Aji Santoso Akui Kepanikan Jadi Pemicu Utama De Red FC Tumbang di Tangan Persipura
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.
Kepanikan menjadi alasan utama De Red FC harus menelan pil pahit kekalahan saat berhadapan dengan Persipura dalam lanjutan Liga Championship. Aji Santoso, sang pelatih kepala, secara eksplisit menunjuk faktor mentalitas tim yang runtuh sebagai penyebab utama gagalnya mereka mengunci kemenangan di laga krusial tersebut.
Pernyataan Aji ini menegaskan bahwa sisi teknis permainan bukan satu-satunya penentu hasil akhir. Ia melihat bagaimana tekanan psikologis justru lebih menghantam performaw tim dari pada ketajaman lini depan atau soliditas pertahanan. De Red FC kehilangan kekompakan saat laga memasuki fase kritis, sehingga Persipura mampu mengeksploitasi celah yang terbuka.
Dalam konteks kompetisi Liga Championship yang semakin ketat, kesalahan sekecil apa pun di zona mental dapat berujung pada titik balik permainan. Aji menyadari bahwa pemainnya terlalu reaktif terhadap tekanan lawan, alih-alih bermain dengan skema yang sudah dirancang di ruang ganti. Pola permainan yang seharusnya terstruktur berubah menjadi serba dadakan karena panik.
Kondisi ini menunjukkan adanya fragilitas dalam kedewasaan kompetisi Liga Championship. Tim dengan kualitas teknis mumpuni seringkali jatuh tersandung jika tidak memiliki fondasi mental yang kuat. Persipura terbukti mampu memanfaatkan kelengahan tersebut untuk membalikkan keadaan atau mempertahankan skor kemenangan di lapangan.
Bagi pendukung De Red, hasil ini tentu bukan sesuatu yang ingin dibanggakan. Kegagalan menjaga konsentrasi di momen menentukan merupakan hal yang perlu menjadi bahan evaluasi serius sebelum jadwal pertandingan berikutnya. Tanpa perbaikan aspek psikologis, potensi kesalahan serupa akan terus mengintai di laga-laga selanjutnya.
Analisis Redaksi
Ungkapan Aji Santoso mengindikasikan adanya masalah struktural dalam manajemen tekanan De Red FC saat menghadapi lawan seimbang. Ketika seorang pelatih senior secara terbuka mengakui 'kepanikan' sebagai variabel utama kekalahan, itu menandakan bahwa protokol pengendalian emosi di lapangan tidak berjalan optimal. Ini bukan sekadar soal kalah menang, melainkan cerminan kesiapan tim dalam mengelola dinamika pertandingan yang fluktuatif.
Dampak dari hal ini bukan hanya pada skor, tetapi pada kepercayaan diri seluruh skuad. Jika tidak ditangani dengan pendekatan yang tepat—baik melalui video analysis maupun penguatan mental—tim berisiko terjebak dalam pola 'self-doubt' saat menghadapi tekanan similar. Musuh terberat De Red saat ini bukan lagi lawan, melainkan ketidakmampuan mereka untuk tetap tenang saat bola berada di kaki lawan.
Langkah logis yang harus segera diambil adalah isolasi masalah mental ini dalam sesi latihan pralaga. Tanpa pembenahan aspek ini, kemenangan di atas kertas taktik akan terus gagal berujung poin di papan skor. Persipura yang mampu memanfaatkan kondisi ini memberikan sinyal bahwa mereka adalah lawan yang berat untuk dijangkau jika De Red tidak bermain dalam kondisi psikologis terbaik.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Jack Miller Kritik Keputusan MotoGP Qatar, Sebut Mayoritas Pembalap Tidak Ingin Ikut Balapan

MotoGP 2026: Duel Marquez vs Martin, Acosta & Bezzecchi Masih Buka Peluang

Panas di Liga Champions: MU Siap Sambut AS Roma, Sang Raksasa yang Tak Ternodai di Serie A
