Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Protes Pelajar: 500 Sekolah Prancis Siap Tutup, 78 Guru Jadi Target Serangan

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Protes Pelajar: 500 Sekolah Prancis Siap Tutup, 78 Guru Jadi Target Serangan
BAGIKAN:

Edouard Geffray, Menteri Pendidikan Prancis, mengumumkan bahwa sekitar 500 sekolah menengah atas atau lycees di seluruh negara itu diperkirakan akan menghentikan kegiatan belajar mengajar, baik secara total maupun parsial, pada Senin (5/10). Keputusan ini diambil karena kondisi keamanan yang dinilai belum memadai untuk menjamin keberlangsungan aktivitas akademik di lingkungan sekolah.

Angka tersebut sejajar dengan jumlah sekolah yang terdampak pada Jumat (3/10). Meskipun pemerintah pusat mendorong agar proses belajar bisa kembali normal secara bertahap, Geffray menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah keselamatan. Sejak gerakan protes tersebut pecah, dampak fisik terhadap aset negara cukup signifikan; tercatat 24 sekolah telah dibakar atau mengalami kerusakan parah.

Akar masalah dari gelombang demonstrasi ini terletak pada kemarahan pelajar terhadap kinerja institusi pendidikan. Mereka menuntut perbaikan atas tingginya absensi guru, beban jam belajar yang dianggap berlebihan, serta kualitas fasilitas sekolah yang dinilai buruk. Gerakan yang berawal dari satu titik di Paris pada 17 September ini telah menyebar menjadi aksi nasional pada pekan lalu, mengubah dinamika hubungan antara siswa dan negara.

Kekerasan menjadi warna dominan dalam dinamika terkini. Geffray mengklaim bahwa aktivis dari sayap kiri ekstrem telah menyusup dan membajak gerakan pelajar, menyeret mereka ke dalam kekerasan yang membahayakan siswa dan staf. Akibatnya, sebanyak 78 tenaga pendidikan dilaporkan terluka, sebuah statistik yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sistem pendidikan nasional. "Mereka sengaja menjadi sasaran karena bekerja di sistem pendidikan nasional," tegas Geffray.

Situasi hukum dan keamanan semakin memanas dengan ditangkapnya lebih dari 5.000 orang sejak awal gerakan, di mana sekitar 85 persen di antaranya masih di bawah umur. Insiden spesifik terjadi di kota La Ciotat, Prancis selatan, di mana seorang guru berusia 59 tahun menjadi korban serangan brutal. Pada Jumat lalu, ia disiram bensin dan dipukul oleh seseorang yang mengenakan penutup wajah dan pakaian serba hitam, sementara sebuah pohon di lokasi tersebut terbakar. Seorang remaja berusia 16 tahun telah ditahan terkait kasus penyerangan terhadap guru ini.

Penyelenggara aksi demonstrasi merespons ketegangan ini dengan menyerukan agar protes berlanjut pada Selasa (5/10). Mereka menilai respons pemerintah Prancis masih dangkal dan belum memberikan langkah konkret yang menjawab tuntutan mendasar para pelajar. Kritik tajam juga dilontarkan oleh sejumlah pihak yang menilai tindakan polisi, yang sering kali menggunakan gas air mata dan tongkat untuk membubarkan massa, sebagai bentuk kekerasan yang berlebihan dan tidak proporsional.

Analisis Redaksi

Krisis pendidikan di Prancis ini bukan sekadar masalah mogok sekolah, melainkan indikator terfragmentasinya sosial negara. Klaim Geffray mengenai 'peretasan' gerakan oleh sayap kiri ekstrem adalah strategi naratif klasik untuk melegitimasi penggunaan kekuatan aparat, namun hal ini diabaikan oleh fakta bahwa akar masalah struktural—seperti rasio guru-siswa dan kondisi bangunan—tidak kunjung ditangani. Ketika 85% tersangka adalah anak di bawah umur, artinya institusi pendidikan gagal total dalam membangun kedekatan emosional dan intelektual dengan generasi muda.

Risiko eskalasi sangat nyata. Serangan fisik terhadap guru, seperti insiden di La Ciotat, mengubah profesi ini menjadi target politik yang berbahaya. Jika kekerasan berlanjut tanpa solusi negosiasi yang kredibel, potensi pembengkakan jumlah korban luka dan kriminalisasi massal pelajar akan memicu backlash publik yang lebih besar terhadap pemerintah. Langkah logis selanjutnya mengharuskan adanya mediasi segera yang melibatkan perwakilan pelajar dan guru, bukan hanya pendekatan represif.

Secara geopolitik, ketidakpastian sosial ini dapat menghambat proyeksi jangka panjang Prancis dalam sektor inovasi dan SDM. Negara yang tidak mampu menjamin keamanan di ruang kelasnya akan kehilangan daya saing intelektual. Pengamatan ke depan harus fokus pada apakah Presiden Macron akan melakukan reformasi kebijakan pendidikan secara komprehensif, atau hanya menenangkan suasana sementara dengan janji-janji kosong.

Meow! Tanya Nesi!
😸