Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kampanye Brasil Meramaikan: Kandidat Jadi Tiruan Trump dan Mick Jagger

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kampanye Brasil Meramaikan: Kandidat Jadi Tiruan Trump dan Mick Jagger
BAGIKAN:

Satu hal yang pasti, pemilihan umum di Brasil kali ini jauh dari kesan kaku. Ratusan kandidat mencolok mata dengan mengubah nama dan penampilan menjadi tiruan tokoh pop, mulai dari Donald Trump hingga Mick Jagger. Mereka memanfaatkan keunikan ini sebagai senjata utama untuk mencuri perhatian pemilih di tengah lebih dari 7.800 calon anggota Kongres yang bersaing ketat.

Plinio Vicentin Junior, seorang pilot helikopter berusia 59 tahun, adalah contoh paling mencolok. Ia mendaftar dengan nama kampanye "Plinio Trump". Penampilannya tidak main-main: gaya rambut, dasi oranye panjang, hingga cara berjabat tangan disamakan dengan Presiden Amerika Serikat. Saat berkeliling di Minas Gerais, ia mengendarai mobil klasik Pontiac Grand Ville dengan bendera AS berkibar. "(Trump) disukai, ikonik. Hanya sedikit orang yang mencemooh saya. Kebanyakan orang tersenyum dan memeluk saya," ujar Plinio Trump kepada Associated Press di Juiz de Fora pada Senin (28/9) malam. Bagi dia, Trump bukan sekadar kostum, melainkan referensi politik sayap kanan yang ia agungkan.

Tren nyeleneh ini bukan hal baru; tradisi tersebut telah berlangsung hampir delapan dekade di Brasil. Selain Plinio, ada Henrique Barack Obama (57) yang mencalonkan diri di Distrik Federal, meski penampilannya dinilai kurang mirip dengan mantan Presiden AS tersebut. Lalu, Walcy Calixto Vieira (66), seorang tukang kayu yang menggunakan nama "Mick Jagger", kembali mencalonkan diri di legislatif negara bagian Goias. Penampilannya khas dengan rambut berantakan dan poni panjang. Kandidat lain pun tak kalah kreatif: Scheile Aparecida Soares Brandao terdaftar sebagai "Nenek Tsunami", sementara Marcelo da Rosa, sopir truk dari Parana, memilih nama "Lonely Boy".

Akar tradisi ini menelusuri waktu ke tahun 1959, saat sekitar 100 ribu pemilih di Sao Paulo menuliskan nama Cacareco, seekor badak betina dari kebun binatang setempat, pada surat suara pemilihan dewan kota. Suara tersebut dibatalkan otoritas pemilu. Fenomena ini sempat hilang selama kediktatoran militer (1964-1985) dan bangkit kembali setelah pemilihan nasional 1989. Saat itu, Eneas Carneiro, seorang dokter jantung dengan gaya bicara menggebu-gebu, meraih 360 ribu suara. Puncaknya terjadi pada 2010 ketika Tiririca, seorang badut sirkus, memenangkan kursi Kongres dengan lebih dari 1,3 juta suara berkat slogan sindiran politik yang populer. Kini, Tiririca, yang nama aslinya Francisco Everardo Oliveira Silva, kembali mencalonkan diri untuk periode kelima di Ceara.

Secara mekanismal, keunikan ini berdampak langsung pada perolehan kursi partai. Carlos Melo, profesor ilmu politik dari Universitas Insper di Sao Paulo, menjelaskan bahwa dalam sistem proporsional Brasil, suara kandidat dihitung untuk partainya. "Beberapa kandidat ini memiliki cukup suara untuk memenangkan kursi mereka sendiri, tetapi yang lain hanya menambahkan 1.000 atau 2.000 suara untuk partai mereka," kata Melo. Ia menambahkan bahwa kandidat unik membantu partai mengamankan bagian lebih besar dari Kongres dan dana publik, sebuah strategi krusial di tengah melemahnya tokoh politik tradisional yang meninggalkan institusi.

Analisis Redaksi

Gebrakan para kandidat "kocak" ini bukan sekadar tontonan, melainkan cerminan fragmentasi sosial-politik Brasil yang semakin dalam. Ketika institusi partai tradisional kehilangan daya tarik, para politisi memanfaatkan absurditas untuk mengisi kekosongan perhatian publik. Bagi Plinio Trump dan kandidat sejenis, ini adalah strategi *gimmick* yang efektif untuk memotong kerutan birokratis; mereka tidak bersaing pada kebijakan, melainkan pada *visibility* atau visibilitas.

Yang perlu diwaspadai adalah normalisasi politik hiburan (*infotainment*). Ketika narasi kampanye didominasi oleh kostum dan meme, substansi kebijakan publik menjadi tersisih. Pemilih di Brasil, yang kini memilih pada 4 Oktober, ditantang untuk membedakan antara komedi politik dan komitmen tata kelola negara. Dalam sistem proporsional di mana suara "gimmick" tetap menguntungkan partai, risikonya adalah terpilihnya wakil rakyat yang elektabilitasnya murni berasal dari ketertarikan sesaat, bukan rekam jejak representasi konstituen. Ini menantang integritas demokrasi Brasil dalam jangka panjang.

Meow! Tanya Nesi!
😸