Indonesia Catat Rekor 39 Medali di Aichi-Nagoya, Tembus Target Kemenpora Meski Peringkat Turun
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Tim Garuda menutup perjuangan di Asian Games 2026 dengan koleksi 39 medali, rekor tertinggi untuk kontingen Indonesia saat berlaga di luar kandang. Perolehan lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu ini memastikan Indonesia menempati peringkat ke-16 dalam klasemen akhir kejuaraan multi-cabang terbesar Asia tersebut. Capaian ini sekaligus melampaui target yang ditetapkan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga.
Secara peringkat, posisi Indonesia memang merosot dibandingkan edisi sebelumnya. Pada Asian Games 2022 yang diputar tahun 2023, Merah Putih masih mampu menjaga posisi di urutan ke-13. Namun, penurunan peringkat ini tidak menyamati lonjakan jumlah medali secara total. Angka 39 medali ini menggeser rekor sebelumnya yang tercatat sebanyak 36 medali, juga diperebutkan di edisi 2022. Angka ini merupakan koleksi terbanyak Indonesia dalam sejarah partisipasi di negara tuan rumah lain.
Kemenpora mengincar empat emas pada kejuaraan kali ini, sebuah target yang diprediksi menjadi tolok ukur keberhasilan kontingen. Indonesia berhasil melampaui angka tersebut dengan satu emas tambahan. Todotua Pasaribu, Chef de Mission Tim Indonesia, menyampaikan apresiasi mendalam atas kerja keras seluruh elemen tim. Ia menilai hasil akhir ini merupakan capaian terbaik mengingat berbagai tantangan yang dihadapi di sepanjang kompetisi.
"Alhamdulillah, puji syukur. Karena pada hari ini, tanggal 3 Oktober 2026, hari terakhir dalam event Asian Games 2026 di Aichi-Nagoya, saya sebagai Chef de Mission Asian Games Tim Indonesia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak," ujar Todotua Pasaribu dalam rilis tertulis. Ia menegaskan bahwa final per hari ini, setelah mengetahui total medali sebanyak 39 unit, menegaskan bahwa target empat emas Kemenpora telah terlampaui menjadi lima emas.
Sebagai pembanding, jumlah medali terbanyak Indonesia tercapai saat menjadi tuan rumah pada 2018 dengan koleksi fantastis 98 medali. Namun, dalam konteks pertandingan di luar tanah air, angka 39 medali ini menjadi batu loncatan baru. Publik menaruh perhatian pada efektivitas distribusi medali, di mana perunggu menjadi mayoritas, menandakan potensi besar bagi cabang-cabang yang baru memulai persaingan serius di level Asia.
Analisis Redaksi
Secara strategis, tembusnya target emas menunjukkan bahwa sistem pembinaan jangka menengah mulai berbuah, meskipun kuantitas perunggu masih mendominasi. Perbandingan dengan rekor 2018 saat menjadi tuan rumah memberi gambaran jelas tentang "home advantage" yang signifikan. Angka 39 medali di Aichi-Nagoya adalah sinyal positif bahwa fondasi atletik nasional mulai kuat, di mana jumlah atlet yang mampu masuk babak final meningkat drastis dibanding edisi 2022.
Menyikapi penurunan peringkat dari ke-13 menjadi ke-16, hal ini wajar terjadi mengingat persaingan yang semakin ketat dari negara-negara tetangga. Fokus ke depan tidak hanya pada total medali, tetapi pada efisiensi poin per medali. Kenaikan dari 36 menjadi 39 medali menandakan ada tiga atlet baru yang berhasil menembus podium, sebuah indikasi bahwa rotasi atlet muda mulai berjalan baik dan keberlanjutan prestasi lebih terjamin.