Kursi Roda Kendali Pikiran Raih Juara di China, Akurasi EEG Diklaim 95 Persen
Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Kursi roda berbasis antarmuka otak-komputer kini mampu bergerak hanya dengan fokus pikiran, sebuah terobosan yang mengubah imajinasi fiksi ilmiah menjadi realitas teknologi medis di China. Perangkat bernama AiMOGA BCI ini memungkinkan pengguna mengendalikan arah roda tanpa menggerakkan tangan, cukup dengan memusatkan perhatian pada layar. Kemampuan ini menjadi krusial bagi penyandang paraplegia tingkat tinggi maupun penderita stroke yang masih sadar namun kehilangan fungsi motorik.
Kedua perusahaan AiMOGA Robotics mengembangkan teknologi ini dengan memanfaatkan sinyal EEG non-invasif melalui delapan kanal perekam. Brain-computer interface menerjemahkan sinyal tersebut menjadi perintah gerak spesifik seperti maju, mundur, atau belok. Head of Brain-Computer Interface AiMOGA Robotics, Xie Yuyang, menjelaskan tujuan utama produk ini adalah membuka kemungkinan mobilitas bagi mereka yang mengalami keterbatasan gerak anggota tubuh. "Tujuan awal kami mengembangkan produk ini adalah untuk memberikan kemudahan dan membuka lebih banyak kemungkinan bagi penyandang paraplegia tingkat tinggi, orang yang mengalami stroke, serta orang dengan gangguan mobilitas lainnya," ujar Xie dalam keterangannya, Kamis (1/10).
Performa teknis AiMOGA BCI diklaim memiliki akurasi pengenalan perintah EEG lebih dari 95 persen dengan latensi jeda kurang dari tiga detik. Selain sinyal otak, perangkat ini dilengkapi LiDAR dan kamera kedalaman untuk navigasi berbasis peta serta penghindaran rintangan. Pengguna juga tetap bisa mengoperasionalkannya melalui layar sentuh atau tombol darurat, memberikan fleksibilitas dalam berbagai skenario penggunaan di kehidupan sehari-hari.
Uji coba nyata dilakukan dalam Global Brain-Computer Interface × Medical Insurance Innovation Scenario Competition 2026 di Hangzhou, China. AiMOGA BCI meraih juara pertama kategori "Mind-Driven Wheelchair Challenge" dengan menyelesaikan lintasan dalam 2 menit 16 detik, unggul 17 detik dari pesaing di posisi kedua. Unit yang dikirim dari Wuhu, Provinsi Anhui, tersebut disetel ulang untuk mematikan fitur penghindaran rintangan LiDAR sesuai aturan perlombaan, sehingga murni menguji kemampuan tangkap sinyal otak.
Kompetisi ini diselenggarakan oleh National Healthcare Security Administration of China bersama Pemerintah Provinsi Zhejiang, diikuti 415 tim dari berbagai bidang. Teknologi kesehatan menjadi sorotan utama karena tantangan lain mencakup pengendalian drone, lengan robot, hingga permainan balap berbasis kendali otak. Hasil tersebut membuktikan perangkat mampu menjaga stabilitas sinyal dan perintah dalam kondisi kompetisi yang ketat, membuka jalan bagi integrasi teknologi ini ke dalam layanan medis formal di masa depan.
Analisis Redaksi
Pencapaian akurasi di atas 95 persen dengan latensi rendah menandai transisi dari laboratorium ke dunia nyata yang lebih luas. Namun, tantangan sesungguhnya bukan lagi pada keakuratan teknis, melainkan pada standardisasi regulasi dan biaya aksesibilitas. Jika teknologi ini hanya menjadi kemewasan bagi sebagian kecil masyarakat, potensi revolusionernya akan terhambat. Perlu diwaspadai potensi kesenjangan teknologi antara negara maju dan berkembang dalam adopsi kesehatan digital ini.
Langkah logis berikutnya adalah studi kelayakan jangka panjang untuk penggunaan harian, bukan hanya dalam lintasan kompetitif. Aspek kelelahan kognitif pengguna saat mempertahankan fokus pikiran untuk waktu lama menjadi variabel kritis yang belum banyak disorot. Regulator di berbagai negara, termasuk Indonesia, sebaiknya mulai menyusun kerangka kerja untuk menguji keamanan dan efektivitas antarmuka otak-komputer sebelum produk komersial meluas ke pasar global.
BERITA TERKAIT (Teknologi)
