Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Tijjani Reijnders Jujur: Pindah ke Al Qadsiah Demi Jaminan Finansial Keluarga

OlahragaDimas PratamaDimas PratamaSumber: CNN Olahraga
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Tijjani Reijnders Jujur: Pindah ke Al Qadsiah Demi Jaminan Finansial Keluarga
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Tijjani Reijnders akhirnya angkat bicara soal motif sebenarnya di balik kepindahan kontroversialnya dari Manchester City ke Al Qadsiah.
  • Gelandang asal Belanda berusia 28 tahun itu mengakui secara blak-blakan bahwa faktor finansial menjadi alasan utama ia meninggalkan panggung sepak bola Eropa yang bergengsi.
  • Reijnders bergabung dengan klub Arab Saudi tersebut pada bursa transfer musim panas 2026, hanya satu musim setelah memperkuat Man City.

Tijjani Reijnders akhirnya angkat bicara soal motif sebenarnya di balik kepindahan kontroversialnya dari Manchester City ke Al Qadsiah. Gelandang asal Belanda berusia 28 tahun itu mengakui secara blak-blakan bahwa faktor finansial menjadi alasan utama ia meninggalkan panggung sepak bola Eropa yang bergengsi.

Reijnders bergabung dengan klub Arab Saudi tersebut pada bursa transfer musim panas 2026, hanya satu musim setelah memperkuat Man City. Nilai transfernya mencapai £52 juta atau sekitar Rp1,23 triliun. Lebih mencolok lagi, kontrak berdurasi lima tahun yang ditandatanganinya dilaporkan bernilai total hingga £86 juta atau setara Rp2,1 triliun.

Dalam wawancara terbarunya dikutip dari Daily Mail, Reijnders tidak menutup-nutupi perhitungannya. Ia menyatakan keinginan kuat untuk memastikan kondisi finansial keluarganya tetap aman pasca-pensiun. "Dengan menandatangani kontrak ini, aku bisa memastikan bahkan cucu-cucuku pun terjamin secara finansial, jadi mengapa aku tidak melakukannya?" ujarnya lugas.

Pernyataan jujur ini kontras dengan narasi awal yang dibangun saat ia pertama kali mendarat di Riyadh pada Agustus lalu. Kala itu, Reijnders lebih memilih menonjolkan ambisi olahraga, menyebut proyek jangka panjang Al Qadsiah sebagai salah satu klub terbesar di Asia sangat menginspirasinya. Ia mengklaim ingin membantu klub meraih trofi bersama rekan-rekannya seperti Nacho Fernandez dan Mateo Retegui.

Kenyataan di lapangan menunjukkan performa impresif sejauh ini. Baru sebulan membela panji Al Qadsiah, eks bintang AC Milan itu sudah mencetak tiga gol dari lima pertandingan di Saudi Pro League. Klub asuhannya kini bertengger di posisi keempat klasemen liga domestik dan juga berkompetisi di AFC Champions League, meski belum memiliki deretan nama besar semewah rival-rival tetangganya.

Analisis Redaksi

Jujur saja, pengakuan Tijjani Reijnders adalah angin segar di tengah budaya media sosial yang sering memaksakan narasi romantis tentang loyalitas dan mimpi. Dalam dua dekade meliput sepak bola, jarang ada pemain top yang berani memecahkan ilusi 'passion' dengan fakta ekonomi sedemikian telanjang. Ini bukan sekadar soal keserakahan, melainkan realisme brutal seorang atlet profesional yang sadar karier mereka singkat dan risiko cedera selalu mengintai.

Langkah ini menegaskan tren global di mana uang Arab Saudi tidak lagi hanya membeli masa depan tim, tetapi juga membeli ketenangan pikiran individu bagi para pemain elite. Bagi publik Indonesia, kasus ini menjadi cerminan menarik tentang bagaimana nilai-nilai tradisional mengenai 'harga diri' berbenturan dengan pragmatisme modern dalam industri hiburan global. Kita harus waspada terhadap potensi gesekan moral jika semakin banyak bintang muda memilih jalan pintas finansial sebelum puncak karier mereka benar-benar teruji di level tertinggi Eropa.

Meow! Tanya Nesi!
😸