Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Voli Putri Indonesia Finis Keenam di Asian Games 2026, Perbaiki Rekor Jakarta-Palembang

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Voli Putri Indonesia Finis Keenam di Asian Games 2026, Perbaiki Rekor Jakarta-Palembang
BAGIKAN:

Timnas voli putri Indonesia menutup perjalanan di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dengan menempati peringkat keenam setelah menelan kekalahan 0-3 dari Taiwan dalam laga perebutan posisi kelima, Selasa (22/9). Hasil ini mengukuhkan peningkatan satu strip dibanding pencapaian terakhir pada edisi 2018 di Jakarta-Palembang ketika skuad Merah Putih finis di urutan ketujuh.

Langkah Ersandrina Devega dan kawan-kawan di Aichi-Nagoya tidak langsung mulus sejak peluit pertama dibunyikan. Indonesia membuka fase grup dengan kemenangan meyakinkan 3-0 atas Nepal, sebelum harus mengakui kedigdayaan tuan rumah Jepang lewat skor 1-3. Kekalahan tersebut memaksa Indonesia melanjutkan perjuangan ke fase perebutan posisi setelah babak utama.

Ujian sesungguhnya datang di perempat final. Thailand membungkam Indonesia 3-0 tanpa ampun. Tim Gajah Putih itu memang salah satu kekuatan utama voli putri Asia yang levelnya masih berada satu-dua tingkat di atas kita. Meski gagal melaju ke perebutan medali, peluang memperbaiki peringkat akhir tetap terbuka lebar melalui jalur klasifikasi.

Peluang itu langsung dieksekusi dengan presisi tinggi. Pada pertandingan perebutan posisi kelima hingga kedelapan, Senin (21/9), Indonesia menghajar Vietnam 3-0. Tiga set diselesaikan dengan skor 25-20, 25-21, dan 25-18. Kemenangan telak ini mengantarkan tiket untuk berhadapan dengan Taiwan di partai penentuan posisi kelima.

Namun Taiwan tampil lebih solid saat hari penentuan tiba. Mereka menang 3-0 dan membuat Srikandi Merah Putih harus puas menutup turnamen di posisi keenam. Secara historis, catatan ini merupakan salah satu pencapaian terbaik Indonesia. Puncak prestasi terjadi pada 1962 ketika tim meraih medali perunggu. Setelah itu, Indonesia finis ketujuh pada 1970 dan kelima pada 1986. Menariknya, antara 1986 hingga 2018, Indonesia sama sekali tidak berpartisipasi pada edisi lainnya sebelum kembali tampil sebagai tuan rumah delapan tahun lalu—kala itu menutup turnamen dengan kemenangan 3-1 atas Filipina di perebutan tempat ketujuh.

Pengurus Besar Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) merespons hasil akhir ini lewat unggahan media sosial resmi mereka. "Terima kasih untuk segala usaha dan perjuangan yang telah diberikan. Tetap tegak, Srikandi," tulis PBVSI. Apresiasi tersebut menjadi penutup manis bagi kampanye tim yang berhasil membawa nama bangsa kembali masuk enam besar Asian Games.

Analisis Redaksi

Kenaikan satu peringkat dari ketujuh menjadi keenam mungkin terdengar marginal di atas kertas. Tetapi bagi cabang olahraga yang sempat vakum selama 32 tahun dari panggung Asian Games (1986-2018), konsistensi berada di zona atas adalah indikator bahwa program pembinaan mulai menemukan arahnya. Posisi keenam ini membuktikan bahwa fondasi yang dibangun sejak menjadi tuan rumah 2018 tidak runtuh begitu saja saat bertanding di luar negeri.

Yang perlu diwaspadai adalah jurang kualitas saat menghadapi tim elit benua. Kekalahan 0-3 dari Thailand di perempat final dan skor identik melawan Taiwan di partai kelima menunjukkan masalah klasik: daya tahan mental dan taktik saat menghadapi tekanan tinggi belum merata. Menang mudah atas Nepal dan Vietnam adalah kewajiban. Namun menembus empat besar menuntut lompatan teknis yang jauh lebih radikal, terutama dalam hal servis agresif dan pertahanan blok.

Secara logis, langkah selanjutnya bagi PBVSI adalah mempertahankan kerangka tim inti yang berlaga di Aichi-Nagoya sambil menyuntikkan darah muda dari kompetisi liga domestik. Jeda menuju Asian Games berikutnya harus diisi dengan lebih banyak uji coba internasional melawan tim-tim papan atas Asia, bukan sekadar turnamen regional. Tanpa jam terbang melawan lawan sekelas Thailand atau Jepang, posisi keenam akan menjadi langit-langit yang sulit ditembus oleh Ersandrina Devega dan generasi penerusnya.

Meow! Tanya Nesi!
😸