Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Barongko Jadi Bintang Crossover Kuliner di Perhelatan Gastronomi France-Indonesia Makassar

HiburanNadia PutriNadia PutriSumber: Antara News
Nadia Putri
Nadia Putri
Editor Hiburan

Pengamat budaya pop dan tren media sosial yang tahu persis apa yang sedang viral.

Barongko Jadi Bintang Crossover Kuliner di Perhelatan Gastronomi France-Indonesia Makassar
BAGIKAN:

Alliance Française Makassar menggandeng mitra Prancis dan Indonesia untuk memunculkan Barongko, kue khas Bugis-Makassar, di panggung internasional melalui gelaran Rendez-Vous Rasa 2026. Acara bertajuk 'France-Indonesia Culinary Cross-Cultural' ini menempatkan kuliner lokal pada posisi yang sama dengan tradisi masak Eropa, sebuah langkah yang jarang terjadi di kancah diplomasi budaya.

Barongko, yang identik dengan aroma parut kelapa yang gurih dan rasa manis khas gula aren, menjadi pusat perhatian saat dipadukan dengan teknik pastry modern asal Prancis. Para pengunjung dan praktisi kuliner di Makassar menyaksikan bagaimana tekstur lembut kue tradisional tersebut mampu bertahan dengan penambahan elemen kreasi Barat. Kolaborasi ini bukan sekadar tumpukan bahan, melainkan upaya serius menunjukkan bahwa identitas rasa lokal memiliki kedalaman yang setara dengan kuliner fine dining Eropa.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda kuliner yang rutin diselenggarakan oleh Alliance Française sebagai jembatan komunikasi budaya antara kedua negara. Tahun 2026 menjadi momentum di mana kuliner dari Timur mulai mendapat panggung yang lebih luas dalam narasi gastronomi global. Dulu, perpaduan seperti ini mungkin dianggap anekdot di dapur rumah tangga atau pasar tradisional, bukan di ruang pameran seni dan budaya yang formal.

Dampak dari kehadiran Barongko dalam acara ini terlihat jelas pada antusiasme peserta yang penasaran dengan proses pembuatannya. Pengetahuan tentang bahan baku lokal yang selama ini dianggap sederhana, tiba-tiba dinilai sebagai aset budaya yang bernilai tinggi di mata internasional. Pengakuan ini berpotensi mengubah persepsi masyarakat luas tentang makanan pinggir piring, mengangkatnya menjadi simbol kebanggaan budaya yang bisa diekspor secara kultural.

Lebih dari sekadar santapan, peristiwa ini menggeser perspektif tentang siapa yang berhak mendefinisikan selera dunia. Dengan memfasilitasi dialog rasa antara dua peradaban yang sangat berbeda, kegiatan ini meletakkan standar baru bagi bagaimana makanan bisa menjadi bahasa diplomasi yang efektif. Di tengah kompetisi ketat industri wisata, penguatan narasi lokal di panggung global menjadi strategi yang lebih ampuh daripada sekadar promosi konvensional.

Analisis Redaksi

Langkah ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam diplomasi gastronomi. Selama ini, kuliner dari Asia Tenggara sering kali hanya dijadikan materi pelengkap atau eksotis di belahan dunia, namun bukan sebagai subjek utama dalam percakapan setara. Dengan menempatkan Barongko berdampingan dengan teknik Prancis, Alliance Française Makassar sedang menegaskan bahwa kekayaan rasa di Nusantara memiliki kompleksitas teknis yang pantas diperdebatkan di level internasional.

Apa yang perlu diwaspadai adalah agar acara serupa tidak berhenti menjadi sekadar panggung pamer eksklusif bagi komunitas kecil. Jika tren ini melanjut, ada peluang terbuka bagi ekonomi kreatif lokal untuk menyalurkan produk pangan ke pasar yang lebih luas, yang menuntut standardisasi kualitas tanpa kehilangan keaslian. Keberhasilan ini sangat bergantung pada bagaimana pelaku industri dan pemerintah daerah menyambut sinyal positif ini untuk pengembangan jangka panjang, bukan sekadar euforia sesaat di media sosial.

Meow! Tanya Nesi!
😸