Mojtaba Khamenei Klaim Iran Sukses Usir Musuh dari Laut Arab, Pezeshkian Bantah Isu Cedera

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Mojtaba Khamenei Klaim Iran Sukses Usir Musuh dari Laut Arab, Pezeshkian Bantah Isu Cedera
BAGIKAN:

Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengklaim bahwa pasukan Teheran telah berhasil memukul mundur musuh dari perairan lepas pantai selatan hingga ke area Laut Arab. Klaim ini disampaikan dalam sebuah pesan tertulis yang dirilis pada Senin (28/9), bertepatan dengan peringatan Perang Iran-Irak dan pemakzulan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah oleh Israel pada 2024 lalu. Ia menegaskan bahwa setelah menerima pukulan telak dari pejuang Iran dan penjaga Selat Hormuz, pihak musuh tidak lagi berani bergerak melampaui batas Laut Arab.

“Setiap kali mereka mencoba mengambil risiko tersebut, mereka justru mendatangkan kerugian bagi diri mereka sendiri,” kata Khamenei dalam pesan tersebut, seperti dikutip Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa perang yang dipicu oleh musuh justru tidak melemahkan Iran, melainkan menyebabkan kerugian signifikan bagi Teheran. Pernyataan ini menandai semakin dekatnya waktu di mana Laut Arab akan dibersihkan dari keberadaan kekuatan musuh.

Kehadiran Khamenei di panggung publik menjadi topik spekulasi sejak ia menggantikan sang ayah, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Februari lalu. Selama periode tersebut, Iran hanya merilis pesan tertulis dan sejumlah foto yang menunjukkan kehadiran Khamenei di pemerintahan di tengah [perang dengan AS](#) yang sedang berlangsung. Ketidakmampuannya untuk muncul secara fisik, bahkan saat proses pemakaman ayahnya yang berlangsung kurang lebih sepekan, memicu pertanyaan luas mengenai kondisinya.

Laporan intelijen sempat beredar bahwa Khamenei terluka parah akibat imbas serangan AS-Israel pada Februari. Isu ini akhirnya ditepis langsung oleh Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, yang menyatakan bahwa pemimpin tertinggi itu tidak mengalami masalah kesehatan serius. Sebagai seorang dokter, Pezeshkian menegaskan bahwa dari sudut pandang medis, Khamenei sepenuhnya sehat. Ia bahkan mengungkapkan telah bertemu dengan Khamenei dua kali, dengan pertemuan terakhir berlangsung lebih dari 7 jam.

Pernyataan Pezeshkian tersebut disampaikan kepada stasiun televisi AS, CBS News, dalam wawancara yang ditayangkan pada Minggu (27/9) waktu setempat. Klarifikasi ini bertujuan menenangkan publik dan mematahkan narasi internal maupun eksternal yang meragukan keberlangsungan kepemimpinan Khamenei di tengah ketegangan geopolitik. Dengan menegaskan kondisi fisik Khamenei, Teheran berupaya menjaga stabilitas legitimasi pemerintahan di mata warganya sendiri dan komunitas internasional.

Analisis Redaksi

Politisi Iran sedang memainkan strategi komunikasi yang rumit: menggunakan klaim kemenangan militer di Laut Arab untuk membangun narasi patriotik di tengah isolasi, sementara secara bersamaan membantah rumor kelumpuhan fisik pemimpin mereka. Kontras antara klaim “mengenakan kerugian pada musuh” dan fakta bahwa Ali Khamenei tewas dalam serangan awal perang menunjukkan upaya Teheran untuk membingungkan pihak lawan tentang kapasitas sebenarnya dari komando militer dan politik mereka saat ini.

Meskipun Pezeshkian mengklarifikasi kesehatan Khamenei, absennya pemimpin tertinggi di publik selama berbulan-bulan tetap menjadi kerentanan strategis. Jika klaim penguasaan Laut Arab oleh Iran ternyata tidak sesuai dengan realitas di lapangan, maka pesan ini bisa dibaca sebagai propaganda untuk mengalihkan perhatian dari potensi kerugian taktis. Publik internasional dan mitra dagang perlu mewaspadai apakah kesiapan militer Iran di Selat Hormuz benar-benar terkoordinasi secara efektif atau hanya sekadar retorika yang dirancang untuk mempertahankan citra aji yang tersisa.

Meow! Tanya Nesi!
😸