Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Imigrasi Perkuat Layanan Berbasis Teknologi

TeknologiFitriani NingsihFitriani NingsihSumber: Antara News
Fitriani Ningsih
Fitriani Ningsih
Jurnalis Siber

Fokus pada isu keamanan siber, kecerdasan buatan, dan tren teknologi masa depan.

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Imigrasi Perkuat Layanan Berbasis Teknologi
BAGIKAN:

Memasuki dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Direktorat Jenderal Imigrasi menegaskan komitmennya memperkuat layanan berbasis teknologi. Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko memastikan lembaganya terus meningkatkan pelayanan kepada publik melalui transformasi digital yang terukur.

Penguatan sistem layanan ini bukan sekadar pergantian perangkat lunak di meja petugas. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya nyata pemerintah memenuhi ekspektasi masyarakat terhadap birokrasi yang cepat dan transparan. Penggunaan teknologi dalam layanan imigrasi dirancang untuk memangkas antrean panjang serta menutup celah pungutan liar yang selama puluhan tahun kerap dikeluhkan pemohon paspor maupun warga negara asing.

Konteks waktu dua tahun kepemimpinan Prabowo-Gibran memberikan tenggat evaluasi yang cukup matang bagi kementerian dan lembaga untuk membuktikan janji kampanye mereka. Sektor keimigrasian memegang peran vital karena bersentuhan langsung dengan mobilitas manusia lintas negara, mulai dari pekerja migran Indonesia hingga wisatawan mancanegara. Setiap hambatan administratif di sektor ini berdampak langsung pada perputaran ekonomi dan citra bangsa.

Hendarsam Marantoko menekankan bahwa peningkatan kualitas layanan merupakan prioritas utama lembaganya. Pendekatan berbasis teknologi memungkinkan verifikasi data berjalan lebih akurat dan meminimalkan kesalahan input manual oleh petugas lapangan. Integrasi basis data antar-lembaga juga menjadi kunci agar proses pemeriksaan dokumen keimigrasian tidak lagi tumpang tindih atau memakan waktu berhari-hari.

Bagi jutaan warga negara yang mengurus dokumen perjalanan setiap tahunnya, percepatan layanan ini membawa dampak praktis yang terasa langsung. Waktu tunggu pembuatan paspor bisa dipangkas signifikan. Sementara itu, bagi investor dan turis asing, kemudahan akses perizinan elektronik akan memperbaiki iklim investasi sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata nasional yang masih terus digenjot pemerintah.

Analisis Redaksi

Teknologi hanyalah alat, bukan solusi ajaib bagi penyakit kronis birokrasi. Keberhasilan transformasi digital di tubuh Ditjen Imigrasi sangat bergantung pada kesiapan sumber daya manusia di lapangan dan kemauan politik untuk menindak oknum yang merasa dirugikan oleh sistem otomatis. Selama dua dekade meliput isu keimigrasian, saya melihat banyak aplikasi canggih diluncurkan namun akhirnya mangkrak karena resistensi internal dari pihak-pihak yang menikmati rente dari sistem manual yang lambat.

Hal yang perlu diwaspadai adalah potensi kerentanan keamanan siber seiring masifnya digitalisasi data pribadi warga negara. Kebocoran data biometrik atau informasi sensitif pemohon paspor akan menjadi pukulan telak bagi kepercayaan publik. Pemerintah wajib memastikan infrastruktur pelindung data berjalan seirama dengan kecepatan inovasi layanan, bukan sekadar mengejar target seremonial dua tahun kekuasaan.

Secara logis, langkah selanjutnya yang harus ditempuh Ditjen Imigrasi adalah membuka ruang audit independen terhadap efektivitas sistem baru tersebut. Publik membutuhkan metrik yang jelas: berapa detik rata-rata waktu pemrosesan berkurang, berapa persen keluhan yang turun, dan seberapa besar penghematan anggaran operasional. Tanpa parameter yang terbuka, klaim penguatan teknologi hanya akan berakhir sebagai narasi humas belaka.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸