Herdman Ingatkan Tragedi Kanjuruhan Jelang Duel Kruif Cup Lawan Bangladesh
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Jelang laga penentu grup FIFA ASEAN Cup 2026 yang mempertemukan Timnas Indonesia melawan Bangladesh pada Kamis (1/10), pelatih John Herdman menegaskan bahwa pertandingan ini menjadi momen refleksi empat tahun pasca-Tragedi Kanjuruhan. Herdman menyatakan ada peringatan internal khusus bagi skuad Garuda terkait ingatan pilu empat tahun silam di Stadion Kanjuruhan, Malang.
"Secara internal, tentu saja ada [peringatan soal Tragedi Kanjuruhan]. Tim ini adalah representasi dari sepak bola di negara ini," ucap Herdman ketika ditemui di sela-sela latihan Timnas Indonesia jelang melawan Bangladesh di Jakarta, Rabu (30/9) petang. Pelatih asal Inggris ini menyadari betul bobot emosional dari tanggal hari pertama Oktober, hari di mana sepak bola Indonesia pernah mendunia dengan wajah terburuknya.
Alasan Herdman sangat memahami konteks tragedi tersebut karena ia sudah mengetahui kejadian itu jauh sebelum datang ke Asia. "Saat masih berada di Kanada, Amerika Utara, kami sudah tahu betul apa yang terjadi di sini dan sempat mengheningkan cipta dalam sebuah pertandingan," terangnya. Pengalaman membawa Kanada ke Piala Dunia 2022 membuat Herdman memahami betapa fatalnya kesalahan manajemen penonton dan protokol keamanan.
"Jika kita lupa, kita tidak akan belajar," ujarnya singkat penuh makna. Herdman meyakini bahwa mengingat tragedi bukan sekadar nostalgia, melainkan peringatan keras agar keselamatan dan martabat sepak bola tidak lagi dilanggar. Pesan ini disampaikan di tengah tekanan performa tim yang harus menang agar bisa melaju ke final turnamen.
Mengenai teknis permainan, Herdman memberikan instruksi tegas kepada Kevin Diks dan rekan-rekannya. "Penting bagi para pemain untuk tampil mewakili negara dengan cara yang benar besok, sekaligus memberi penghormatan bagi mereka yang kehilangan nyawanya," tukas Herdman. Kemenangan di laga terakhir grup ini akan menentukan nasib Indonesia di kompetisi, namun bagi sang pelatih, cara mereka menang haruslah terhormat.
Analisis Redaksi
Pernyataan John Herdman bukan sekadar retorika simpati, melainkan pengingat struktural bahwa sepak bola Indonesia belum sembuh total dari trauma Kanjuruhan. Empat tahun berselang, luka ini masih menjadi bayangan yang mengikuti setiap pertandingan besar di bulan Oktober. Bagi publik, ini adalah sinyal bahwa federasi dan pelatih kini mulai menginternalisasi aspek kemanusiaan ke dalam protokol pertandingan, bukan hanya aspek taktis.
Perlu diwaspadai bahwa momentum FIFA ASEAN Cup 2026 ini akan diuji oleh respons penonton dan stadinum. Jika protokol keamanan yang diperketat pasca-insiden masih dijalankan dengan lemah, peringatan dari Herdman akan terasa naif. Langkah selanjutnya harus menunjukkan bahwa "memperhatikan" bukan hanya di ruang ganti, tetapi di pintu masuk stadion dan sistem tata kelola penonton.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Persib Bandung Hadapi Melbourne Victory di ACL 2: Jadwal, Strategi, dan Dampaknya pada Grup E

2.300 Atlet Padati GOR Ciracas, Liga Taekwondo DKI Jakarta Seri 14 Gencar Bidik Regenerasi Atlet Internasional

Persib Tampil Konsisten, Persija Rawan Terlempar dari Puncak Klasemen
