Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

47 UMKM Ikuti Pertamina SMEXPO di Ngasem, Transaksi 2024-2025 Capai Rp4 Miliar

Ekonomi & PasarDian KusumaDian KusumaSumber: CNN Ekonomi
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

47 UMKM Ikuti Pertamina SMEXPO di Ngasem, Transaksi 2024-2025 Capai Rp4 Miliar
BAGIKAN:

Pertamina SMEXPO Regional Yogyakarta 2026 dijadwalkan berlangsung pada 2-4 Oktober 2026 di Pasar Ngasem, membawa 47 pelaku usaha kecil dari lima daerah berbeda ke dalam satu ekosistem bisnis yang terintegrasi. Acara bertema "Lokal Jadi Vokal" ini tidak sekadar pameran, melainkan forum temu bisnis yang menjembatani produsen dari Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Aceh dengan calon pembeli dari sektor perhotelan, pariwisata, restoran, katering, hingga instansi pemerintah. Kehadiran 47 UMKM ini menjadi indikator kuat bahwa platform daring dan fisik masih menjadi urat nadi bagi ekonomi rakyat untuk menembus pasar yang lebih luas.

Penyelenggaraan di Pasar Ngasem merupakan yang ketiga kalinya, sekaligus menyelaraskan diri dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-270 Kota Yogyakarta. Lokasi strategis ini dipilih bukan tanpa alasan; Pasar Ngasem adalah nadi perdagangan tradisional kota, tempat di mana harga dan barang bergerak dinamis setiap hari. Dengan menyuntikkan elemen modern berupa temu bisnis dan pameran produk kreatif—meliputi kuliner, fesyen, kerajinan, dan produk unik lainnya—acara ini menyisipkan standar kemitraan korporat ke dalam ritme pasar tradisional yang telah hidup sejak berabadian. Bagi para pelaku UMKM, ini adalah jembatan antara produk lokal dan standar pengadaan institusi besar.

Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero), M. Erry Sugiharto, menegaskan bahwa esensi SMEXPO bukan hanya sebagai ruang promosi produk, tetapi sebagai arena pertemuan strategis antara UMKM dan pasar. "Pertamina SMEXPO tidak hanya kita hadirkan sebagai ruang untuk memperkenalkan produk, tetapi juga sebagai ruang bertemunya UMKM dengan pasar, mitra usaha, dan berbagai peluang pengembangan bisnis jangka panjang," ujar Erry. Pernyataan ini mengisyaratkan perubahan paradigma dari sekadar "menjual" menjadi "membangun kemitraan", di mana durasi hubungan bisnis menjadi metrik keberhasilan, bukan hanya volume transaksi sesaat.

Di balik panggung promosi, ada data konkret yang menopang klaim dampak ekonomi. President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, mengungkapkan bahwa pada 2024 dan 2025, SMEXPO Yogyakarta telah menarik lebih dari 3.000 pengunjung, dengan lebih dari 6.000 produk terjual dan total transaksi melampaui Rp4 miliar. Angka tersebut bukan statistik kosong, melainkan bukti nyata daya beli dan minat mitra yang tetap tinggi. Uniknya, tahun ini turut dipasarkan produk UMKM binaan dari Aceh melalui skema titip jual, mencakup kopi, madu hutan, keripik, bordir, dan anyaman pandan. Langkah ini merupakan bentuk solidaritas ekonomi, membantu pelaku usaha di Aceh bangkit dari dampak bencana dengan memfasilitasi akses pasar baru yang stabil.

Respons positif juga datang dari pelaku industri dan pemerintah daerah. Ita Listiana, pemilik Kripik Tempe HG, menilai platform ini sebagai contoh konkret dukungan untuk "naik kelas" melalui peningkatan akses pasar dan jejaring bisnis. Dukungan moral datang dari Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, yang mengapresiasi konsistensi Pertamina menghadirkan acara di Pasar Ngasem. Wawan menyebut selaraskan tema HUT ke-270 Kota Yogyakarta "Otentik Konkret" dengan penguatan potensi lokal. Rangkaian acara juga diperkaya dengan workshop, talkshow, lomba memasak, dan hiburan musik, menjadikan event ini bukan hanya transaksi jual-beli, tetapi ekosistem edukasi dan networking yang menyeluruh bagi 47 peserta UMKM tersebut.

Analisis Redaksi

Dalam arsitektur ekonomi Indonesia saat ini, kemitraan antara BUMN dan UMKM sering kali terjebak pada formalitas. Namun, format SMEXPO di Pasar Ngasem menunjukkan upaya sistematis untuk memutus rantai tersebut. Dengan memposisikan pasar tradisional sebagai hub, Pertamina sedang menguji ketahanan model "hybrid commerce", di mana kepercayaan masyarakat lokal menjadi modal awal yang kemudian dikonversi menjadi hubungan bisnis formal dengan institusi besar. Keberhasilan 6.000 produk terjual dalam dua tahun terakhir membuktikan bahwa ada kelaparan nyata di pasar korporat dan pemerintah akan produk lokal yang terkurasi, bukan sekadar produk yang tersedia.

Aspek distribusi produk dari Aceh melalui skema titip jual perlu diwaspadai keberlanjutan logistisnya. Apakah model ini akan berevolusi menjadi sistem supply chain yang permanen, atau hanya menjadi program CSR musiman? Jika kemitraan dengan sektor perhotelan dan pemerintahan berhasil dikonversi menjadi kontrak rutin, maka dampak ekonomi akan melampaui durasi event. Publik perlu mengawal apakah data transaksi Rp4 miliar itu murni berasal dari mitra korporat atau masih didominasi oleh pengunjung kasual, mengingat perbedaan nilai margin antara keduanya sangat signifikan bagi keberlangsungan usaha kecil.

BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Meow! Tanya Nesi!
😸