Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Drama Pendek Buku Pelajaran China Tembus 130 Juta View, Jaga Sejarah Lewat Sinema

SelebritiAyu LestariAyu LestariSumber: CNN Selebriti
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Drama Pendek Buku Pelajaran China Tembus 130 Juta View, Jaga Sejarah Lewat Sinema
BAGIKAN:

Tim kreator Haojiahuo di China berhasil mengubah kisah legendaris dari buku pelajaran bahasa Mandarin menjadi serial drama pendek yang menembus 130 juta penayangan. Proyek ini mengadaptasi materi teks pelajaran sekolah dasar hingga menengah ke format video, menghidupkan kembali potongan sejarah dan sastra yang tadinya hanya dibaca di kelas. Data tersebut dilaporkan oleh Global Times pada Selasa (22/9), menandai lonjakan popularitas konten edukasi berbasis sinema di pasar Tiongkok.

Kemegahan proyek ini terlihat jelas pada produksi '1937 Nanjing', sebuah serial kolosal yang menyerap biaya hingga 1 juta yuan (Rp2,6 miliar). Persiapannya memakan waktu hampir satu tahun dengan revisi naskah lebih dari 30 kali. Tekanan kualitas memaksa tim membangun set darurat di ruang bawah tanah untuk merekreat atmosfir peperangan secara realistis. Langkah ekstrem ini mengubah narasi sejarah yang kaku menjadi visual yang imersif bagi penonton muda.

Perjalanan menuju sukses itu nyaris berakhir di tahun 2024 saat tim hanya beranggotakan empat orang. Saat memproduksi 'Kong Yiji', mereka harus meminjam alat pencahayaan dan melibatkan warga desa sebagai figuran. Video perdana itu dibanjiri kritik tajam soal akting dan sinematografi, ditambah anggaran 20 ribu yuan yang ludes. Di titik itu, tim berada di ambang pembubaran. Titik balik datang ketika seorang guru mengabari muridnya yang malas belajar menangis histeris setelah menonton adaptasi 'Monument' tentang Long March.

'Saat itulah saya menyadari kami tidak sekadar membuat video. Kami melakukan sesuatu yang jauh lebih bermakna,' ujar Zhang, perwakilan tim. Sejak insiden emosional itu, Haojiahuo mendalami riset sejarah dan teknik sinematografi. Mereka bahkan menambahkan adegan interogasi dan latar belakang Politik Pemberontakan Guangzhou ke dalam 'A Letter to My Wife', melampaui isi buku teks. Pendekatan ini bertujuan memberikan pemahaman utuh, bukan sekadar ringkasan. Meskipun tekanan finansial sempat membuat produksi berhenti dua bulan pada akhir 2025 karena biaya rata-rata 100 ribu yuan per episode, tim bertahan di tengah godaan beralih ke drama modern yang lebih komersial.

Perubahan arah ini dipaksakan oleh gelombang pesan dari guru, orang tua, dan siswa yang menanyakan kapan mereka kembali. Kini, dengan sembilan anggota, tim menolak penggunaan teknologi AI dan memilih pemeran manusia serta lokasi syuting nyata. Mereka berargumen bahwa kontak mata dan detak jantung hanya bisa tertangkap lewat rekaman manusia. Pakar kebudayaan Wang Deyan menilai inovasi ini membuka pintu baru, namun mengingatkan agar konteks sejarah tidak dikorbankan demi angka view. 'Audiens tidak perlu mengingat nama kami. Selama mereka mengingat sejarahnya, itu cukup,' tutup Zhang.

Analisis Redaksi

Fenomena ini menandai pergeseran paradigma dalam konsumsi sejarah di Tiongkok. Dari pasif membaca teks, generasi muda kini aktif membedah emosi lewat sinema. Ini adalah respons alami terhadap dominasi format video pendek di media sosial. Namun, keberhasilan 130 juta penayangan bukan tanpa risiko. Ada bahaya komodifikasi memori kolektif jika narasi sejarah direduksi hanya untuk mengejar viralitas tanpa kedalaman analisis.

Keputusan tim untuk menolak teknologi AI dan kembali ke produksi berbasis manusia adalah langkah strategis yang cerdas. Dalam era di mana konten sintetis meluap, keautentikan emosi menjadi nilai jual tertinggi. Model bisnis mereka menunjukkan bahwa investasi pada riset dan etika produksi bisa menghasilkan dampak edukasi yang jauh lebih luas daripada konten hiburan dangkal. Langkah berikutnya harus diawasi: apakah mereka mampu menjaga standar kualitas saat memperluas portofolio ke kisah seperti Bethune dan The Lily, atau justru akan terjebak dalam ekspansi yang mengorbankan integritas narasi.

Meow! Tanya Nesi!
😸