Araghchi: Iran Siap Buka Selat Hormuz dalam Sepekan Jika AS Sepakat

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Sumber: Antara News
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Araghchi: Iran Siap Buka Selat Hormuz dalam Sepekan Jika AS Sepakat
BAGIKAN:

Menlu Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Tehran siap membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu kurang dari satu minggu, dengan syarat Amerika Serikat menyetujui kesepakatan tertentu. Pernyataan ini disampaikan Araghchi dalam pidatunya pada pertemuan para kepala negara dan pemerintahan di Majelis Umum PBB. "Jika AS sepakat, kami bisa membuka Selat Hormuz dalam sepekan," ujar Araghchi dengan nada tegas.

Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan diplomatik yang memanas antara kedua negara. Selat Hormuz merupakan chokepoint vital bagi perdagangan minyak global, dengan sekitar seperlima dari minyak dunia melintasinya setiap hari. Ancaman penutupan selat ini sering kali digunakan Tehran sebagai kartu truf dalam negosiasi nuklir dan sanksi ekonomi.

Langkah ini juga merupakan respons terhadap dinamika politik global terkini. Sebagai negara anggota G20 dan aktor kunci di Timur Tengah, Iran berupaya menunjukkan bahwa mereka memiliki kendali penuh atas infrastruktur energi strategis di kawasan. Kemampuan membuka atau menutup selat secara sepihak menjadi leverage signifikan dalam percaturan geopolitik internasional.

Para pengamat keamanan kawasan menyoroti implikasi logistik dan militer dari pernyataan ini. Jika terjadi penutupan paksa, tidak hanya harga minyak yang akan melonjak drastis, tetapi juga pasokan energi untuk industri manufaktur di Asia dan Eropa akan terganggu. Stabilitas harga energi menjadi isu utama yang dikhawatirkan pasar finansial global.

Pernyataan Araghchi ini menandai eskalasi retorika diplomatik dalam hubungan bilateral Iran-AS. Di sisi lain, Tehran mengirim sinyal bahwa mereka masih terbuka untuk dialog jika ada jaminan konkret dari Washington. Respons dari Gedung Putih akan menjadi penentu berikutnya apakah ketegangan ini akan mereda atau justru memicu krisis energi baru di pasar internasional.

Analisis Redaksi

Penegasan kemampuan operasional di Selat Hormuz menunjukkan bahwa Iran mempertahankan kedaulatan strategisnya di kawasan Teluk. Dengan mengaitkan pembukaan selat langsung pada "kesepakatan" AS, Tehran mengubah tekanan ekonomi menjadi alat negosiasi diplomatik yang jelas. Ini bukan sekadar ancaman kosong, melainkan pernyataan kebijakan yang terukur dan siap dieksekusi jika syarat politiknya terpenuhi.

Yang perlu diwaspadai adalah kecepatan eksekusi yang diklaim, yakni "dalam sepekan". Jangka waktu sesingkat itu mengindikasikan kesiapan armada kapal selam dan rudal anti-kapal Iran telah berada dalam posisi siaga tempur. Ini adalah bentuk deterrence klasik: dengan menunjukkan kemampuan off-switch pada energi global, Tehran memaksa AS untuk serius dalam meja perundingan. Ketergantungan pasar global terhadap jalur ini membuat seluruh dunia menjadi penonton yang pasif dalam duel dua negara tersebut.

Secara logis, langkah selanjutnya bergantung pada apakah AS akan mengartikulasikan syarat "kesepakatan" yang dimaksud secara detail. Jika AS tetap berpegang pada sikap tegas tanpa kompromi, probabilitas peningkatan konflik di sektor maritim akan meningkat secara signifikan. Dunia mungkin akan melihat manuver militarisasi di Selat Hormuz lebih intensif, mengubah jalur pelayaran komersial menjadi zona bahaya tetap di peta geopolitik abad ke-21.

Meow! Tanya Nesi!
😸