Paus Leo XIV Serukan Penghormatan kepada Migran di Paris Jelang Pemungutan Suara
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kunjungan Paus Leo XIV ke Prancis diwarnai seruan tegas untuk hidup bersama dalam martabat dan kedamaian, sebuah pesan yang ia sampaikan secara langsung kepada para migran di Paris pada Sabtu (26/9). Bertemu dengan komunitas di bawah naungan organisasi Maison Bakhita, Kepala Gereja Katolik Dunia tersebut menyatakan bahwa kehadirannya di kota kembar tersebut bertujuan membuktikan bahwa manusia dapat saling berinteraksi secara harmonis.
"Saya senang memulai hari kedua di Paris ini bersama Anda semua, di sebuah tempat yang menjadi saksi bagi seluruh kota bahwa kita bisa saling bertemu dan hidup bersama dalam martabat dan kedamaian," ujar Paus Leo XIV, sebagaimana dilaporkan AFP. Pertemuan ini melibatkan pria dan wanita dari latar belakang agama Kristen maupun Islam, serta datang dari berbagai negara seperti Aljazair, Belarus, Irak, dan Pantai Gading. Agenda ini menjadi pembuka sebelum ia memimpin misa akbar di kawasan ikonik Champs-Elysees.
Valerie Moniod, ketua Maison Bakhita, menekankan bahwa pertemuan ini memiliki dimensi politik yang kuat. "Paus datang untuk menyampaikan kepada rakyat Prancis bahwa apa pun keyakinan politik kita, kita memiliki kemanusiaan yang sama dan hak atas martabat," katanya. Pernyataan ini muncul di tengah persiapan Prancis menghadapi pemilihan umum, menjadikan kunjungan kepausan sebagai forum moral yang melampaui yurusan administratif.
Isu kemanusiaan juga disoroti terkait kebijakan global. Paus Leo XIV secara spesifik menyebut perlakuan terhadap migran di Amerika Serikat sebagai tindakan yang "sangat tidak hormat". Ia mendesak dunia untuk "mencari cara untuk memperlakukan orang secara manusiawi". Kritik ini menambah bobot kunjungan empat harinya di Prancis, yang bertepatan dengan momen sensitif politik nasional.
Agenda puncak kunjungan tersebut adalah misa akbar pada pukul 15.00 waktu setempat, yang akan dipimpin langsung oleh Paus. Perkiraan menunjukkan sekitar 600 ribu orang akan menghadiri acara yang berlokasi di Place de la Concorde dan sepanjang kawasan Champs-ΓlysΓ©es. Kehadiran beberapa tokoh politik, termasuk kandidat presiden Marine Le Pen dari sayap kanan dan Edouard Philippe dari haluan tengah, dijadwalkan hadir, meskipun Presiden Emmanuel Macron tidak akan mengikuti acara tersebut.
Analisis Redaksi
Langkah Paus Leo XIV untuk menyasar isu migrasi di Paris sebelum misa akbar besar merupakan strategi komunikasi yang efektif. Di tengah polarisasi politik Prancis yang tajam menjelang pemilihan umum, penekanan pada "kemanusiaan yang sama" berfungsi sebagai jangkar moral yang sulit dipungkiri oleh spektrum politik manapun, baik sayap kiri maupun kanan. Kehadiran kandidat seperti Marine Le Pen dan Edouard Philippe mengindikasikan bahwa otoritas spiritual Paus masih dianggap relevan dan berpengaruh dalam diskursus publik Prancis, terutama dalam hal hak asasi.
Kritik tajam terhadap kebijakan migrasi di Amerika Serikat yang disampaikan oleh Paus menunjukkan keberanian diplomatik Vatikan untuk menantang hegemoni kebijakan luar negeri sekutu terdekatnya. Hal ini menegaskan posisi Vatikan yang semakin independen dalam agenda kemanusiaan global. Bagi publik, fokus pada martabat migran di Eropa, yang sering menjadi target retorika kampanye populis, memberikan counter-narrative yang kuat. Ke depannya, dampak dari misa 600 ribu orang ini akan menjadi tolok ukur apakah pesan inklusivitas paus mampu meredam sentimen xenofobia di Prancis atau justru memicu reaksi balik dari kelompok konservatif yang menolak campur tangan asing dalam urusan domestik.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Diplomasi Beresiko: Iran Resmi Cap Militer Inggris sebagai Teroris, MI6 Labeli Musuh Negara

Teheran Pasang Tujuh Syarat Mutlak untuk Kembali ke Meja Perundingan dengan AS

Momen Canggung Raja Charles di Antigua: Kehujanan dan Mencari Payung di Parade Kemerdekaan
