AS Usir Dua Delegasi Iran yang Nekat Bertahan di New York Seusai Sidang PBB

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

AS Usir Dua Delegasi Iran yang Nekat Bertahan di New York Seusai Sidang PBB
BAGIKAN:

Amerika Serikat resmi mengusir dua anggota delegasi Iran yang menghadiri Sidang Majelis Umum PBB pada akhir September lalu karena mengabaikan perintah untuk meninggalkan negara itu. Kementerian Luar Negeri AS menegaskan pengusiran ini terjadi setelah kedua diplomat tersebut tetap berada di New York jauh setelah rangkaian sidang rampung. "Dua anggota delegasi Iran lainnya diketahui masih berada di (New York) jauh setelah Sidang Umum PBB berakhir. Mereka kini telah diusir dari AS," kata seorang pejabat AS kepada AFP pada Sabtu (3/10) seperti dikutip wartawan senior. Sikap Washington kali ini diambil setelah mereka mendapat informasi dari misi Iran untuk PBB bahwa dua orang tersebut masih bertahan hingga Jumat.

Keputusan tegas ini merupakan implementasi langsung dari kebijakan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang berjanji memberikan tekanan sebesar-besarnya terhadap Teheran. Media AS melaporkan bahwa Kementerian Luar Negeri sudah memerintahkan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi beserta seluruh delegasinya untuk segera meninggalkan AS pada Senin lalu. Perintah tersebut dimaksudkan untuk memastikan tidak ada yang tersisa setelah aktivitas resmi Sidang Majelis Umum PBB selesai. Namun, kelalaian atau kesengajaan dua delegasi ini memicu eskalasi diplomatik yang cepat dan keras dari pihak Washington.

Menurut laporan Axios, dinamika kepulangan kedua diplomat itu berjalan di hari yang sama namun dengan waktu berbeda. Satu anggota delegasi meninggalkan AS pada Jumat malam, sementara anggota lainnya baru berangkat pada Sabtu pagi. Proses pengusiran ini terjadi dalam konteks keamanan yang sangat ketat di mana delegasi Iran, termasuk Presiden Massoud Pezeshkian, sebelumnya telah dipantau dan dibatasi pergerakannya secara ketat selama menghadiri Sidang Majelis Umum PBB di New York. Mereka bahkan dilarang melakukan aktivitas non-diplomatik seperti berbelanja atau berpelesir selama di kota tersebut.

Tindakan pengusiran ini tidak terlepas dari kondisi geopolitik yang sedang memanas antara kedua negara. Sejak perundingan damai mandek, pemerintahan Presiden Donald Trump terus melancarkan tekanan maksimal terhadap Iran yang saat ini masih dalam keadaan perang dengan Negeri Paman Sam. Langkah terbaru dari Washington juga mencakup larangan bagi seluruh maskapai penerbangan Iran untuk beroperasi di seluruh dunia. Meskipun begitu, perundingan tidak sepenuhnya terputus; pejabat AS dan Iran sebelumnya telah bertemu di New York di sela-sela Sidang Umum PBB untuk melanjutkan upaya mengakhiri konflik yang sudah berkobar sejak Februari lalu.

Dalam dinamika perundingan tersebut, Presiden Donald Trump dilaporkan menolak proposal Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Trump menyampaikan kepada media AS bahwa ia memperkirakan perundingan akan dilanjutkan dalam beberapa hari mendatang. Dari sisi seberang, Kantor berita pemerintah Iran, IRNA, melaporkan bahwa Teheran belum menjadwalkan perundingan langsung lebih lanjut dengan Washington. Ketegangan ini menciptakan situasi di mana kedua pihak terus saling menguji batas kesabaran melalui tindakan diplomatik dan sanksi ekonomi, menjadikan New York sebagai panggung utama diplomasi yang panas namun terbatas.

Analisis Redaksi

Pengusiran dua diplomat Iran ini menandai pergeseran halus namun signifikan dalam etika diplomasi multilateral. Biasanya, kecerdasan diplomatik memungkinkan adanya toleransi waktu setelah sidang berakhir untuk urusan logistik atau konsultasi bilateral. Namun, dengan alasan keamanan nasional dan politik domestik yang sedang tegang, Washington memilih pendekatan nol toleransi. Langkah ini mengirim sinyal kuat bahwa partisipasi Iran dalam forum PBB saat ini diawasi dengan tingkat paranoia tinggi, mencerminkan bahwa hubungan bilateral telah mencapai titik nadir yang jarang terjadi dalam sejarah modern.

Apa yang perlu diwaspadai dari situasi ini adalah potensi eskalasi di luar ranah diplomatik. Larangan bagi maskapai Iran dan pembatasan fisik delegasi menunjukkan bahwa AS menggunakan kekuatan ekonomi dan yurisdiksi teritorialnya sebagai alat tawar-menawar. Dengan perundingan Selat Hormuz yang gagal dan janji perundingan ulang yang belum terjawab oleh Teheran, kedua pihak berada di persimpangan. Jika diplomasi gagal, langkah-langkah pembatasan ini bisa menjadi preseden untuk sanksi yang lebih luas di masa mendatang, mengunci konflik dalam dead-end yang berbahaya bagi stabilitas kawasan.

Meow! Tanya Nesi!
😸