Gempa Magnitudo 5 Guncang 52 km Barat Daya Ruteng, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
BUMI di wilayah Nusa Tenggara Timur bergetar akibat guncangan gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,0 pada Kamis, 26 September 2026, pukul 22:37 WIB. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episentrum gempa berada pada koordinat 8,34 derajat Lintang Selatan dan 120,45 derajat Bujur Timur, atau tepatnya 52 kilometer ke arah Barat Daya (NNW) dari Kabupaten Manggarai, tepatnya 52 km NNW of Ruteng, Indonesia. Lokasi tersebut berada di darat atau dekat pesisir dengan kedalaman hiposenter yang belum diperbarui dalam rilis awal, namun intensitas guncangan diperkirakan terasakan hingga skala Mercalli Intensity (MMI) IV-V, yaitu dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah, terasa seperti truk besar melintas, dan getaran terasa jelas di area yang lebih luas.
Dalam rilis terbaru, BMKG mengonfirmasi bahwa gempa tersebut berjenis gempa dangkal yang diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif di kawasan itu. Data pemodelan menunjukkan bahwa lokasi kejadian tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami, sehingga masyarakat pesisir di sekitar Pulau Flores dan wilayah NTT lainnya diminta untuk tetap tenang dan tidak panik. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan kerusakan bangunan atau korban jiwa dari dampak gempa tersebut, namun petugas di lapangan tengah melakukan pemantauan terhadap kemungkinan gempa susulan atau aktivitas seismik lain yang bersumber dari sesar yang sama.
Analisis Pakar Geofisika
Dari sudut pandang geofisika, gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,0 yang terjadi pada koordinat tersebut umumnya dikaitkan dengan aktivitas seismik pada zona sesar lokal atau sesar Flores yang masih aktif bergerak. Wilayah NTT dan sekitarnya memiliki struktur tektonik kompleks karena dipengaruhi oleh tumbukan lempeng tektonik besar Indonesia, namun pada skala regional yang lebih kecil, guncangan sering kali dipicu oleh sesar-sesar dalam (local faults) yang memindahkan energi secara periodik. Sejarah kegempaan di sekitar NTT menunjukkan adanya rentetan aktivitas tektonik pada rentang waktu pendek yang sering kali memicu rangkaian guncangan kecil hingga menengah, terutama pada malam hari atau dini hari ketika aktivitas masyarakat rendah sehingga tingkat kesadaran akan guncangan lebih tinggi. Sehubungan dengan potensi tsunami, gempa dengan magnitudo di bawah 7,0 yang berpusat di darat atau sangat dangkal jarang menghasilkan dislokasi dasar laut yang cukup untuk membangkitkan tsunami, sehingga tidak terdeteksi potensi ancaman signifikan. Namun demikian, masyarakat disarankan tetap mewaspadai gempa susulan, sebuah fenomena umum setelah gempa utama, yang mungkin akan terjadi dalam beberapa hari ke depan dengan intensitas yang lebih kecil. Pemantauan terus dilakukan oleh BMKG untuk memantau pergerakan sesar dan menginformasikan potensi peningkatan aktivitas seismik pada masyarakat NTT, sementara tim tanggap darurat di daerah guncangan tengah melakukan koordinasi untuk memastikan keamanan dan stabilitas struktur bangunan di wilayah yang terdampak.