Megawati Tabur Bunga di Makam Guruh, Rano Karno Ingatkan Pengorbanan Adik Bung Karno
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menandai perpisahan terakhir dengan adik kandungnya, Guruh Soekarnoputra, dengan menaburkan bunga beraneka warna di atas liang lahat mereka di TPU Karet Bivak, Jakarta, pada Sabtu (26/9).
Megawati yang mengenakan busana merah duduk tepat di samping makam, sebuah tindakan simbolis kedekatan persaudaraan yang langka terlihat di arena pemakaman. Seusai tanah di atas liang lahat tertutup rapat, ia langsung melempar kuntum-kuntum bunga ke atas tanah, disusul putrinya, Puan Maharani, yang melakukan hal serupa. Aksi ini menjadi puncak dari prosesi duka yang khusyuk tersebut.
Para pelayat yang hadir kompak mengenakan pakaian serba hitam, menciptakan suasana hening yang membaurkan unsur politik dan kesenian. Kehadiran massal ini menegaskan status Guruh bukan hanya sebagai figur keluarga Soekarno, tetapi juga sebagai ikon budaya nasional yang memengaruhi banyak generasi di Indonesia.
Wakil Gubernur DKI Jakarta sekaligus politikus PDIP, Rano Karno, hadir mewakili pihak keluarga. Ia menyampaikan bahwa kepergian Guruh merupakan kehilangan besar bagi bangsa, bukan sekadar duka keluarga. Rano menekankan bahwa Guruh adalah seniman besar dan maestro budaya yang mengabdikan hidupnya untuk seni.
"Keluarga besar PDI Perjuangan kehilangan seorang pejuang partai dan kaum Marhaenis kehilangan salah seorang yang sepanjang hidupnya tetap membawa keyakinan tentang keberpihakan kepada rakyat," ujar Rano Karno dalam pesan duka yang disampaikannya. Ia juga mewakili keluarga memohon maaf atas segala kekhilafan almarhum, meminta agar semua perbedaan dan kata yang pernah kurang berkenan dapat diikhlaskan.
Guruh Soekarnoputra, nama asli Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra, wafat di usia 73 tahun. Riwayat hidupnya mencerminkan perpaduan unik antara pendidikan formal dan ekspresi artistik. Ia menempuh pendidikan di Perguruan Cikini, SMA Negeri 25 Jakarta, dan kuliah Arkeologi di University of Amsterdam selama tiga tahun hingga 1974. Di usia dewasa, ia kembali ke akademisi untuk meraih gelar Sarjana Administrasi Publik di STIAMI pada 2005-2008, serta Magister Manajemen di bidang Manajemen Sumber Daya Manusia pada 2010.
Kontribusi Guruh di bidang seni sangat fundamental. Sebagai pendiri grup kesenian Swara Mahardika dan GSP Production, serta pelantun lagu-lagu legendaris seperti "Kala Sang Surya Tenggelam" dan "Lenggang Puspita", ia membentuk identitas musik populer Indonesia. Bergabung dengan PDI sejak 1982 dan kemudian menjadi anggota DPRD 1999-2024 dari Jawa Timur, Guruh menjembatani dua dunianya: panggung budaya dan parlemen.
Analisis Redaksi
Kehilangan Guruh Soekarnoputra menandai akhir dari sebuah era di mana dinamika politik keluarga Soekarno masih menjadi magnet publik. Upacara pemakaman yang dihadiri langsung oleh Megawati dan Puan Maharani menunjukkan bahwa ikatan batin di antara mereka tetap kuat, sebuah fondasi penting mengingat kompleksitas dinamika internal partai. Kehadiran Wagub Rano Karno menegaskan bahwa PDIP terus berupaya membalut kepergian ini dalam narasi pelayan publik dan seniman rakyat.
Warisan Guruh lebih luas daripada sekadar lirik lagu atau kursi parlemen. Ia adalah simbol keberanian menyuarakan kritik melalui seni, sebuah metode yang kini semakin sulit dilakukan di ruang publik. Pengabdiannya yang 40 tahun di politik tanpa pernah mengabaikan akar seninya memberikan pelajaran tentang keseimbangan nilai. Publik kini menunggu bagaimana PDIP akan meneruskan semangat Marhaenisme yang ditinggalkan gurunya melalui jalur kesenian atau pendidikan.
