Dua Jasad Korban KM Virgo 8 Ditemukan di Seruyan, Total 190 Orang Telah Ditemukan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Tim Search and Rescue Unit (SRU) darat Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya akhirnya menemukan dua jasad korban KM Virgo Transport 8 di wilayah perairan Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, pada Minggu (4/10). Temuan ini menambah daftar korban meninggal dalam tragedi yang telah menggegerkan publik tersebut. Kedua jasad dievakuasi menggunakan Kapal RIB 02 menuju Pos TNI AL Kumai untuk proses identifikasi guna memastikan status data korban secara pasti.
I Putu Sudayana, Kepala Kantor SAR Kelas A Banjarmasin selaku SAR Mission Coordinator (SMC), menyatakan bahwa jasad tersebut ditemukan ketika tim gabungan melakukan penyisiran intensif di wilayah darat dan perairan Kalimantan Tengah. "Setelah ditemukan, kedua korban dievakuasi menggunakan Kapal RIB 02 Kantor SAR Palangka Raya menuju Pos TNI AL Kumai untuk selanjutnya mendapatkan penanganan dan proses identifikasi oleh tim terkait untuk memastikan data dan status korban," ujarnya dari Banjarmasin.
Penemuan ini menjadi bagian dari pencarian lanjutan yang terus dilakukan di berbagai titik. "Operasi SAR masih terus dilakukan dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk mendukung pencarian korban serta memperkuat koordinasi antarpihak di lapangan," kata Sudayana. Pencarian ini melibatkan gabungan Basarnas, TNI, Polri, dan potensi SAR lainnya yang menyisir berbagai wilayah yang ditetapkan sebagai titik fokus.
Hingga hari ke-22 operasi pada Minggu pukul 17.30 Wita, statistik resmi menunjukkan 190 orang telah ditemukan dari total 243 orang yang tercatat dalam manifes KM Virgo Transport 8. Rincinya, 108 orang ditemukan dalam kondisi selamat, sementara 82 orang meninggal dunia. Artinya, 53 korban lainnya masih dalam status hilang atau belum ditemukan.
Sementara itu, Basarnas sebelumnya menghentikan operasi penyelaman pada Sabtu (3/10) karena kondisi jasad korban telah berubah, membuat operasi bawah air tidak lagi efektif. Kepala Basarnas Mohammad Syafii menjelaskan bahwa struktur kapal yang mulai labil membuat proses evakuasi dari dalam kapal berisiko tinggi bagi penyelam, sehingga fokus pencarian kini diarahkan ke area perairan Kalsel, Kalteng, dan Kalbar di mana korban berpotensi hanyut terbawa arus.
Analisis Redaksi
Penghentian operasi penyelaman oleh Basarnas menandai pergeseran strategi yang bersifat teknis dan taktis, bukan akhir dari upaya mencari korban. Langkah ini diambil karena faktor keselamatan penyelam dan kondisi fisik kapal yang rusak secara struktural semakin memburuk. Hal ini menunjukkan bahwa keselamatan tim SAR tetap menjadi prioritas utama ketika risiko di dasar laut dinilai lebih besar daripada peluang keberhasilan pencarian di dalam kapal tenggelam.
Kini, harapan tertumpu pada operasi salvage atau pengangkatan badan kapal oleh pemilik kapal. Proses ini krusial untuk memastikan keberadaan korban yang terjebak di dalam lambung, khususnya bagian yang belum tersentuh penyelam. Tanpa pengangkatan kapal, sisa 53 orang yang belum ditemukan sulit dipastikan nasibnya. Koordinasi antara pemerintah dan pihak pemilik kapal harus dipercepat agar evakuasi final dapat dilakukan dalam kondisi yang memungkinkan.