Pakar Unsoed: Swasembada beras jadi capaian positif pemerintahan Prabowo

Ekonomi
Siti AmaliaSiti Amalia
Sumber: Antara News
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pakar Unsoed: Swasembada beras jadi capaian positif pemerintahan Prabowo
BAGIKAN:

Prof Totok Agung Dwi Haryanto, pakar Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, menyatakan bahwa realisasi swasembada beras merupakan capaian positif bagi pemerintahan Presiden Prabowo. Suasana optimisme ini dibangun di atas fondasi data produksi pangan nasional yang menunjukkan tren perbaikan signifikan di sektor pertanian.

Komentar tajam tersebut disampaikan dalam merespons perkembangan data harga dan stok beras yang beredar di media nasional. Totok menilai konsistensi kebijakan pangan mulai memberikan dampak nyata pada ketersediaan pasokan domestik. Bagi masyarakat yang peduli, ini adalah sinyal bahwa ketahanan pangan tidak lagi sekadar retorika.

Unsoed, sebagai institusi pendidikan tinggi di Purwokerto, sering menjadi rujukan utama dalam kajian pertanian di Jawa Tengah. Prof Totok menegaskan bahwa keberhasilan swasembada memerlukan keberlanjutan sistem irigasi dan distribusi yang terstruktur. Tanpa fondasi infrastruktur yang kuat, capaian kuantitatif bisa saja rapuh.

Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Prabowo sedang bekerja keras mengonsolidasikan program ketahanan pangan nasional. Angka-angka statistik produksi yang dirilis badan terkait menunjukkan adanya selisih positif antara produksi dan konsumsi. Kondisi ini menggeser Indonesia dari posisi defisit menuju surplus, sebuah pergeseran paradigma yang besar.

Dampak langsung bagi publik terlihat pada stabilisasi harga pasar. Ketika suplai melimpah, tekanan inflasi dari komoditas pokok mereda. Warga urban dan rural merasakan langsung dampaknya pada daya beli di dapur rumah tangga masing-masing. Stabilitas harga ini menjadi penopang kesejahteraan ekonomi mikro.

Analisis Redaksi

Penilaian positif dari akademisi seperti Totok Agung Dwi Haryanto memiliki bobot berbeda dibanding narasi politik biasa. Sebagai entitas independen, dukungan Unsoed memberikan legitimasi teknis atas klaim swasembada yang sering kali didiskursuskan hanya dalam ranah kebijakan. Fakta bahwa pakar menyebut ini sebagai 'capaian positif' mengindikasikan bahwa indikator kuantitatif telah tercapai, bukan sekadar target ambisius.

Hal yang perlu diwaspadai justru di balik statistik keberhasilan tersebut. Swasembada rentan terhadap faktor cuaca ekstrem dan fluktuasi harga global pupuk. Jika fokus pemerintah hanya pada volume panen tanpa memperhatikan kelayakan ekonomi petani, ketergantungan pada bahan kimia akan terus berlanjut. Ini adalah jebakan klasik dalam kebijakan pangan jangka pendek.

Langkah logis selanjutnya bukan sekadar merayakan angka, tetapi membangun sistem diversifikasi pangan. Jika beras sudah stabil, kebijakan harus segera beralih ke ketahanan pangan nabati dan hewani untuk mengurangi beban neraca impor. Tantangan pemerintahan Prabowo kini adalah mengawetkan capaian swasembada ini dari satu tahun ke tahun berikutnya secara berkelanjutan.

Meow! Tanya Nesi!
😸