Ustaz Naruto: Umrah Diam-Diam dan Membantu Tetangga Lebih Utama dari Ritual Seremonial

Berita Nasional
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Pimpinan Redaksi

Jurnalis senior dengan pengalaman 15 tahun meliput isu politik dan berita nasional di Indonesia.

Ustaz Naruto: Umrah Diam-Diam dan Membantu Tetangga Lebih Utama dari Ritual Seremonial
BAGIKAN:

Penceramah kondang Ustaz Marzuki Imron, yang akrab disapa Ustaz 'Naruto', menegaskan bahwa nilai ibadah umrah tidak ditentukan oleh keberangkatan yang seremonial. Dalam sesi kajian Islamic Travel Connect Surabaya, ia menggarisbawahi bahwa pulang pergi secara diam-diam sama sah dan mulianya dengan perayaan yang mengundang banyak orang.

"Umrah ya umrah saja, ndak harus bikin pengajian," ujar Ustaz Marzuki di Atrium Utama Royal Plaza Surabaya, Sabtu (26/9). Ia memberi contoh personal: tetangga tidak perlu tahu keberangkatan, dan kepulangan pun boleh tanpa pengumuman. Namun, ia mengingatkan pentingnya berbagi buah tangan sebagai wujud syukur, meskipun tanpa acara khusus di rumah.

"Ndak ada pengajian di rumah baik sesudah atau sebelum... tapi tetap saya ngasih karena itu bentuk saya pengin bersyukur kepada Allah," tambahnya. Ia menyebut kurma, air zamzam, mukena, dan sajadah tetap harus dibagikan sebagai tanda kekeluargaan, bukan sekadar protokol formalitas.

Lebih jauh, Ustaz Marzuki membalik narasi umum tentang kemewatan umrah. Ia mempertanyakan prioritas umat: apakah lebih utama berangkat ke Tanah Suci atau menolong tetangga yang sedang kesulitan? Menurutnya, menolong sesama punya kedudukan jauh lebih mulia. Ia menceritakan kisah masa Nabi Muhammad SAW, di mana seseorang mendapat predikat haji mabrur tanpa pernah berangkat, karena seluruh tabungan berahun-tahunnya digunakan untuk pengobatan tetangga sakit parah.

Kisah serupa, menurut Ustaz Marzuki, masih terjadi di masa kini. Ia menyinggung kasus seorang suami yang wafat tenang di depan Ka'bah, sementara para pendamping bertanya amalan apa yang dilakukannya. Jawabannya sederhana: ketiadaan ibadah ritual pribadi, melainkan keikhlasan memberikan seluruh tabungan haji mereka untuk tetangga sakit. Keajaiban kematian yang didambakan itulah buah dari amalan sosial tersebut.

Analisis Redaksi

Pernyataan Ustaz Marzuki ini bukan sekadar retorika pengajian, melainkan kritik sosial yang tajam terhadap tren "show-off" keagamaan yang marak di media sosial. Dengan mendahulukan etika sosial di atas ritual individual, ia menggeser fokus publik dari konsumsi ibadah menjadi substansi interaksi manusia. Pesan ini relevan dalam konteks ekonomi di mana ibadah kini sering dikomersialkan melalui paket wisata religius yang mengutamakan gengsi.

Langkah logis ke depan adalah kesadaran jamaah untuk menyeimbangkan ibadah vertikal dengan kewajiban horizontal. Dalam ekosistem ekonomi syariah seperti yang ditawarkan CIMB Niaga Syariah di Islamic Travel Connect, edukasi tentang prioritas amal sosial seharusnya sejajar dengan promosi diskon. Tanpa itu, industri haji-umrah berisiko kehilangan ruh etika yang menjadi penguat spiritualitas ibadah itu sendiri.

Meow! Tanya Nesi!
😸