Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Dapur Sekolah AS Krisis: Program Makanan Segar Trump Kandas di Medan, Defisit Anggaran Melanda

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dapur Sekolah AS Krisis: Program Makanan Segar Trump Kandas di Medan, Defisit Anggaran Melanda
BAGIKAN:

Hasil di lapangan menunjukkan program ambisius pemerintah Donald Trump untuk mengubah menu sekolah menjadi makanan segar justru tersendat. Ratusan distrik di Amerika Serikat tidak memiliki prasarana dasar seperti dapur layak, sehingga target penghapusan makanan ultra-proses gagal diekskusi. Realitas yang terpantau di Connecticut menunjukkan para koki terpaksa tetap menyajikan nugget beku dan pizza siap saji karena keterbatasan fisik bangunan sekolah yang sudah tua.

Berita ini mengungkap kesenjangan antara retorika kebijakan 'Make America Healthy Again' di Gedung Putih dengan kondisi teknis di dapur kantin sekolah. Survei terbaru memperlihatkan bahwa mayoritas distrik sekolah masih sangat bergantung pada produk beku atau ultra-olahan karena fasilitas mereka memang tidak dirancang untuk memasak dari nol. Analisis ini memperlihatkan bahwa tanpa infrastruktur, niat baik pemerintah tidak akan berubah menjadi piring makan yang sehat.

Cerita dimulai di Sekolah Dasar Thomas Hooker, Meriden, Connecticut. Pada Senin (28/9), tiga staf kantin harus memutar otak menyiapkan makan siang untuk sekitar 300 siswa. Mereka mengeluarkan nugget ayam beku, melumuri dengan saus jeruk, dan menghangatkannya di oven. Disampingnya, tersedia patty hamburger siap saji dengan keju serta pilihan buah kalengan. Bangunan sekolah tersebut berdiri sejak era 1960-an dan saat itu didesain tanpa dapur karena asumsi siswa makan siang di rumah.

Sekolah Umum Meriden kini terpaksa berimprovisasi dengan mengubah tiga lemari lama menjadi area dapur. Meja kerja katering hanya berjarak beberapa meter dari wastafel pencuci panci yang terpisah dari kompor dan kulkas. "Kondisi ini jelas sangat menantang," kata Susan Maffe, Direktur Layanan Makanan dan Nutrisi Meriden, dikutip dari CNN. Keterbatasan fisik semacam ini menjadi potret umum di banyak sekolah lain di seluruh negeri yang ingin mematuhi standar baru pemerintah.

Kebijakan ini lahir dari gerakan *Make America Healthy Again* yang didorong Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. Ia menyerukan pengurangan gula dan makanan ultra-olahan dengan memperbanyak biji-bijian utuh dan protein berkualitas. Untuk mendukung hal ini, Menteri Pertanian Brooke Rollins mengumumkan hibah peralatan senilai US$70 juta atau setara dengan Rp1,1 triliun, serta US$30 juta untuk riset efisiensi pangan sekolah. Namun, angka itu dianggap tidak proporsional oleh para praktisi di lapangan.

Ketua School Nutrition Foundation, Gay Anderson, menyebut dana tersebut akan habis untuk 50 negara bagian. "Uang sebesar US$70 juta tidak akan cukup untuk menjangkau 50 negara bagian," tegas Anderson. Di Meriden, biaya operasional sudah membengkak; sekolah menghabiskan lebih dari US$300 ribu untuk peremajaan peralatan tahun lalu. Namun, penggantian biaya dari pemerintah federal hanya sebesar US$4,80 per piring makanan, jauh di bawah biaya aktual US$5,07. Defisit sekitar US$250 ribu ini memaksa sekolah mencari pendapatan tambahan lewat jasa katering acara.

Survei School Nutrition Association memperparah citra itu: hanya 16 persen distrik yang memasak sendiri setiap hari, dan lebih dari 93 persen menyatakan butuh tambahan staf dan infrastruktur. Kekurangan tenaga kerja terampil menjadi penghambat besar karena gaji kantin kalah bersaing dengan sektor ritel. Di sisi lain, distrik seperti Littleton Public Schools di Colorado membuktikan bahwa perubahan dimungkinkan. Mereka membangun dapur pusat senilai US$4 juta dan berhasil melipatgandakan porsi menu segar di 21 sekolah. Direktur Gizi Littleton, Jessica Gould, mengakui tantangannya kini adalah memanjakan lidah siswa yang sudah terbiasa dengan makanan ringan berkemasan.

Analisis Redaksi

Kejadian ini bukan sekadar kelalaian teknis, melainkan indikasi kegagalan strategi komunikasi kebijakan. Pemerintahan Federal mencoba menerapkan perubahan gaya hidup yang masif tanpa memetakan kapasitas infrastruktur di akar rumput. Anggaran US$70 juta yang diumumkan terdengar besar, tetapi bagi ekosistem sekolah yang tersebar di 50 negara bagian, dana itu setara dengan setetes air di tengah gurun. Ini menunjukkan bahwa regulasi kesehatan publik sering kali tidak diselaraskan dengan realitas anggaran operasional sekolah di tingkat distrik.

Perbedaan antara distrik kaya seperti Littleton dan distrik defisit seperti Meriden mengindikasikan risiko disintegrasi kualitas gizi secara geografis. Jika dibiarkan, kebijakan ini justru bisa memperlebar kesenjakan sosial: siswa di distrik yang mampu akan mendapat makanan segar, sementara yang lain tetap makan beku. Kita perlu mewaspadai potensi resistensi masyarakat terhadap label 'pangan sehat' jika itu berimbas pada kenaikan biaya pendidikan atau penurunan kualitas hidangan yang disajikan.

Secara logis, langkah selanjutnya tidak hanya soal menambah dapur. Pemerintah harus meninjau ulang skema subsidi per piring makanan. Selama selisih antara biaya produksi dan subsidi federal sebesar US$0,27 per piring terus ada, tidak ada distrik yang bisa bertahan. Jika Kongres tidak menaikkan angka penggantian biaya itu, program ini akan mati suri di tahun fiskal berikutnya, atau lebih buruk lagi, memicu protes dari ratusan kepala sekolah yang sedang berjuang menutup buku kas mereka.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ