Ronny P Sasmita Dorong Ekspor Jasa Kreatif Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi Baru
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.
Pengamat ekonomi Ronny P Sasmita menegaskan bahwa pemerintah harus mengubah pendekatan pengembangan ekonomi kreatif dari yang selama ini bersifat lokal menjadi fokus pada ekspor jasa kreatif. Menurut dia, sektor ini memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian nasional jika dikelola dengan strategi yang tepat. Perubahan paradigma ini dianggap krusial untuk mendongkrak pendapatan devisa negara di tengah volatilitas harga komoditas primer.
Rekomendasi tersebut dilontarkan Ronny Sasmita dalam sebuah diskusi publik yang membahas prospek ekonomi kreatif Indonesia. Ia menyoroti bahwa selama ini, banyak pelaku industri kreatif berfokus pada pasar domestik saja, sehingga belum sepenuhnya menguras potensi nilai tukar mereka. Padahal, nilai jual produk kreatif Indonesia sering kali jauh lebih tinggi ketika dipasarkan ke luar negeri karena perbedaan daya beli dan persepsi kualitas.
Konteks ini relevan mengingat data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan pertumbuhan industri kreatif yang terus meningkat, namun belum terstruktur dalam rantai pasok global. Ronny menekankan pentingnya intervensi kebijakan untuk menghidupkan ekosistem, mulai dari perlindungan hak kekayaan intelektual hingga fasilitasi akses pasar internasional. Tanpa dorongan kebijakan yang jelas, potensi emas sektor ini akan terus terpendam di level mikro.
Sektor jasa kreatif, yang mencakup animasi, game, konten digital, hingga desain, memang sedang mengalami boomerang global. Indonesia memiliki keunikan budaya yang kuat, namun konversi budaya itu menjadi produk komersial yang siap ekspor masih butuh jembatan. Di sinilah peran negara sebagai fasilitator menjadi kunci, bukan sekadar regulator. Banyak pelaku usaha yang sudah siap, tapi terkendala birokrasi dan pemahaman regulasi lintas negara.
Dampak dari pergeseran fokus ke ekspor jasa kreatif akan terlihat pada neraca pembayaran jangka menengah. Jika berhasil, sektor ini bisa menjadi penyumbang utama devisa non-migas yang stabil. Berbeda dengan batu bara atau CPO yang fluktuatif, jasa kreatif memiliki elastisitas harga yang lebih baik di pasar global. Investor asing juga akan mulai melihat Indonesia bukan hanya sebagai negara sumber bahan baku, tapi juga pusat industri kreatif digital.
Analisis Redaksi
Arahan Ronny P Sasmita ini bukan sekadar saran teknis, melainkan teguran moral bagi pembuat kebijakan. Selama dua dekade terakhir, kita terlalu terbuai dengan narasi "Indonesia adalah negara kreatif" tanpa bukti konkret berupa angka ekspor jasa yang signifikan. Jika ekspor jasa kreatif benar-benar digerakkan, dampaknya akan langsung terasa pada penciptaan lapangan kerja berbasis keterampilan tinggi, bukan sekadar buruh kasar. Ini adalah kesempatan strategis untuk mendiversifikasi ekonomi.
Yang perlu diwaspadai adalah celah regulasi. Ekspor jasa kreatif, terutama digital, seringkali terjebak dalam gray area hukum karena batas antara penjualan konten, software, dan layanan belum jelas di peraturan perpajakan dan perdagangan internasional. Jika pemerintah tidak memperjelas kerangka hukumnya, para pelaku usaha akan ragu untuk melangkah ke skala global. Langkah logis berikutnya adalah penyusunan peta jalan ekspor jasa kreatif yang melibatkan kementerian terkait, mulai dari Kominfo, Perdagangan, hingga Pariwisata.