Gestur Jari Wasit Tajikistan Picu Kekeliruan Injury Time Timnas Indonesia vs Bangladesh
Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

- Insiden yang berawal dari hitungan jari ini memaksa wasit keempat Yusuke Ohashi asal Jepang mengoreksi durasi injury time dari dua menit menjadi tujuh menit dalam hitungan detik.
- Berdasarkan pengamatan CNNIndonesia.com, jelang akhir babak kedua wasit Nasrullo mengacungkan ibu jari dan telunjuk dengan salah satu tangannya.
- Gestur tersebut menyerupai salam 'Sajete'—jempol dan telunjuk terangkat—yang lazim dilakukan The Jakmania, kelompok pendukung Persija Jakarta.
Kekeliruan pengumuman tambahan waktu pada laga Timnas Indonesia melawan Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026, Kamis (1/10), memicu polemik luas setelah gestur tangan wasit Nasrullo Kabirov asal Tajikistan salah ditafsirkan oleh ofisial meja. Insiden yang berawal dari hitungan jari ini memaksa wasit keempat Yusuke Ohashi asal Jepang mengoreksi durasi injury time dari dua menit menjadi tujuh menit dalam hitungan detik.
Berdasarkan pengamatan CNNIndonesia.com, jelang akhir babak kedua wasit Nasrullo mengacungkan ibu jari dan telunjuk dengan salah satu tangannya. Gestur tersebut menyerupai salam 'Sajete'—jempol dan telunjuk terangkat—yang lazim dilakukan The Jakmania, kelompok pendukung Persija Jakarta. Penonton di stadion pun langsung bereaksi terhadap gerakan tangan sang pengadil lapangan.
Awalnya, papan elektronik yang dipegang wasit keempat Yusuke Ohashi menampilkan angka dua menit. Namun tak lama berselang, Ohashi menarik kembali papan tersebut dan mengoreksinya menjadi tujuh menit tambahan waktu. Perubahan mendadak inilah yang kemudian meledak menjadi topik panas di berbagai platform media sosial sepanjang malam pertandingan berlangsung.
Akar masalahnya terletak pada perbedaan budaya menghitung menggunakan jari. Rata-rata masyarakat Tajikistan mengenal hitungan dimulai dari jari kelingking untuk angka satu hingga ibu jari untuk angka lima. Akan tetapi, mengingat Tajikistan pernah menjadi bagian dari Uni Soviet, sebagian warganya juga terbiasa menggunakan ibu jari sebagai angka satu, dilanjutkan telunjuk untuk angka dua, dan seterusnya. Pola serupa berlaku bagi sebagian kultur Eropa seperti Jerman, di mana gestur menghitung selalu dimulai dari ibu jari. Dalam konteks ini, ibu jari dan telunjuk yang diangkat Kabirov bisa bermakna dua atau tujuh, tergantung kesepakatan awal tim ofisial pertandingan.
Dalam Laws of The Game yang disusun IFAB, tidak ada pasal yang menjelaskan secara spesifik standar gestur tangan untuk menghitung waktu tambahan. Pasal ketujuh hanya menegaskan bahwa wasit berhak menambah durasi injury time jika diperlukan untuk mengganti waktu yang terbuang akibat insiden tertentu, pemain cedera, atau hal lain yang membuat pertandingan terhenti. Aturan tersebut berbunyi tegas: "Wasit keempat menunjukkan durasi minimal yang ditentukan oleh wasit di menit akhir waktu normal setiap babak. Waktu tambahan bisa ditambahkan oleh wasit, tapi tidak boleh dikurangi."
Pertandingan antara Indonesia dan Bangladesh memang menyedot banyak waktu mati. Sistem VAR harus turun tangan beberapa kali, termasuk saat mengecek kemungkinan kartu merah terhadap Elkan Baggott serta memverifikasi keabsahan gol-gol yang tercipta. Para pemain dari kedua kubu juga berulang kali berjatuhan di lapangan. Seluruh jeda ini secara akumulatif menjadi dasar logis bagi Kabirov untuk menetapkan tambahan waktu yang jauh lebih panjang dari perkiraan awal penonton.
Analisis Redaksi
Insiden ini menelanjangi celah komunikasi nonverbal dalam perangkat aturan sepak bola modern. IFAB selama ini sangat detail mengatur pelanggaran fisik dan prosedur VAR, namun abai terhadap standarisasi bahasa tubuh antarwasit dari latar belakang budaya berbeda. Ketika seorang wasit asal Asia Tengah memimpin laga di Asia Tenggara bersama ofisial dari Jepang, potensi miskomunikasi visual bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Publik perlu memahami bahwa koreksi dari dua menjadi tujuh menit bukanlah bentuk ketidakadilan atau keberpihakan wasit terhadap salah satu tim. Secara regulasi, langkah Yusuke Ohashi justru sejalan dengan pasal ketujuh Laws of The Game yang melarang pengurangan waktu tambahan. Banyaknya intervensi VAR dan pemain yang terjatuh memberikan legitimasi penuh bagi penambahan durasi tersebut. Yang gagal adalah mekanisme penyampaian angka dari wasit utama ke wasit keempat.
Ke depan, IFAB maupun konfederasi sepak bola regional wajib mempertimbangkan protokol komunikasi digital langsung antara wasit utama dan wasit keempat untuk menentukan angka injury time. Mengandalkan gestur jari di tengah kebisingan stadion dan perbedaan budaya adalah praktik usang yang rentan memicu kontroversi tidak perlu. Tanpa perbaikan sistemik, insiden serupa akan terus berulang dan merugikan kredibilitas kompetisi itu sendiri.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

PSG kukuh di puncak Liga Champions, Barcelona kejar ketertinggalan setelah matchday keempat

Australia Rayu Mathew Baker, Piala Asia 2027 Diundur, Megawati Hangestri Debut di Liga Korea

Lepas dari BAM, Cheah Yee See Menikah dengan Teo Kok Siang di Bali
