Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Fadona/Fitria Gagal Tembus Emas Padel Asian Games 2026, Rebut Perak ke-11

OlahragaMaya SariMaya SariSumber: CNN Olahraga
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Fadona/Fitria Gagal Tembus Emas Padel Asian Games 2026, Rebut Perak ke-11
BAGIKAN:

Medali perak ke-11 bagi Indonesia di Asian Games 2026 resmi terukir melalui cabang olahraga padel. Fadona Kusumawati dan Fitria Sabatini harus mengakui keunggulan lawannya dari Jepang, Saki Tsukamoto dan Kae Tukumoto, dalam laga final yang ketat di Nagoya City Higashi Sports Center pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Skor 0-2 menjadi penentu nasib pasangan Indonesia yang berhasil memetik satu logam mulia hari itu, menambah koleksi troli medali kontingen Merah Putih setelah sempat meraih perunggu di nomor yang sama melalui pasangan Novela Putria dan Beatrice Gumulya.

Perjalanan Fadona/Fitria menuju podium terasa dramatis sejak set pertama berlangsung. Mereka langsung tercekik tekanan lawannya dan tertinggal 3-6, memaksa mereka bekerja lebih keras untuk bangkit di set kedua. Dinamika gim pun berubah drastis; pasangan Indonesia berhasil merebut gim pembuka set kedua dengan keunggulan 1-0. Keunggulan tersebut dipertahankan hingga gim kedua, menciptakan harapan bahwa perlawanan masih terbuka lebar sebelum Tsukamoto/Tukumoto melakukan counter-attack.

Tsukamoto/Tukumoto menunjukkan resiliensi tinggi dengan merebut gim ketiga untuk memperkecil jarak menjadi 1-2. Meskipun Indonesia kembali unggul pada gim keempat dengan skor 3-1, tekanan kembali datang dari kubu Jepang. Pasca tertinggal 1-4, Tsukamoto/Tukumoto berhasil menyamakan kedudukan menjadi 4-4 pada gim kedelapan. Penentu kemenangan datang di gim kesembilan, di mana pasangan Jepang itu berhasil berbalik unggul 5-4 untuk menutup pertandingan final ini dengan kemenangan meyakinkan.

Capaian perak ini melengkapi performa kontingen Indonesia di hari yang sama, menjadi medali keempat yang diraih secara kumulatif. Sebelumnya, Novela/Beatrice telah menyumbangkan perunggu setelah menyingkirkan pasangan Filipina, Danna Abad dan Joshea Malazarte, dengan skor telak 6-0. Keberhasilan di padel ini menjadi koreksi positif setelah kegagalan di beberapa cabang lain, membuktikan bahwa pembinaan atlet di olahraga baru tersebut mulai menunjukkan hasil nyata di kancah multievent Asia.

Sedikit berbeda dengan keberhasilan di padel, Indonesia harus merelakan emas di cabang [sepaktakraw](#) dan voli pantai. Tim sepaktakraw kandas di final quadrant putra melawan Jepang dengan skor 1-2 di Nagoya City Muzuho Park, setelah kalah tipis 13-15 di set penentu. Di sisi lain, pasangan voli pantai Sofyan Rachman Efendi dan Bintang Akbar juga gagal membalas performa apik mereka di set pertama (menang 21-19) saat menghadapi [Cherif Samba](#) dan Ahmed Janko dari Qatar. Kekalahan 2-1 di Hekinan Ryokuchi Beach Court mengubur harapan emas dan hanya menyisakan medali perak, kontras dengan dominasi mereka di set pembuka.

Analisis Redaksi

Hasil ini mengindikasikan dua hal krusial: potensi pertumbuhan cabang olahraga padel yang signifikan serta konsistensi mental pemain Indonesia yang masih menjadi pekerjaan rumah di momen-momen krusial. Keberhasilan merebut perak setelah kekalahan di final menunjukkan bahwa level kompetisi sudah berimbang dengan negara-negara tetangga seperti Jepang. Tren positif ini, ditambah dengan perunggu dari Novela/Beatrice, menegaskan bahwa investasi di cabang olahraga baru mulai memberi dividen yang nyata bagi target medali nasional.

Di sisi lain, kekalahan menyakitkan di voli pantai dan sepaktakraw, di mana Indonesia mampu bersaing di set pembuka sebelum akhirnya gagal mempertahankan momentum, menggarisbawahi masalah daya tahan di set penentu. Ini bukan sekadar soal teknis, melainkan soal ketahanan psikologis di bawah tekanan final. Untuk Asian Games 2030, aspek mentalitas 'pemain final' harus menjadi fokus utama agar keunggulan teknis tidak lagi berubah menjadi antiklimaks di set terakhir atau gim-gim krusial.

Dengan total 11 medali perak, posisi Indonesia di papan medal order Asia masih tertinggal dari kompetitor utama seperti Tiongkok dan Jepang. Langkah logis selanjutnya adalah evaluasi mendalam terhadap persiapan fisik dan pola permainan di set-set akhir. Jangan sampai pola gagal membalikkan keadaan di set penentu menjadi norma baru. Perbaikan ini tidak boleh hanya bersifat reaktif, tetapi harus terintegrasi dalam siklus pelatihan jangka panjang untuk memastikan dominasi di Asia tetap terjaga.

BERITA TERKAIT (Olahraga)

Meow! Tanya Nesi!
😸