Kebakaran Lahan TNGM Srumbung Meluas Lewati 30 Hektare, Api Dekati Puncak Merapi

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Sumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kebakaran Lahan TNGM Srumbung Meluas Lewati 30 Hektare, Api Dekati Puncak Merapi
BAGIKAN:

Kebakaran hutan di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Blok Gentong Resor Srumbung Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), telah menghanguskan lebih dari 30 hektare lahan. Insiden yang dimulai sejak Selasa (22/9) ini menunjukkan eskalasi signifikan hingga Kamis (24/9), dengan titik api kini hanya berjarak sekitar lima kilometer dari puncak gunung.

Kepala Balai TNGM Tutut Heri Wibowo menjelaskan bahwa estimasi luas dampak kebakaran kemungkinan melebihi angka 30 hektare. Faktor utama percepatan rambatan api adalah kondisi angin kencang yang membuat pemadaman menjadi tantangan tersendiri bagi tim gabungan di lapangan.

Pada hari pertama kejadian, api terpantau pada siang hari dan sempat berhasil dikendalikan hingga malam setelah membakar sekitar 18,5 hektare tanaman pinus dan perdu. Namun, situasi berubah drastis ketika petugas melakukan patroli rutin pada Rabu (23/9) pagi. Beberapa titik yang sebelumnya dianggap padam kembali menyala dan merambat cepat karena hembusan angin kuat.

Dugaan sementara penyebab kebakaran berasal dari ulah manusia. Api dilaporkan muncul dari kawasan bawah sebelum bergerak naik mengikuti arah angin. Meskipun demikian, Heri memastikan lokasi kebakaran masih jauh dari permukiman warga sehingga risiko langsung terhadap hunian penduduk relatif rendah saat ini.

Upaya penjinakan si jago merah terus berlangsung intensif melibatkan BPBD, Damkar Kabupaten Magelang, Polres Magelang, Polsek Srumbung, Koramil Srumbung, serta Masyarakat Peduli Api (MPA). Dua tangki air berkapasitas 5.000 liter dikerahkan oleh BPBD, didukung modifikasi tiga hingga empat truk milik warga untuk mobilisasi air ke titik api.

Analisis Redaksi

Melihat pola pergerakan api yang mendekat ke puncak dalam kurun waktu kurang dari 72 jam, kewaspadaan harus ditingkatkan meski belum ada ancaman langsung ke permukiman. Ketersediaan air yang cukup namun terkendala mobilisasi armada menyoroti pentingnya infrastruktur akses jalan darurat di kawasan konservasi pegunungan. Tanpa perbaikan logistik ini, efektivitas pemadaman akan selalu tertinggal dibandingkan kecepatan rambatan api di medan terjal.

Fakta bahwa dugaan awal menunjuk pada aktivitas manusia menuntut investigasi ketat pasca-pemadaman. Jika terbukti kelalaian atau kesengajaan, sanksi tegas perlu diterapkan agar terjadi efek jera. Musim kemarau yang diprediksi berlanjut meningkatkan probabilitas insiden serupa di masa depan, sehingga mitigasi berbasis komunitas melalui MPA harus diperkuat kapasitasnya, tidak hanya sebagai tenaga bantuan tetapi juga garda terdepan deteksi dini.

Meow! Tanya Nesi!
😸