Distorsi Sejarah Picu The Assassin(s) Dipolisikan dan Terlempar dari Puncak Box Office
Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Dominasi box office Korea film The Assassin(s) mendadak terhenti setelah dugaan distorsi sejarah memicu pelaporan pidana ke Kepolisian Metropolitan Seoul. Film yang dibintangi Yoo Hae-jin, Lee Min-ho, dan Park Hae-il ini awalnya menjadi penggerak utama pasar, namun kini tergeser oleh kontroversi yang melibatkan akurasi narasi sejarah di era Presiden Park Chung-hee.
Akar masalahnya terletak pada premis film arahan sutradara Hur Jin-ho yang mengangkat kisah nyata upaya pembunuhan mantan Presiden Park Chung-hee pada 1974. Secara historis, insiden yang menewaskan Ibu Negara Yuk Young-soo didalangi oleh Mun Se-gwang, bukan sebuah konspirasi tingkat tinggi. Namun, judul film yang menggunakan bentuk jamak "Assassin(s)" serta adegan yang mengisyaratkan keterlibatan lembaga negara memicu amarah publik.
Kemarahan ini bukan tanpa alasan. Yayasan Presiden Park Chung-hee merilis pernyataan resmi pada Senin (28/9), menuntut permintaan maaf publik dan penghentian total penayangan. Situasi memanas keesokan harinya saat Lee Jong-bae, mantan anggota dewan dari People Power Party (PPP), melaporkan sutradara beserta tim produksi atas tuduhan pencemaran nama baik. "Film ini menyajikan rangkaian adegan yang memunculkan kecurigaan mengenai keterlibatan aparat kekuasaan negara pada masa itu," tegas Lee Jong-bae.
Menanggapi tekanan politik tersebut, Hive Media Corp menegaskan bahwa film ini adalah karya fiksi yang meminjam motif peristiwa 1974 dengan bumbu imajinasi sinematik, bukan revisi sejarah. "Film ini sama sekali tidak menyebutkan sosok tertentu sebagai pihak di balik insiden tersebut," jelas pihak produksi. Mereka juga membantah rumor liar di komunitas daring terkait aliran dana investor China, memastikan seluruh pembiayaan berasal dari modal kreator Korea Selatan.
Dampak komersial langsung terlihat pada data Dewan Film Korea. Setelah memimpin selama libur Chuseok, film ini anjlok ke posisi kedua pada Senin dengan raihan 67.406 penonton, kalah dari Tazza: Beelzebub's Song yang meraup 68.913 penonton. Tren negatif ini diprediksi berlanjut karena angka presale The Assassin(s) tertahan di 11,3 persen, terpaut di bawah film animasi Jepang Chiikawa the Movie.
Analisis Redaksi
Sengketa ini menggarisbawahi rapuhnya batas antara rekonstruksi sinematik dan historiografi dalam perfilman Korea Selatan. Ketika sebuah karya fiksi dianggap merevisi memori kolektif tentang tragedi politik negara, reaksi politik dan hukum tak terhindarkan. Kasus The Assassin(s) menunjukkan bahwa risiko finansial bagi investor lokal kini mencakup potensi boikot berbasis naratif, bukan sekadar kegagalan kualitas film.
Langkah pelaporan ke polisi oleh figur politik seperti Lee Jong-bae mengindikasikan bahwa sengketa ini telah melampaui debat intelektual di ruang publik. Ini adalah instrumen politik untuk menekan industri kreatif yang dianggap mengancam legitimasi memori nasional. Bagi sektor hiburan, ini adalah peringatan keras bahwa akurasi sejarah adalah garis merah yang tidak bisa dilanggar demi keuntungan box office semata.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Lima Sinema Drama China Terbaru November 2026: dari Romansa VR hingga Intrik Balas Dendam Kerajaan

Rayakan 10 Tahun, 'Your Name' Kembali Putar di Bioskop Indonesia Beserta Kesan Visual 4K

Bioskop Trans TV Perkenalan Civil War (2024) di Layar Kaca, Hadirkan Rangkaian Film Aksi dan Horor 2-8 November 2026
