PSSI dan berbuatbaik.id Fasilitasi 300 Anak Prasejahtera Saksikan Laga ASEAN Cup di Bandung
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Sebanyak 300 anak dari kalangan prasejahtera merasakan langsung atmosfer pertandingan internasional saat menyaksikan dua laga FIFA ASEAN Cup 2026 antara Pakistan dan Thailand di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, pada Sabtu (26/9).
Inisiatif ini bukan sekadar tiket gratis, melainkan hasil kerja sama strategis antara PSSI dengan platform berbuatbaik.id. Program tersebut dirancang untuk memastikan anak-anak dari latar belakang ekonomi terbatas tetap bisa memiliki akses terhadap hiburan berkualitas. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa event besar tidak hanya menyasar segmen pembeli tiket reguler, tetapi juga mengedepankan sisi sosial kemasyarakatan.
Salman Avicena Kundara, salah satu peserta dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Alexis binaan CT Arsa Foundation, menjadi gambaran nyata antusiasme tersebut. "Aku seneng banget bisa nonton," ujarnya dengan senyum lebar saat diwawancara oleh tim berbuatbaik.id. Salman tidak datang sendirian; ia hadir bersama temannya, Andika Abdul Raffa Pratama, serta ratusan peserta lain yang telah berkumpul sejak siang. Protokol keamanan dan tata tertib dijaga, di mana mereka mengambil tiket di Gedung Budaya Sabilulungan sebelum akhirnya memasuki arena stadion menjelang pukul 16.00.
Gairah penonton cilik ini turut dibarengi oleh dukungan dari komunitas lokal seperti Abdul Rosyid dari Komunitas Dongeng Cimahi yang datang bersama orang tuanya. Interaksi antarpenonton mengalir natural. Anak-anak ini melebur dengan ribuan penonton lain, tidak segan memberikan sorakan dan teriakan dukungan bagi tim Thailand maupun Pakistan yang tengah beradu skor. Energi positif tersebut memecah kesunyian stadion dan menciptakan dinamika unik di tengah laga bertaraf internasional.
Antusiasme yang terpancar dari 300 suporter kecil ini diharapkan menjadi preseden positif sepanjang penyelenggaraan FIFA ASEAN 2026. Penyelenggara dan publik kini dihadapkan pada standar baru: sebuah turnamen bergengsi tidak hanya diukur dari siapa yang juara, tetapi juga dari memori dan nilai kemanusiaan yang tertanam di benak para penonton, terutama generasi muda yang selama ini seringkali terpinggirkan dari akses hiburan elite.
Analisis Redaksi
Langkah kolaboratif antara PSSI dan mitra komunitas dalam mengintegrasikan elemen sosial ke dalam event olahraga besar merupakan sinyal pergeseran paradigma. Selama ini, aspek CSR (Corporate Social Responsibility) dalam olahraga Indonesia sering kali bersifat reaktif atau sporadis. Namun, pelibatan 300 anak prasejahtera secara terstruktur menunjukkan adanya desain program yang matang, di mana aspek empati sosial telah menjadi bagian dari operasional utama event.
Yang perlu diwaspadai di sini adalah keberlanjutan dampak sosial tersebut. Apakah inisiatif ini akan berhenti pada pertandingan di Bandung, atau menjadi template nasional untuk leg-leg berikutnya? Jika hanya sebatas gawe satu hari di stadium tertentu, maka nilai sosialnya akan tereduksi menjadi sekadar foto op. Untuk itu, transparansi data dan evaluasi pasca-event menjadi krusial agar nilai positif ini benar-benar terserap oleh komunitas lokal, bukan sekadar konsumsi media sesaat.
Ke depan, langkah logis yang perlu dilakukan adalah memperluas skema kemitraan ini dengan sekolah-sekolah sepak bola dan panti asuhan di berbagai kota tuan rumah. Dengan demikian, FIFA ASEAN Cup tidak hanya menjadi panggung kompetisi, tetapi juga wahana penguatan karakter generasi muda, selaras dengan semangat inklusivitas yang seharusnya melekat pada sportivitas sejati.
