Khofifah Ingatkan Santri: Kepedulian Lingkungan Harus Mulai dari Tindakan Nyata di PPSN VI
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa secara langsung menggaet ribuan santri pramuka peserta Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari gerakan moral nasional, bukan sekadar seremonial.
Hal tersebut disampaikannya saat meresmikan kegiatan yang berlangsung di kawasan pesantren ternama tersebut. Khofifah menegaskan bahwa generasi muda, khususnya para santri yang hidup dalam lingkungan islami, memiliki keistimewaan dalam menjaga alam karena sudah tertanam dalam ajarannya tentang khalifah fil ardh.
Pesan moral ini bukan tanpa alasan. Di tengah meningkatnya angka deforestasi dan perubahan iklim di wilayah Jawa Timur, figur seperti Khofifah yang memiliki kredibilitas tinggi sebagai kepala daerah memberikan bobot tersendiri pada pesan lingkungan tersebut. Kehadiran ribuan santri menjadi indikator bahwa edukasi lingkungan kini masuk ke dalam kurikulum non-formal yang masif.
Sebagai tokoh publik yang kerap menjadi sorotan, aksi nyata Khofifah ini sekaligus menjadi respons terhadap kritik bahwa kampanye lingkungan seringkali hanya berhenti di tataran kebijakan birokrasi dan tidak menyentuh akar rumput. Dengan melibatkan ribuan santri, pesan disampaikan secara kolektif melalui budaya pramuka yang menekankan kemandirian dan gotong royong.
Dampaknya bagi publik akan terlihat dalam jangka panjang. Para santri yang kembali ke pondok masing-masing di seluruh Indonesia ini berpotensi menjadi agen perubahan. Mereka membawa pulang bukan hanya sertifikat pramuka, melainkan disiplin ekologis yang akan diterapkan di lingkungan pesantren, yang biasanya menjadi pusat peradaban dan pendidikan masyarakat muslim di pedesaan.
Analisis Redaksi
Langkah Khofifah ini strategis secara politik dan sosial. Di saat Jawa Timur mengejar target pembangunan industri, menjaga keseimbangan ekologis menjadi PR besar. Melibatkan santri adalah cara cerdas untuk membangun benteng pertahanan ekologis dari dalam komunitas yang sangat terorganisir dan memiliki loyalitas tinggi terhadap ustadz dan asatiz.
Yang perlu diwaspadai adalah keberlanjutan aksi ini. Apakah hanya berhenti di perkemahan, atau ada tindak lanjut struktural? Tanpa dukungan kebijakan dari Pemkab/Kab dan Dinas Lingkungan Hidup terkait pengelolaan sampah pesantren, pesan moral ini berisiko menjadi wacana saja. Wartawan investigasi perlu memantau apakah ada kurikulum khusus lingkungan yang dipadatkan dalam kegiatan pesantren pasca-PPSN.
Secara logis, langkah selanjutnya yang harus dipantau adalah integrasi data. Apakah kementerian agama dan lingkungan hidup memiliki data tunggal soal jejak karbon pesantren? Jika sinergi antar kementerian ini terbangun, PPSN VI bisa menjadi awal dari gerakan Eko-Islami yang sistematis. Ini bukan hanya soal menanam pohon, tapi soal mengubah paradigma konsumsi para santri yang kini sudah terhubung dengan globalisasi melalui media sosial.