Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Hanung Bramantyo Unggah 'Lobang Buaya' di Festival Rotterdam, Dorong Generasi Muda Rekam Amnesia Sejarah

SelebritiRio DewantaraRio DewantaraSumber: KapanLagi
Rio Dewantara
Rio Dewantara
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Hanung Bramantyo Unggah 'Lobang Buaya' di Festival Rotterdam, Dorong Generasi Muda Rekam Amnesia Sejarah
BAGIKAN:

Film "Lobang Buaya" karya sutradara Hanung Bramantyo diproyeksikan tayang di Indonesia pada 1 Oktober, setelah sebelumnya melakukan penayangan perdana di International Film Festival Rotterdam 2026. Proyek produksi Adhya Pictures ini sengaja mengangkat tragedi kemanusiaan sekitar 1965 melalui genre horor, sebuah pilihan strategis untuk memaksa generasi muda menatap kembali sejarah kelam yang sering kali terpinggirkan dari ingatan kolektif.

Konsep film ini berakar dari kontemplasi pribadi Hanung selama masa pandemi Covid-19. Tumbuh besar di era Orde Baru, ia masih ingat bagaimana pemerintah saat itu mengemas tragedi 1965 sebagai kisah horor untuk menakut-nakuti masyarakat terhadap ideologi komunis. Pengalaman itu mendorongnya memilih genre tersebut sebagai medium yang efektif mempertemukan fiksi dengan realitas sejarah yang belum sepenuhnya terungkap secara resmi.

Skrip "Lobang Buaya" mulai ditulis pada 2024 dan proses syuting berlangsung di akhir tahun yang sama. Cerita berlatar pada 1964, yakni 309 hari sebelum peristiwa 30 September 1965. Fokus narasi tertuju pada dinamika sosial-politik di sebuah desa, dengan sorotan khusus pada propaganda "tujuh setan desa". Istilah ini merujuk pada pejabat yang menghisap rakyat kecil dan petani demi menopang kepentingan tuan tanah atau korporasi besar.

Deretan aktor muda seperti Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, dan Khiva Iskak menghidupkan dinamika desa tersebut, berpadu dengan kehadiran Mathias Muchus sebagai karakter kunci Sukarya. Bagi Hanung, ketimpangan yang dilukiskan lewat metafora "setan desa" tersebut tidak hanya relevan di masa itu, tetapi juga tercermin jelas dalam kondisi Indonesia saat ini.

Hanung menegaskan bahwa pertanyaan kritis yang muncul adalah mengapa justru Partai Komunis Indonesia yang dihilangkan, sementara "tujuh setan desa" masih bertahan hingga sekarang, bahkan di tingkat yang lebih besar. Melalui film ini, ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak hanya mengingat tragedi tersebut, tetapi juga terdorong untuk menuntut investigasi menyeluruh serta rekonsiliasi yang jelas mengenai alasan di balik peristiwa 30 September 1965.

Analisis Redaksi

Pilihan Hanung Bramantyo untuk membingkai sejarah kelam 1965 dalam genre horor bukan sekadar eksperimen estetika, melainkan strategi retoris yang kuat. Dengan menjadikan ketakutan sebagai gerbang masuk, film ini mencoba menjembatani jarak emosional antara generasi milenial dan Gen-Z dengan trauma kolektif bangsa. Di tengah tren sinema Indonesia yang mulai menjauh dari isu-isu berat, keberanian ini menjadi sinyal pergeseran penting di mana sejarah tidak lagi dianggap materi bosan, melainkan elemen yang tetap relevan untuk dibaca ulang melalui kacamata masa kini.

Metafora "tujuh setan desa" yang diangkat dalam film ini menyajikan kritik struktural yang tajam terhadap ketimpangan ekonomi dan kekuasaan di Indonesia. Ketika Hanung menyandingkan nasib PKI dengan kelangsungan hidup elite yang menghisap rakyat, ia secara implisit menantang narasi resmi yang seringkali berhenti di label ideologis dan mengabaikan masalah struktural. Ini merupakan undangan bagi penonton untuk tidak berhenti di nostalgia, melainkan melihat bagaimana pola penghisapan tersebut mungkin bertransformasi di era kontemporer, sehingga menuntut sebuah rekonsiliasi yang lebih komprehensif daripada sekadar pengakuan politik.

Meow! Tanya Nesi!
😸