Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

BMKG: Puncak Hujan Indonesia Terjadi Desember-Februari, Waspadai Lonjakan Curah Hujan

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: CNN Teknologi
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

BMKG: Puncak Hujan Indonesia Terjadi Desember-Februari, Waspadai Lonjakan Curah Hujan
BAGIKAN:

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi bahwa puncak musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan terjadi secara bertahap antara bulan Desember hingga Februari, mengikuti masuknya musim hujan yang dinilai terlambat pada November. Proyeksi ini menjadi sorotan utama karena ada jeda singkat antara awal musim hujan dengan puncaknya, yang memicu potensi lonjakan curah hujan signifikan dalam waktu singkat.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa secara umum, periode awal masuknya musim hujan dan puncak musim hujan terjadi secara berdekatan. Dalam konferensi pers daring pada Selasa (22/9), ia menekankan kebutuhan kewaspadaan bersama terhadap lonjakan cuaca. "Perlu kita waspadai bersama lonjakan musim hujan dan curah hujan yang terjadi pada musim hujan tahun ini, karena bisa menyebabkan dampak turunan seperti banjir dan longsor," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa intensitas hujan tidak hanya soal kuantitas, tetapi juga kecepatan turunnya air dalam satu periode.

Secara kuantitatif, data BMKG menunjukkan rincian penjangkauan wilayah berdasar zona iklim (ZOM). Pada Desember, 155 ZOM yang mewakili 39,64 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami puncak hujan. Angka ini turun menjadi 162 ZOM (25,68 persen) pada Januari, dan 190 ZOM (16,79 persen) pada Februari. Pola ini mengindikasikan bahwa intensitas hujan terberat akan menghantam kuartal pertama tahun tersebut, dengan dominasi wilayah pada bulan Desember.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menambahkan nuansa lain dalam proyeksi ini. Menurutnya, periode musim hujan kali ini relatif pendek, tetapi curah hujan yang turun cenderung lebih besar dan berada dalam kategori normal. "Periode musim hujan ini pendek, tetapi curah hujan umumnya lebih besar dan normal. Nah ini yang perlu diwaspadai, jadi nanti bisa saja hujan jatuh secara intens di bulan-bulan tersebut," paparnya. Jendela waktu yang sempit dengan volume air yang besar meningkatkan risiko genangan cepat di daerah-daerah yang sistem drainasenya tidak memadai.

Merujuk pada data historis, BMKG mengidentifikasi beberapa wilayah yang rawan bencana saat musim hujan, meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Papua, dan sebagian Maluku. Selain itu, BMKG mengingatkan agar masyarakat tetap waspada terhadap potensi kekeringan dan karhutla yang masih berpotensi terjadi pada periode September-Oktober. Sebagai langkah mitigasi, pemerintah daerah diimbau untuk mengoptimalkan sistem drainase dan mempersiapkan skema evakuasi untuk mengantisipasi banjir dan longsor sejak awal musim hujan.

Analisis Redaksi

Proyeksi BMKG ini menyajikan dinamika cuaca yang kompleks: musim hujan yang datang terlambat namun dengan intensitas tinggi dalam periode yang relatif singkat. Ini bukan sekadar masalah hujan deras, melainkan soal manajemen risiko bencana yang menuntut respons cepat. Jeda antara prediksi dan realisasi hujan di lapangan seringkali menjadi bumerang bagi daerah yang belum siap infrastruktur drainase atau memiliki riwayat longsor.

Yang perlu diwaspadai adalah potensi 'double impact' di mana masyarakat harus tetap waspada terhadap api pada akhir musim kemarau (September-Oktober), lalu segera beralih mode kewaspadaan banjir pada November-Desember. Transisi musiman yang cepat ini menuntut kesiapsiagaan yang tinggi dari pemerintah daerah, terutama di 8 wilayah rawan yang disebut BMKG. Langkah logis selanjutnya adalah percepatan pemetaan daerah rawan sebelum puncak hujan Desember benar-benar menghantam.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ