Rafli Tewas Tertembak Saat Tawuran, Polisi Usut SOP Anggota Polsek Tallo

Hukum
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Rafli Tewas Tertembak Saat Tawuran, Polisi Usut SOP Anggota Polsek Tallo
BAGIKAN:

Propam Polda Sulawesi Selatan kini mengusut tuntas kasus tewasnya Rafli (19), seorang pemuda yang diduga menjadi korban tembak dari senjata petugas kepolisian saat berusaha membubarkan tawuran di Kecamatan Tallo, Makassar. Kejadian ini memicu ketegangan berkepanjangan setelah keluarga dan warga menolak hasil visum awal, memicu bentrokan lanjutan yang melibatkan ratusan orang pada Minggu (27/9) malam.

Peristiwa fatal itu terjadi pada dini hari sekitar pukul 02.50 WITA. Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Didik Supranoto, menjelaskan bahwa lima personel Polsek Tallo diterjunkan untuk menangani pertikaian antarwarga. Saat tiba di lokasi, polisi justru mendapat perlawanan berupa lemparan batu dan anak panah. "Kemudian personel memberikan tembakan peringatan, sehingga [memaksa pelaku tawuran] membubarkan diri. Namun, sekitar pukul 04.50 WITA, diperoleh informasi bahwa ada seseorang yang menjadi korban," ujar Didik. Informasi awal mengindikasikan Rafli, warga Jalan Kandea, terkena tembakan dari personel di lokasi.

Korban sempat dilarikan ke rumah sakit TNI Angkatan Laut untuk mendapat perawatan medis, namun nyawanya tidak tertolong. Jenazah Rafli kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Makassar untuk menjalani pemeriksaan forensik lebih lanjut. Kabid Dokkes Polda Sulsel, Kombes Pol M Haris, mengonfirmasi temuan fisik pada tubuh korban. "Pada pemeriksaan kita dapatkan memang di punggung belakang ada luka yang bundar, kemudian pada pemeriksaan selanjutnya ada luka keluar yang menyerupai luka tembak," kata Haris. Autopsi dilakukan dengan persetujuan keluarga untuk memastikan penyebab kematian secara definitif.

Bentrokan baru pecah pada pukul 20.30 WITA, saat ratusan warga menyerang personel Sabhara Polrestabes Makassar yang sedang melakukan pengamanan di sekitar pengantaran jenazah. Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, menuturkan bahwa kerusuhan dipicu isu liar yang beredar di tengah warga. Sebagian warga mengira kelompok dari wilayah lain melakukan penyerangan, sehingga situasi memanas akibat provokasi. Polisi melepaskan gas air mata untuk membubarkan massa yang melemparkan batu, petasan, dan anak panah. "Selalu ada isu-isu demikian dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Mereka percaya dengan isu itu, padahal sebenarnya mungkin tidak ada," jelas Arya. Situasi baru mereda sekitar pukul 23.30 WITA setelah pasukan gabungan membubarkan penyerangan. Tiga anak yang sempat diamankan karena melakukan pelemparan dikembalikan ke keluarga karena tidak ditemukan unsur pidana.

Asrulla (40), kakak kandung Rafli, menyatakan sikap pasrah namun menuntut keadilan melalui jalur hukum. "Setelah kasus ini, akan saya serahkan sepenuhnya kepada pihak yang berwajib. Apapun hasilnya. Insyaallah saya mau ingin hasil yang terbaiklah, itu saja," kata Asrulla. Saat ini, anggota Polsek Tallo yang bertugas saat kejadian tengah diperiksa oleh Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sulsel dan Itwasda untuk menentukan siapa pelaku, alat yang digunakan, serta kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP). Pemeriksaan ini menjadi kunci untuk meluruskan fakta lapangan yang sempat tumpang tindih dengan emosi massa.

Analisis Redaksi

Pemeriksaan ganda oleh Propam dan Itwasda menunjukkan keseriusan institusi kepolisian dalam menangani kasus yang melibatkan personel mereka sendiri. Fokus investigasi pada kepatuhan SOP dan penggunaan senjata api menjadi penentu hukum selanjutnya. Jika ditemukan pelanggaran prosedur, hal ini akan berdampak signifikan pada akuntabilitas Polri di hadapan publik, khususnya di wilayah rawan konflik sosial seperti Makassar.

Keterlibatan anak-anak dalam bentrokan malam hari mengindikasikan rapuhnya kontrol sosial di permukiman setempat. Isu-isu provokatif yang dengan cepat memicu kerusuhan menunjukkan adanya kesenjangan komunikasi antara aparat dan warga. Tanpa mekanisme dialog yang efektif, potensi eskalasi konflik serupa sangat besar, mengingat sentimen emosional terhadap kematian warga yang menjadi korban tembak polisi masih sangat tinggi di tengah masyarakat.

Meow! Tanya Nesi!
😸