Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Desamorfosis 2026 Klaten Pamerkan 31 Desa Wisata dan 9 UMKM di Lapangan Barepan Cawas

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Desamorfosis 2026 Klaten Pamerkan 31 Desa Wisata dan 9 UMKM di Lapangan Barepan Cawas
BAGIKAN:

Puluhan desa wisata di Kabupaten Klaten memamerkan potensi unggulan mereka melalui Desamorfosis 2026 atau Festival Desa Wisata yang berlangsung selama dua hari, 25-26 September 2026, di Lapangan Barepan, Cawas. Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo membuka langsung ajang ini pada Jumat (25/9) sebagai upaya memperkenalkan pariwisata lokal kepada masyarakat luas, termasuk warga dari wilayah sekitar seperti Kabupaten Sukoharjo dan Gunungkidul.

Hamenang menegaskan bahwa pengembangan pariwisata membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. "Maka sudah sepatutnya, sepantasnya bersama-sama kita bergandengan tangan untuk kemudian bisa mengembangkan pariwisata di Kabupaten Klaten. Hari ini dan besok hadir puluhan stan-stan desa wisata yang ada di Kabupaten Klaten," ujar Hamenang. Ia ingin warga Cawas hingga tetangga kabupaten menyadari kekayaan wisata yang dimiliki daerah tersebut.

Menurut Hamenang, daya tarik desa wisata di Klaten sangat beragam. Mulai dari wisata air dan pegunungan hingga kesenian wayang serta wisata sejarah tersedia lengkap. "Hari ini dan ke depan kalau bicara wisata tidak harus kemudian kita keluar kota Kabupaten Klaten, cukup di Klaten sudah banyak sekali hal-hal yang kemudian bisa kita dapat," tuturnya. Ia menambahkan bahwa pengunjung bisa mendapatkan liburan, pelajaran, sekaligus oleh-oleh secara komplit untuk menggeliatkan ekonomi daerah.

Kepala Disbudporapar Klaten Titin Windiyarsih menjelaskan bahwa Desamorfosis 2026 digelar untuk memperingati Hari Pariwisata Dunia. "Tujuannya memperkenalkan potensi produk desa wisata yang telah mendapat surat keputusan menjadi desa wisata. Kemudian mendorong desa untuk menjadi desa wisata yang berkualitas, serta menggiatkan event pariwisata," jelas Titin. Tema "Klaten Desa Morfosis" dipilih untuk menggambarkan proses perubahan desa rintisan menjadi desa wisata maju.

Dalam pelaksanaannya, festival ini menghadirkan 40 stan yang terdiri dari 31 desa wisata dan sembilan UMKM. Titin melaporkan langsung kepada bupati bahwa sebenarnya terdapat 40 desa wisata terdaftar. "Matur, Mas Bupati, sebenarnya ada 40 desa wisata, tetapi ini yang 9 belum bisa mengikuti dikarenakan sesuatu hal," ujarnya. Rangkaian acara turut dimeriahkan berbagai lomba, penampilan kesenian dari 13 desa wisata, senam sehat bersama, serta penampilan kesenian Saleho dari Boyolali sebagai bentuk kolaborasi lintas kabupaten.

Analisis Redaksi

Fakta bahwa sembilan dari total 40 desa wisata berstatus resmi gagal tampil dalam Desamorfosis 2026 memunculkan pertanyaan mendasar soal kesiapan infrastruktur pendukung di tingkat desa. Surat keputusan penetapan desa wisata ternyata belum otomatis menjamin kapasitas manajerial pengelola lokal untuk mengikuti ajang berskala kabupaten. Kesenjangan antara status administratif dan kemampuan eksekusi di lapangan ini menjadi pekerjaan rumah serius bagi Disbudporapar Klaten agar pembinaan tidak berhenti pada tahap penerbitan dokumen.

Kehadiran kesenian Saleho dari Boyolali dan target audiens dari Sukoharjo serta Gunungkidul menunjukkan pergeseran strategi pemasaran pariwisata Klaten. Pemerintah kabupaten tidak lagi bermain di kandang sendiri. Mereka mulai membangun jejaring lintas wilayah untuk menarik arus pengunjung dari luar batas administrasi. Langkah taktis ini masuk akal mengingat kedekatan geografis ketiga daerah tersebut memungkinkan pergerakan wisatawan harian tanpa hambatan logistik berarti.

Ke depan, efektivitas festival semacam ini harus diukur melampaui keramaian dua hari pelaksanaan. Indikator keberhasilan sesungguhnya terletak pada lonjakan kunjungan nyata ke 31 desa wisata peserta setelah acara selesai, serta apakah sembilan desa yang absen kali ini mendapat intervensi khusus agar siap di edisi berikutnya. Tanpa evaluasi berbasis data kunjungan dan perputaran uang riil di tingkat desa, festival pariwisata hanya akan menjadi rutinitas seremonial tahunan yang membebani anggaran tanpa dampak ekonomi berkelanjutan.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ