Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Sepuluh Anak Muda Jakarta Siap Dikukuhkan Jadi Duta Antihoaks Oktober 2026

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: CNN Nasional
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Sepuluh Anak Muda Jakarta Siap Dikukuhkan Jadi Duta Antihoaks Oktober 2026
BAGIKAN:

Sepuluh finalis Program Duta Antihoaks Jakarta 2026 mempresentasikan proyek kampanye literasi digital mereka di hadapan dewan juri pada 29 September 2026, setelah lolos dari saringan ketat 356 pendaftar. Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta menginisiasi program ini untuk mencetak penggerak muda yang mampu melawan hoaks berbasis kecerdasan buatan (AI) secara langsung di akar rumput.

Proses seleksi tidak berjalan instan. Sejak Juli 2026, para peserta melewati seleksi administrasi, tahapan penyaringan bertahap, In House Training, hingga pembekalan penyusunan project campaign. Sepuluh finalis yang tersisa kemudian menjalankan Proyek Kampanye Literasi Digital selama hampir sebulan penuh, tepatnya pada 28 Agustus hingga 25 September 2026. Hasil kerja lapangan itulah yang mereka paparkan saat penjurian.

Komposisi dewan juri mencerminkan upaya menggabungkan perspektif birokrasi, pendidikan, dan industri kreatif. Kepala Diskominfotik DKI Jakarta Marulina Dewi duduk bersama Kepala Pusat Pengembangan Literasi Digital BPSDM Kementerian Komunikasi dan Digital RI Rizki Ameliah. Tiga juri lain melengkapi panel tersebut: entrepreneur dan motivator Merry Riana, aktor sekaligus pegiat industri kreatif Dennis Adhiswara, serta Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Keumatan dan Keagamaan Nong Darol Mahmada.

Ancaman yang dihadapi anak-anak muda ini memang bukan lagi sekadar berita palsu berantai lewat aplikasi pesan singkat. Hoaks kini merambat melalui manipulasi foto dan video, deepfake, konten generatif berbasis AI, hingga impersonasi digital. Modus penipuan ikut berevolusi menjadi makin sulit dikenali oleh masyarakat awam. "Di era AI, tantangan kita bukan lagi sekadar membedakan informasi benar dan salah. Foto, suara, bahkan video dapat direkayasa dengan sangat meyakinkan," ujar Marulina dalam keterangan tertulisnya, Kamis (1/10).

Marulina menegaskan bahwa pertahanan terbaik Jakarta tidak boleh hanya bertumpu pada teknologi. Masyarakat perlu dibiasakan memeriksa sumber, memahami konteks, dan berpikir sebelum membagikan informasi. Penilaian terhadap finalis pun tidak berhenti pada kreativitas gagasan. Juri menimbang relevansi proyek terhadap persoalan nyata, kemampuan implementasi, komunikasi, kepemimpinan, dampak, serta keberlanjutan program. "Kami tidak mencari Duta Antihoaks yang hanya kuat di atas panggung. Kami mencari anak muda yang mampu berbicara dengan bahasa generasinya, turun ke masyarakat, dan mengubah pengetahuan menjadi gerakan. Setelah terpilih, pekerjaan mereka justru dimulai," pungkas Marulina.

Pengukuhan resmi direncanakan berlangsung pada Oktober 2026. Para duta nantinya akan menjadi mitra Diskominfotik untuk memperluas gerakan Jakarta Lawan Hoaks. Sasaran mereka mencakup sekolah, kampus, komunitas, ruang publik, dan kanal digital. Proyek kampanye yang dinilai potensial juga akan didorong agar bisa dikembangkan dan berdampak lebih luas bagi warga.

Analisis Redaksi

Rasio sepuluh finalis dari 356 pendaftar menunjukkan tingkat penyaringan sekitar 2,8 persen. Angka ini mengindikasikan bahwa Pemprov DKI Jakarta tidak sedang menggelar lomba seremonial belaka. Keterlibatan juri lintas sektor, mulai dari kementerian hingga figur industri kreatif seperti Merry Riana dan Dennis Adhiswara, membuktikan bahwa pendekatan literasi digital kini dituntut menembus batas-batas birokrasi konvensional agar pesannya relevan bagi generasi muda.

Pergeseran fokus dari sekadar mendeteksi berita palsu menjadi perlawanan terhadap deepfake dan konten generatif berbasis AI adalah langkah taktis yang terlambat jika tidak segera dieksekusi. Teknologi rekayasa suara dan visual bergerak jauh lebih cepat ketimbang regulasi. Mengandalkan perangkat lunak pendeteksi hoaks saja terbukti tidak memadai ketika pelaku kejahatan digital terus memodifikasi modus penipuan mereka setiap hari.

Ujian sesungguhnya baru dimulai setelah pengukuhan Oktober nanti. Keberhasilan program ini sepenuhnya bergantung pada apakah para duta mampu menjaga momentum kampanye di luar sorotan kamera. Jika proyek mereka mandek setelah seremoni selesai, inisiatif ini hanya akan menjadi catatan administratif tahunan. Sebaliknya, bila mereka benar-benar masuk ke sekolah dan komunitas dengan bahasa yang dipahami sebaya mereka, gerakan antihoaks Jakarta punya fondasi sosial yang jauh lebih kokoh dibanding sekadar imbauan pemerintah.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸