Iran Klaim Rampas Drone Bawah Laut AS di Selat Hormuz, CENTCOM Membantah
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara resmi mengeklaim telah merampas sebuah drone bawah laut milik Amerika Serikat di perairan Selat Hormuz. Dalam pernyataan yang dirilis pada Minggu (27/9), angkatan laut IRGC menyebut kendaraan nirawak berjenis REMUS 600 tersebut diamankan melalui serangkaian operasi intelijen yang terukur.
Pihak IRGC menjelaskan bahwa keberhasilan perampasan ini merupakan buah dari operasi terkoordinasi yang melibatkan pengawasan intelijen serta penggunaan peperangan elektronik. Melalui keterangan yang dikutip oleh AFP, militer Iran menegaskan bahwa drone canggih tersebut kini berada di tangan para ahli militer Iran untuk proses pengambilan data.
Drone REMUS 600 sendiri dikenal sebagai perangkat dengan bobot ringan yang dilengkapi sistem modular, mencakup sensor mutakhir, kamera, dan sonar. Kendaraan ini dirancang khusus untuk misi pengawasan, pemetaan dasar laut, inspeksi bawah air, serta penanggulangan ranjau laut. Secara teknis, perangkat ini mampu beroperasi hingga kedalaman 600 meter dan jamak digunakan oleh Angkatan Laut AS serta beberapa negara NATO.
Menanggapi klaim tersebut, Pusat Komando AS (CENTCOM) memberikan bantahan tegas. Juru bicara CENTCOM, Tim Hawkins, menyatakan kepada Al Jazeera bahwa Washington tetap memegang kendali penuh atas semua aset drone operasional miliknya. Pernyataan ini secara langsung memicu silang pendapat antara kedua pihak mengenai status keberadaan perangkat tersebut.
Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan di kawasan strategis tersebut, mengingat ini merupakan kali kedua Iran mengeklaim merebut aset militer AS dalam kurun waktu singkat. Sebelumnya, pada awal bulan ini, IRGC mengaku telah mengambil alih kapal selam otonom besar jenis Dive-LD buatan perusahaan pertahanan California, Anduril. Meski saat itu CENTCOM secara implisit mengakui kehilangan asetnya, mereka berdalih bahwa kapal selam tersebut mengalami malfungsi teknis.
Analisis Redaksi
Klaim berulang dari IRGC mengenai perampasan aset bawah laut menunjukkan eskalasi taktis dalam perang intelijen di Selat Hormuz. Ketidaksinkronan narasi antara IRGC dan CENTCOM menegaskan bahwa perairan ini bukan sekadar jalur pelayaran komersial, melainkan arena uji coba peperangan elektronik yang sensitif. Penguasaan Iran terhadap teknologi drone bawah laut canggih milik AS berpotensi memberikan akses bagi Teheran untuk mempelajari doktrin pertahanan dan kemampuan pengawasan Washington di kawasan Teluk.
Perlu diwaspadai bahwa manuver ini dapat menjadi pola baru dalam konfrontasi asimetris antara Iran dan AS. Jika Iran benar-benar berhasil membedah data di dalam REMUS 600, kerugian bagi Washington tidak hanya bersifat material, tetapi juga ancaman terhadap kerahasiaan operasional aset bawah laut mereka di masa depan. Langkah selanjutnya kemungkinan besar akan melibatkan penguatan pengawalan aset pengintaian oleh AS, yang justru berisiko meningkatkan gesekan militer di salah satu jalur tersibuk dunia ini.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
