Ubed Menangkan Duel Kritis, Indonesia Kalahkan China 3-2 Raih Emas Asia 2026
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Finalis badminton beregu putra badminton Indonesia menyudahi rekor tanpa emas di kancah Asia lewat kemenangan dramatis 3-2 atas China. Pukulan-pukulan terakhir Moh Zaki Ubaidillah di partai kelima menjadi penentu, mengunci kemenangan 23-21 dan 21-13 atas Weng Hongyang di Ichinoya City Municipal Gymnasium, Kamis (24/9).
Kabut pertandingan tidak langsung terangkat di gim pertama. Weng Hongyang membuka laga dengan agresif, mencetak empat poin beruntun untuk unggul 4-0. Ubaidillah, yang di panggil Ubed, sempat kesulitan merangkak mengejar. Smes yang melebar ke sisi kanan lapangan menjadi celah bagi lawan menjaga jarak skor 7-4. Namun, kecermatan Ubed mulai taji.
Turn poin terjadi setelah interval gim pertama. Skor 11-12 berubah setelah Ubed merebut empat angka beruntun. Pukulan lawan yang sering terburu-buru menjadi santapan mudah. Adu drive ketat di penutup gim pertama dimenangkan Ubed, memaksakan kemenangan meyakinkan 23-21. Momen tersebut mengubah dinamika psikologis tim.
Gim kedua berjalan dengan dominasi penuh bagi skuad Indonesia. Ubed memimpin 3-0 berkat kekeliruan berulang Weng dalam membaca arah bola. Medali emas semakin dekat saat interval menunjukan keunggulan 11-6. Smash melompat dan smes menyilang menjadi senjataan Ubed, membuat Weng jatuh bangun. Skor akhir 21-13 mengubur harapan China dalam 45 menit penentu.
Kemenangan ini bukan sekadar trofi, melainkan validasi atas performa kolektif. Di balik skor 3-2, tersimpan cerita tentang ketahanan mental tim yang mampu merebut dua gim penentu saat kondisi tertekan. Ubed membuktikan dirinya sebagai finisher yang dingin di saat-saat krusial.
Analisis Redaksi
Keberhasilan Indonesia merebut emas pertama di Asian Games 2026 ini menandai transisi penting bagi sektor ganda putra. Kemenangan atas China, yang selama ini menjadi batu sandungan utama, mengindikasikan bahwa tim tuan rumah sudah tidak lagi inferior. Pola permainan Ubed yang berani mengambil risiko tinggi di gim kedua menunjukkan kesiapan teknis dan mental yang matang dari pemain muda.
Perlu diwaspadai bahwa dominasi ini bergantung pada konsistensi pemain tunggal dan ganda. Jika performa Ubed stabil, Indonesia memiliki kedalaman skuat yang cukup untuk mempertahankan tradisi juara. Namun, tekanan untuk mempertahankan gelar akan langsung menghadang pada turnamen-turnamen besar berikutnya, di mana lawan akan lebih meneliti kelemahan teknis Indonesia di laga-laga ketat.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Judoka Muda Sashenka Persembahkan Medali Perunggu Historis bagi Indonesia di YOG Dakar

Sassuolo Terjun Bebas: Jay Idzes dkk Terancam Masuk Zona Degradasi usai Raih 1 Poin dari 6 Laga

Klasik PSMS vs Persija Pembuka: Duel Bersejarah Kembali di League Cup 2026/2027
