Putri Petinggi Iran di Emory Diusir dari AS: Sanksi Keras terhadap Afiliasi Rezim Teheran
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dokter Fatemeh Ardeshir-Larijani, asisten profesor di Departemen Hematologi dan Onkologi Medis Universitas Emory di Atlanta, resmi dideportasi bersama suaminya, Seyed Kalantar Motamedi, oleh otoritas Amerika Serikat.
Keputusan tegas ini diambil setelah tekanan politik dan publik meluas. Anggota Kongres Buddy Carter menyerukan pemecatannya dalam surat resmi, berargumen bahwa lembaga AS tidak boleh menjadi 'tempat perlindungan' bagi关联方 rezim bermusuhan. Carter memperingatkan bahwa kehadiran Fatemeh merupakan ancaman bagi keamanan nasional.
Fatemeh, yang fokus penelitiannya adalah penemuan target baru dan mekanisme resistensi imun pada kanker paru-paru, diketahui adalah anak dari Ali Larijani, petinggi Garda Revolusi Iran yang tewas dalam serangan AS Februari lalu. Ia tidak bekerja lagi di Emory sejak Januari 2026, sebulan sebelum serangan tersebut, karena desakan berbagai pihak, termasuk petisi Change.org dengan lebih dari 156.000 tanda tangan yang mendesak pemerintahan Trump untuk mendeportasinya.
Kasus ini bukan insiden tunggal. New York Post melansir bahwa anak-anak pemimpin rezim Iran bersekolah di universitas bergengsi seperti Union College, New York, dan George Washington University. Leila Khatami, putri mantan Presiden Mohammad Khatami, dan Ehsan Nobakht, putra mantan wakil menteri kesehatan Ali Nobakht, turut mendapat tekanan. Foto dan biografi Leila Khatami dihapus dari situs fakultas setelah serangan udara AS terhadap Iran.
Para analis memperingatkan bahwa keberlanjutan keberadaan tokoh-tokoh ini menjadi celah keamanan. Janatan Sayeh dari Foundation for the Defense of Democracies menyebut bahwa akademisi Iran sering kali dipakai untuk membentuk opini publik di kalangan liberal AS. Para kritikus menyebut kerabat penguasa Iran sebagai 'Aghzadeh' atau 'bangsawan', yang tinggal di Barat sementara rezim di tanah air mereka menjalankan agenda anti-Barat.
Analisis Redaksi
Peristiwa ini menandai eskalasi kebijakan imigrasi Amerika Serikat yang kini secara eksplisit menyasar afiliasi keluarga pejabat asing. Jika sebelumnya sanksi dibatasi pada individu, kini jaringnya melebar ke generasi kedua. Departemen Keuangan AS yang sudah memvonis sanksi kepada Ali Larijani kini mendorong eksekusi fisik melalui deportasi anak perempuannya. Ini menunjukkan pergeseran paradigma keamanan nasional di mana ikatan keluarga tidak lagi dianggap sebagai penghalang diplomatik, melainkan sebagai vektor bagi 'penetrasi' ideologis dan intelijen.
Dampaknya bersifat sistemik terhadap kebebasan akademik global. Universitas-universitas AS kini dipaksa melakukan 'pembersihan' administratif untuk mempertahankan legitimasi publik dan akses pendanaan. Hilangnya figur seperti Fatemeh Ardeshir-Larijani dan Leila Khatami bukan hanya kehilangan SDM medis dan akademis, tetapi juga sinyal bagi para peneliti asing bahwa batas toleransi terhadap negara-negara yang dianggap 'memusuhi' AS semakin sempit. Mereka yang terkait dengan rezim otoriter kini menghadapi risiko repatriasi paksa, mengubah kampus-kampus elit AS menjadi zona geopolitik yang keras.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
