Ratusan Warga AS Demo di Markas PBB, Desak Ganti Rezim Iran
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ratusan warga Amerika Serikat menggelar aksi demonstrasi menuntut perubahan rezim di depan markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada Selasa (22/9). Aksi ini berlangsung bersamaan dengan dimulainya Sidang Majelis Umum PBB, menciptakan kontras tajam antara diplomasi internasional dan tekanan jalanan terhadap kepemimpinan Iran.
Para pengunjuk rasa membawa bendera Dewan Nasional Perlawanan Iran (NCRI), sebuah koalisi politik oposisi terbesar Iran yang beroperasi dari pengasingan. Selain simbol organisasi tersebut, massa juga membentangkan foto Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran. Kehadiran simbol-simbol monarki dan oposisi terorganisir ini menegaskan agenda politik spesifik mereka dalam menolak pemerintahan saat ini di Teheran.
Ketua terpilih NCRI, Maryam Rajavi, menyatakan kemarahannya atas kehadiran Presiden Masoud Pezeshkian di forum dunia tersebut. Ia menilai bahwa selama struktur kekuasaan lama masih berdiri, pelanggaran hak asasi manusia tidak akan berhenti. "Selama rezim masih memegang kekuasaan, represi, eksekusi, terorisme, provokasi perang akan terus berlanjut," ujar Rajavi melalui pernyataan resminya.
Rajavi menekankan bahwa solusi satu-satunya adalah pergantian rezim oleh rakyat Iran sendiri melalui perlawanan yang terstruktur. Pernyataan ini didukung data PBB yang mencatat adanya 56 eksekusi gantung di Iran sejak Maret atas tuduhan keamanan nasional. Lebih dari 100 orang lainnya dilaporkan sedang menghadapi ancaman hukuman mati, menambah urgensi bagi kelompok oposisi untuk menarik perhatian komunitas internasional.
Majid Sadeghpour, anggota Organisasi Komunitas Amerika-Iran, turut menyuarakan sentimen serupa kepada media CBS. Ia menegaskan penolakannya terhadap intervensi militer asing sebagai jalan keluar. "Rezim ini tak akan berubah, juga tak akan digulingkan dengan intervensi asing," kata Sadeghpour. Ia mengajak masyarakat global untuk mendukung warga Iran dan oposisi terorganisir mereka guna melengserkan penguasa saat ini.
Analisis Redaksi
Demonstrasi ini bukan sekadar ekspresi ketidakpuasan lokal, melainkan bagian dari strategi geopolitik yang lebih luas. Seruan mengganti rezim telah menjadi narasi konsisten yang digaungkan oleh Amerika Serikat dan Israel, terutama setelah ketegangan memuncak akibat serangan udara terhadap fasilitas strategis Iran pada akhir Februari lalu. Kehadiran delegasi Iran di PBB justru dimanfaatkan oleh lawan-lawan politiknya untuk mendomestikasi konflik internal ke panggung global, mencoba mengisolasi legitimasi pemerintah Teheran di mata diplomat Barat.
Yang perlu diwaspadai adalah potensi eskalasi retorika menjelang pidato Presiden Masoud Pezeshkian pada hari Rabu. Jika respons resmi dari Washington atau Tel Aviv semakin agresif menyusul tekanan publik ini, ruang negosiasi diplomatik bisa menyempit drastis. Langkah logis berikutnya mungkin berupa peningkatan sanksi ekonomi tambahan atau dukungan terselubung bagi jaringan oposisi, yang berisiko memperdalam isolasi Iran dan memicu reaksi balasan yang lebih destabilisasi di kawasan Timur Tengah.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
