur keprajuritan terhadap kebijakan ekonomi. Namun, publik perlu mewaspadai potensi benturan kepentingan jika pendekatan keamanan militer diterapkan secara berlebihan dalam kebijakan pertanian, yang seharusnya berbasis pada produktivitas dan kesejahteraan petani. Kesejahteraan petani menjadi tolok ukur nyata keberhasilan transformasi ini, bukan semata-mata ekspansi fisik lahan.