Komdigi Tegaskan Data Meutya Hafid Milih Lama, Janji Blokir Situs Penjual Data

Teknologi
Kevin SanjayaKevin Sanjaya
Sumber: CNN Teknologi
Kevin Sanjaya
Kevin Sanjaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Komdigi Tegaskan Data Meutya Hafid Milih Lama, Janji Blokir Situs Penjual Data
BAGIKAN:

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menegaskan bahwa dugaan kebocoran data pribadi Menteri Meutya Hafid yang ramai di media sosial berakar dari insiden lama, namun lembaga tersebut tidak akan tinggal diam.

Penyelidikan cepat dilakukan setelah akun Instagram @realmrbert mengunggah video yang mengaku menemukan kelahapalan data mentri, termasuk foto KTP, informasi keluarga, dan daftar password. Unggahan tersebut memicu kekhawatiran publik tentang keamanan informasi pejabat negara di ruang digital.

Dirjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi, Alexander Sabar, menjelaskan bahwa berdasarkan penjelasan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), data yang beredar adalah data lama yang kembali diramaikan. "Meski begitu, Komdigi tetap menindaklanjuti dengan melakukan pengusutan dan penindakan," kata Alex Sabar dalam keterangan resmi.

Komdigi kini berkoordinasi dengan Kepolisian untuk menindak situs yang memperjualbelikan data pribadi tersebut. Langkah teknis berupa pemblokiran akses ke situs melanggar ketentuan pun telah disiapkan. Penelusuran ini mencakup identifikasi sumber penyebaran hingga pihak-pihak yang terlibat dalam perdagangan data ilegal.

Alex juga mengingatkan masyarakat untuk tidak ikut memperluas sirkulasi data pribadi. Ia menegaskan bahwa data yang sudah bocor tetap terproteksi oleh hukum dan penyebarannya dapat berujung pada hukuman berat sesuai Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi. Komdigi memandang keamanan data sebagai tantangan lintas negara yang memerlukan kolaborasi pemerintah, aparat hukum, dan platform digital.

Analisis Redaksi

Respons resmi Komdigi ini penting dibaca sebagai pengingat keras: status 'data lama' tidak otomatis membuat kebocoran data menjadi legal atau aman diabaikan. Pernyataan bahwa data lama 'diramaikan kembali' menunjukkan pola serangan siber yang terus berkembang, di mana data yang pernah terekspos di masa lalu bisa kembali dipakai untuk ancaman, phishing, atau perdagangan ilegal kapan saja. Bagi pejabat publik, hal ini berarti tingkat kewaspadaan harus dipertahankan di level tertinggi, karena kredensial lama yang masih valid tetap bisa dieksploitasi oleh pelaku kejahatan siber.

Langkah pemblokiran situs dan koordinasi dengan kepolisian merupakan tindakan prosedural yang tepat, namun efektivitasnya bergantung pada kecepatan penegakan hukum lintas yurisdiksi. Dengan ancaman data yang tidak mengenal jabatan, setiap individu, termasuk masyarakat umum, perlu menyadari bahwa perlindungan data pribadi adalah tanggung jawab bersama. Mengambil tindakan pencegahan seperti mengubah password rutin dan meningkatkan keamanan akun adalah langkah minimal yang wajib dilakukan agar tidak terjebak dalam lingkaran perdagangan data ilegal.

Meow! Tanya Nesi!
😸