Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kemenangan Dramatis Badminton Beregu Putra Angkat Indonesia ke Posisi 16 Asian Games

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Kemenangan Dramatis Badminton Beregu Putra Angkat Indonesia ke Posisi 16 Asian Games
BAGIKAN:

Moh Zaki Ubaidillah menjadi penentu comeback dramatis tim badminton beregu putra Indonesia saat mengalahkan China 3-2 di final Asian Games 2026, Kamis (24/9). Kemenangan berbalik keadaan ini memastikan perolehan medali emas pertama bagi kontingen Merah Putih. Hasil ini sekaligus mengangkat posisi Indonesia ke peringkat ke-16 klasemen sementara, berhasil melewati tiga negara Asia Tenggara.

Duel puncak di sektor beregu putra berlangsung sengit hingga gim penentu. Sebelumnya, skor berkecamuk 2-2, memaksa Zaki turun ke lapangan sebagai pemain tunggal ketiga yang menentukan. Ia tampil tenang dan agresif di bawah tekanan, mengalahkan Weng Hongyang dari China dengan skor 23-21, 21-13. Poin-poin kritis di gim pertama yang dimenangkan Zaki menjadi lompatan kepercayaan diri bagi seluruh skuad.

Perolehan emas ini mengakhiri penantian panjang Indonesia di edisi Asian Games 2026. Sebelum laga final tersebut, Indonesia hanya mengoleksi medali perak dan perunggu. Kini, status tanpa emas berhasil dipecahkan. Total pundi-pundi medali Indonesia menjadi 20 keping, yang terdiri dari satu emas, empat perak, dan 15 perunggu. Jumlah ini cukup untuk mengubah dinamika persaingan di papan bawah tengah klasemen.

Lompatan ini menempatkan Indonesia di atas tiga negara tetangga: Myanmar, Vietnam, dan Singapura. Berdasarkan data klasemen yang tersedia, Indonesia (peringkat 16) kini memimpin Vietnam (peringkat 20) yang memiliki satu emas, satu perak, dan 14 perunggu. Di bawahnya, Singapura (peringkat 19) mencatatkan satu emas, tiga perak, dan dua perunggu. Myanmar di peringkat 22 hanya memiliki satu medali di setiap kategorinya. Sementara itu, Jepang tetap kokoh di posisi kedua dengan 20 emas, disusul Korea dan Kazakhstan di bawahnya.

Dampak dari perolehan ini tidak hanya soal angka, melainkan tentang moral tim. Badminton, yang selama ini menjadi andalan, berhasil membuktikan daya juangnya di fase final. Bagi publik, ini adalah sinyal bahwa kontribusi medali Indonesia belum berakhir. Sisa pertandingan di cabang lain masih menjadi harapan untuk menambah pundi-pundi emas dan mengangkat posisi Indonesia lebih tinggi lagi dari zona 16 klasemen tersebut.

Analisis Redaksi

Kemenangan 3-2 atas China adalah kemenangan yang lebih dari sekadar skor; ini adalah kemenangan psikologis. Mengalahkan tim dengan kedalaman skuad sedalam China menunjukkan bahwa regenerasi dan strategi rotasi Indonesia bekerja efektif di saat genting. Fakta bahwa Zaki Ubaidillah mampu menutup laga dengan skor deuce di gim pertama (23-21) menunjukkan kematangan mental atlet muda yang patut dipuji.

Dari sisi klasemen, kenaikan ke posisi 16 meski baru punya satu emas adalah lonjakan signifikan karena rasio perunggu Indonesia (15 keping) sangat besar. Perbandingan dengan Myanmar dan Vietnam yang juga 'kurus' di koleksi perunggu membuat posisi Indonesia masih rentan. Jika cabang lain gagal menambah emas di sisa hari-hari kompetisi, posisi 16 ini bisa kembali tergeser. Namun, satu emas lebih baik daripada nol. Ia membuka jalan bagi target minimal dua atau tiga emas di akhir turnamen.

Langkah logis berikutnya adalah fokus pada cabang-cabang yang memiliki potensi medali. Riset data menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan di sektor ganda dan tunggal badminton lainnya, serta cabang air dan angkat besi. Strategi 'serang total' perlu ditekankan di hari-hari krusial. Tim pelatih harus memastikan pemulihan fisik setelah laga final yang menguras tenaga, mengingat intensitas Asian Games yang padat. Kemenangan ini adalah fondasi; yang tersisa adalah membangun tembok pertahanan klasemen agar tidak turun kembali.

Meow! Tanya Nesi!
😸