Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Veda Ega Raih Poin Pertamanya di Moto3 Jepang, Almansa Menangi Balapan Dramatis di Sirkuit Suzuka

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Veda Ega Raih Poin Pertamanya di Moto3 Jepang, Almansa Menangi Balapan Dramatis di Sirkuit Suzuka
BAGIKAN:

Veda Ega Pratama sukses memetik poin perdananya di musim ini dengan finis di posisi 11 pada balapan Moto3 Jepang, setelah melewati rivalnya Hakim Danish di lap-lap akhir. Di depan, David Almansa memastikan dirinya sebagai pemenang setelah duel sengit hingga garis finis. Balapan yang berlangsung penuh drama ini menjadi debut positif bagi pembalap muda Indonesia tersebut di ajang kelas utama.

Start yang agresif dan lonjakan posisi Veda Ega memulai balapan dari posisi yang cukup jauh di belakang grid. Namun, ia langsung menunjukkan determinasinya dengan merangsek cepat. Masuk lap pertama, Veda sudah berhasil merangkak naik ke posisi ke-13. Sementara itu, di kelompok terdepan, David Almansa memimpin balapan diikuti Brian Uriarte. Maximo Quiles, yang saat itu menjadi pemuncak klasemen, terlihat tertinggal sedikit dari kedua pembalap tersebut.

Perubahan nasib di tengah balapan

Naik ke posisi 12 setelah empat lap, Veda Ega menghadapi tantangan besar. Jarak antarmereka dan rombongan delapan besar terentang hingga 3,8 detik pada lap keenam, membuat harapan untuk menembus zona depan semakin tipis. Situasi berubah drastis ketika Brian Uriarte terkena double long lap penalty. Penalti ini diberikan karena Uriarte masih melakukan pengaturan motor saat pengumuman balapan dimulai. Akibat hukuman itu, Uriarte langsung jatuh ke posisi keenam saat menjalankan hukuman pertamanya.

Perubahan ini memberi ruang bagi Veda Ega. Ia mampu melewati Adrian Fernandez dan bersaing ketat dengan Valentin Perrone, naik ke posisi 11. Kendati demikian, persaingan di rombongan tengah sangat ketat. Masuk lap 10, Veda Ega yang sempat di posisi 10 justru melorot kembali ke posisi 12 setelah disalip Joel Esteban, Fernandez, dan Joel Kelso. Saat itu, Hakim Danish masih kesulitan menembus zona poin dan bertahan di posisi 16.

Manuver lap terakhir dan drama finis

Dua lap terakhir menjadi momen krusial. Veda Ega sempat terlempar ke posisi 15, sementara Hakim Danish naik ke 13. Namun, di lap 14, Veda Ega kembali melesat ke posisi 13, memotong jalur Hakim Danish dan Fernandez. Hakim Danish justru tergusur ke posisi 15. Di lap terakhir, Veda Ega berada di posisi 14, tepat di depan Hakim Danish. Kejadian tak terduga datang dari sisi lain trek: kecelakaan yang dialami Eddie O'Shea membuat kedua pembalap ini naik satu peringkat secara otomatis. Veda Ega finis di posisi 11, sementara Hakim Danish di posisi 12. Keduanya berhasil mengunci poin di seri kandang.

Di rombongan depan, Maximo Quiles menempel ketat Almansa memasuki lap terakhir. Almansa mempertahankan posisinya dengan pertahanan mati-matian sebelum akhirnya menyentuh garis finis pertama. Kemenangan ini menegaskan konsistensinya di musim 2024, sementara bagi Veda Ega, ini adalah validasi kerja kerasnya selama beberapa seri terakhir. Balapan ini menunjukkan bagaimana perubahan kecil di trek bisa mengubah skenario poin secara drastis.

Analisis Redaksi

Finis di posisi 11 bagi Veda Ega Pratama bukan sekadar angka, melainkan sinyal penting bagi progresivitas pembalap muda Indonesia di panggung internasional. Keberhasilannya meraih poin di sirkuit Suzuka menunjukkan bahwa dia mulai menemukan konsistensi dalam kecepatan di lap-lap akhir. Fakta bahwa ia bisa melewati Hakim Danish, seorang pembalap yang sudah lebih senior di kelas ini, membuktikan bahwa Veda Ega tidak lagi sekadar mengikuti irama, melainkan mampu mendikte tempo di fase akhir lomba. Ini adalah langkah krusial sebelum menghadapi seri-seri Eropa yang jauh lebih kompetitif.

Bagi publikasi nasional, momen ini harus dibaca sebagai momentum kebangkitan pasca-penalti Uriarte. Penalti tersebut membuka ruang bagi para pembalap di belakang untuk naik, dan Veda Ega adalah satu-satunya yang berhasil memanfaatkannya secara maksimal. Namun, perlu diwaspadai bahwa jarak 3,8 detik di lap awal menunjukkan bahwa kesiapan motor Veda Ega masih kalah secerdas rival-rivalnya. Untuk melangkah ke papan atas (top 10), tim perlu memperkuat strategi start dan akselerasi awal, bukan hanya mengandalkan ketahanan di lap akhir. Veda Ega sudah membuktikan ia bisa finish di zona poin; tugas berikutnya adalah membuktikan ia bisa finish di zona podium.

Meow! Tanya Nesi!
😸