Guruh Soekarnoputra Wafat di RS Siloam, PDIP Sempat Rawat Politisi Senior Ini
Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Guruh Soekarnoputra menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Siloam Semanggi, Jakarta, pada Sabtu (26/9). Politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu meninggal dunia dalam usia 73 tahun setelah menjalani perawatan medis intensif akibat sakit yang dideritanya dalam beberapa waktu terakhir.
Kabar kepergiannya dikonfirmasi oleh politisi PDIP, Cyril Raoul Hakim, yang membenarkan kabar tersebut. "Benar (beliau meninggal)," katanya singkat. Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang mengutip doa keislaman untuk almarhum Muhammad Guruh Irianto Soekarnoputra bin Sukarno.
Sebelumnya, Hasto menjelaskan bahwa Guruh, nama panggilan akrabnya, berpulang setelah mendapat penanganan di fasilitas kesehatan tersebut. Guruh lahir pada 13 Januari 1953 sebagai anak bungsu Presiden Soekarno dan Fatmawati. Ia dikenal luas tidak hanya sebagai tokoh politik yang menjabat sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari daerah pemilihan Jawa Timur periode 1999-2024, tetapi juga sebagai seniman yang karyanya abadi.
Jejak Guruh di dunia seni sangat dalam. Ia mendirikan grup kesenian Swara Mahardika dan GSP Production, serta bersama Keenan Nasution, Abadi Soesman, dan Chrisye, membentuk grup Guruh Gipsy dan Gank Pegangsaan. Lagu-lagu legendaris seperti Galih dan Ratna serta Melati Suci menjadi warisan budaya populer yang ia kembangkan selama puluhan tahun.
Di medan politik, Guruh bergabung dengan PDI sejak 1982 dan bertahan di PDIP hingga akhir hayatnya. Pendidikan terakhirnya diarahkan pada Ilmu Administrasi Negara di STIAMI dan Magister Manajemen pada 2010, meski latar belakang awalnya kuat di bidang arkeologi dari University of Amsterdam. Wafatnya Guruh menjadi kehilangan besar bagi lingkaran seni dan politik Indonesia.
Analisis Redaksi
Kepergian Guruh Soekarnoputra menandai berakhirnya satu era unik di mana figur inteligen seni dan politik tidak bisa dipisahkan. Sebagai putra Soekarno, ia mewarisi DNA nasionalisme yang kuat, namun ia memakainya dengan cara berbeda: melalui karya seni dan kebijakan administratif publik. Kehadirannya di DPR Jawa Timur selama bertahun-tahun menunjukkan komitmen politiknya yang nyata, bukan sekadar simpati dinasti.
Bagi PDIP, kehilangan tokoh senior yang telah berlabuh sejak era PDI 1982 tentu berimplikasi pada dinamika internal partai. Figur seperti Guruh yang merangkul basis seni tradisional, seperti Jawa, menjadi jembatan emosional yang sulit digantikan. Publik perlu menantikan bagaimana partai mewarisi dedikasi politiknya ke dalam agenda kebijakan sosial-budaya ke depan.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Konser Andrea Bocelli di Borobudur Sukses: 100 Ribu Sepatu untuk Palestina

Lap Dapur Bau Minyak? Ini Cara Membersihkannya agar Kembali Segar

Amitabh Bachchan Gunakan Kaca Antipeluru saat Sapa Penggemar Dampak Ancaman Bom
