Jenazah Guruh Soekarno Dilapisi Kain Ihram dan Batik Peninggalan Fatmawati
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Jenazah putra bungsu Presiden Soekarno, Guruh Soekarno Putra, akan dimakamkan dengan kain kafan yang dilapisi kain ihram sisa ibadah umrah terakhirnya serta dua lembar batik peninggalan ibundanya, Fatmawati. Pengumuman disampaikan oleh politikus PDIP Guntur Romli pada Sabtu (26/9), menegaskan bahwa almarhum telah menyiapkan sendiri tata cara peristihsan jenazahnya sebelum wafat. Detail ini menjadi sorotan utama di antara kabar duka lainnya terkait kepergian cucu pendiri bangsa tersebut.
Guntur Romli mengungkapkan, "Tadi kain kafan mas Guruh dilapisi pakai kain ihram dari ibadah umroh terakhir." Keterangan tersebut merujuk pada fakta bahwa Guruh memiliki keikhlasan dalam beribadah hingga akhir hayatnya, di mana kain ihram yang ia gunakan saat terakhir pergi umrah turut dibawa ke liang lahat. Praktik ini sesuai dengan kepercayaan dan adat yang dijunjung tinggi oleh keluarga Soekarno.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif ke-11, Sandiaga Uno, turut mengonfirmasi kesiapan Guruh dalam mempersiapkan pemakaman. "Beliau sepertinya sudah menyiapkan ya, kain-kainnya yang sudah akan digunakan, kain favorit dari Bu Fat (Fatmawati)," ujar Sandiaga. Penambahan ini menunjukkan ikatan emosional yang kuat antara Guruh dan sang ibu, di mana dua kain batik peninggalan Fatmawati akan menutupi jenazah di atas kain kafan dan ihram.
Guruh Soekarnoputra dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu, 26 September, setelah sempat dirawat intensif selama beberapa hari di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta. Kondisi kesehatannya sempat memburuk sehingga ia harus mendapat penanganan medis lanjutan. Keluarga dan banyak pihak menunggu kabar duka ini dengan penuh harapan, namun takdir berkata lain.
Prosesi pemakaman direncanakan berlangsung pada hari yang sama, Sabtu (26/9), di Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak. Lokasi pemakaman dipilih secara khusus, yaitu tepat di samping makam Fatmawati, ibunda almarhum. Pilihan lokasi ini mengemaskan makna silaturahmi abadi di antara ayah, ibu, dan anak yang kini bersatu dalam tanah, sekaligus mengakhiri perjalanan hidup Guruh yang banyak meninggalkan jejak di ranah politik dan hukum.
Analisis Redaksi
Penyesuaian kain kafan dengan kain ihram dan batik pribadi mendiang bukan sekadar ritual, melainkan manifestasi dari personalitas Guruh Soekarno sebagai manusia yang memegang teguh nilai keluarga dan keimanannya. Persiapan yang matang sebelum wafat, seperti yang disampaikan Sandiaga Uno, menunjukkan kematangan mental seorang senior dalam menghadapi kematian. Ini adalah pengingat bahwa di balik peran publiknya yang keras di meja sidang, Guruh menyisakan ruang privat yang sangat personal untuk urusan akhir hidupnya.
Pemakaman di samping makam Fatmawati memiliki simbolisme kultural yang kuat bagi publik. Bagi keluarga Soekarno, Karet Bivak bukan sekadar tempat fisik, tapi sakralisasi narasi historis Indonesia. Langkah logis selanjutnya dari keluarga dan publik adalah menghormati kehendak terakhir almarhum tanpa mempolitisasi proses peristihsan. Masyarakat akan terus mengikuti bagaimana jejak Guruh dalam sejarah hukum dan politik Indonesia beriringan dengan bagaimana kenangan pribadinya dirawat melalui tata cara pemakaman ini.
